RELIGION IN THE SHIFTING FROM MODERN TO ORGANIC AGRICULTURE IN JAVA INDONESIA Muslim and Catholic Organic Paddy Farmers
F YOHANA SRI W, Prof. Dr Heddy Shri Ahimsa Putra; Dr. Zainal Abidin Bagir; Prof. Dr. Michael Northcott
2026 | Disertasi | DOKTOR INTER-RELIGIOUS STUDIES
Sejak era Orde Baru, pembangunan pertanian Indonesia mengadopsi model pembangunan berbasis Revolui Hijau. Revolusi Hijau adalah paket teknologi pertanian yang terdiri dari benih unggul, pupuk dan pestisida kimia, irigasi, dan ekstensifikasi. Tujuan utama pembangunan pertanian pada masa Orde Baru adalah meningkatkan produksi, khususnya padi, dan menghasilkan keuntungan ekonomi. Dengan berfokus pada produksi padi, maka beberapa makanan pokok lainnya seperti umbi-umbian, sagu, dan jagung mulai ditinggalkan. Revolusi Hijau mengubah pertanian subsisten menjadi pertanian yang berorientasi pasar. Untuk mencapai tujuan tersebut, pembangunan pertanian mengadopsi pandangan dunia antroposentris, yang menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan. Pandangan ini telah menyebabkan berbagai krisis sosial, budaya, dan lingkungan. Dalam rangka mengatasi krisis tersebut, beberapa petani konvensional beralih ke praktik pertanian organik. Mengapa mereka bergeser ke pertanian organik? Unsur-unsur agama apa saja yang memengaruhi pergeseran tersebut? Riset ini berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Meskipun makanan menempati peran sentral dalam agama, terbukti dari banyaknya regulasi agama terkait pangan, penelitian yang membahas hubungan antara pertanian, alam, dan agama masih terbatas. Di bidang akedemik, studi ini signifikan mengingat kelangkaan tersebut. Studi ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang melibatkan sepuluh petani padi organik, terdiri dari lima petani muslim dan lima petani Katolik. Lokasi penelitian berada di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi pada Mei 2022 hingga Oktober 2024, dan Maret 2025. Penelitian ini menerapkan paradigma konstruktivisme. Data dianalisis dengan menggunakan konsep agama dalam kehidupan sehari-hari (everyday religion atau lived religion) dan agrarianisme. Studi ini menemukan bahwa alasan informan beralih ke pertanian organik adalah ekonomi, kesehatan, kerusakan lingkungan, dan agama. Selain ajaran agama Islam dan Kristen, Kejawen juga membentuk praktik pertanian para informan. Bagi para informan, pertanian organik tidak hanya dipahami sebagai praktik pertanian, tetapi juga dihayati sebagai cara hidup. Dengan mengadopsi pertanian organik sebagai cara hidup, para informan muslim dan Katolik berbagi nilai, simbol, dan praktik pertanian yang serupa. Karena unsur-unsur yang sama ini, penelitian ini mengusulkan bahwa pertanian organik bisa dipandang sebagai Agama Petani . Usulan ini terinspirasi dari konsep Civil religion/Agama Publik yang digagas oleh Robert Bellah. Sebagai agama yang dianut bersama, agama ini dapat menjadi alat pemersatu bagi para informan yang memiliki latar belakang beragam.
Kata kunci: Revolusi Hijau, agroekologi, agrarianisme, ritual pertanian, kedaulatan petani.
Since the New Order era, Indonesian agricultural development has been driven by technology, industry, and economy, fueled by the Green Revolution. The Green Revolution is a technological package consisting of high-yielding seeds, chemical fertilizers and pesticides, irrigation, and extensification. The main goal of agricultural development is to increase production, particularly rice, and profits. Focusing on rice production has eliminated other staple foods such as roots, sago, and corn. The Green Revolution has shifted farmers from subsistence to market-oriented farmers. To achieve these goals, agricultural development adopts an anthropocentric worldview, placing humans at the centre of development. This model has led to various social, cultural, and environmental crises. To address these crises some conventional farmers have shifted to organic agricultural practices. Why do they shift their agricultural practices from conventional to organic agriculture? And what religious elements influence their shifting? This study addresses those questions. This study is significant in the academic field because research addressing the relationship between agriculture, nature, and religion remains limited, despite the significance of food in religion. This study utilizes qualitative research methods involving ten organic paddy farmers, comprising five Muslim and five Catholic participants, located in the provinces of Yogyakarta and Central Java. Data were collected through in-depth interviews and observations conducted from May 2022 to October 2024, with additional insights gathered in March 2025. The data are analyzed through the concepts of lived religion and agrarianism, employing a constructivist paradigm. This study finds that the informants reasons for shifting to organic farming include economic factors, health concerns, environmental degradation, and religious motivations. Religious elements are expressed through narratives, symbols, and practices. In addition to Islamic and Christianity teachings, Javanese traditions also shape the informants agricultural practices. For the informants, organic agriculture is not only a farming practice but also a way of life. By adopting organic agriculture as a way of life, the participants share similar religious values, symbols, and practices. Due to these shared elements, this study suggests that organic agriculture can be considered as Farmer Religion. As a shared religion, it may play a role as a unifying instrument for the informants regardless of their religious background.
Key words: Green Revolution, agroecology, agrarianism, agricultural ritual, sovereignty
Kata Kunci : Green Revolution, agroecology, agrarianism, agricultural ritual, sovereignty