Evaluasi Pembiayaan Kompensasi Pengiriman Tenaga Kesehatan Pada Daerah Belum Tersedia Fasilitas Kesehatan Memenuhi Syarat (DBTFMS) Dalam Meningkatkan Akses Layanan Peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Provinsi Papua Selatan
Frizky Arlind, Prof. dr. Laksono Trisnantoro, M.Sc, Ph.D ; Dr. dr. Andreasta Meliala, Dipl.PH, M.Kes., MAH
2026 | Tesis | MAGISTER KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN
Latar
Belakang
Program
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menjamin akses pelayanan kesehatan bagi
seluruh peserta. Salah satu kebijakan untuk daerah sulit akses adalah pemberian
kompensasi pada Daerah Belum Tersedia Fasilitas Kesehatan Memenuhi Syarat
(DBTFMS), termasuk pengiriman tenaga kesehatan. Provinsi Papua Selatan
merupakan daerah otonomi baru dengan keterbatasan fasilitas dan tenaga
kesehatan, sehingga BPJS Kesehatan menerapkan kompensasi pengiriman tenaga
kesehatan ke Puskesmas Ilwayab. Penelitian ini mengevaluasi implementasi
pembiayaan kompensasi tersebut dan dampaknya terhadap akses layanan.
Metode
Penelitian menggunakan desain deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Data diperoleh melalui telaah dokumen kebijakan, analisis data sekunder
(Visit Rate, Angka Kontak, Rasio Rujukan tahun 2023–2024), dan wawancara
informan kunci (BPJS, Dinas Kesehatan, Puskesmas). Analisis dilakukan secara
naratif dengan triangulasi dokumen, data, dan wawancara.
Hasil
Pelaksanaan kompensasi pengiriman tenaga kesehatan di Puskesmas Ilwayab sesuai
ketentuan regulasi (jenis kompensasi, komposisi tim, durasi, frekuensi,
komponen biaya). Indikator akses meningkat: Visit Rate naik dari 126,68‰
(praimplementasi) menjadi 141,46‰ (fase pengiriman) dan 153,63‰ (pasca
pengiriman); Angka Kontak naik dari 111,20‰ menjadi 132,65‰ dan 142,34‰. Rasio
Rujukan menurun pasca pengiriman, menunjukkan perbaikan resolusi kasus di FKTP.
Kebijakan daerah muncul melalui penempatan tenaga kesehatan permanen dan
penguatan sarana prasarana.
Kesimpulan
Kompensasi pengiriman tenaga kesehatan efektif meningkatkan akses layanan
primer di wilayah DBTFMS dan mendorong kebijakan daerah untuk keberlanjutan
layanan. Disarankan penyesuaian komponen biaya transportasi, penguatan monev
berbasis indikator, dan integrasi data untuk efisiensi dan keberlanjutan
program.
Background
The National Health Insurance (JKN) program aims to ensure equitable access to
health services for all participants. One policy for remote areas is the
provision of compensation in regions classified as Areas Without Adequate
Health Facilities (DBTFMS), including the deployment of health workers. South
Papua Province, a newly established autonomous region, faces significant
challenges in health infrastructure and workforce availability. To address
this, BPJS Kesehatan implemented a compensation scheme to deploy health workers
to Uli Uli Village by Ilwayab Primary Health Care (PHC) Center. This study
evaluates the implementation of this financing mechanism and its impact on
service accessibility.
Methods
This research employed a descriptive qualitative design with a case study
approach. Data were collected through document review, secondary data analysis
(Visit Rate, Contact Rate, Referral Ratio for 2023–2024), and in-depth
interviews with key informants (BPJS, District Health Office, and Ilwayab PHC
Center). Analysis was conducted narratively using triangulation of documents,
quantitative indicators, and interviews.
Results
The implementation of health worker deployment compensation complied with
regulatory standards (type of compensation, team composition, duration,
frequency, and financing components). Accessibility indicators improved: Visit
Rate increased from 126.68‰ (pre-implementation) to 141.46‰ (during deployment)
and 153.63‰ (post-deployment); Contact Rate rose from 111.20‰ to 132.65‰ and
142.34‰. Referral Ratio decreased after deployment, indicating improved primary
care resolution. Local policy feedback included permanent placement of health
workers and infrastructure strengthening.
Conclusion
The compensation scheme for health worker deployment effectively enhanced
access to primary health services in DBTFMS areas and stimulated local policy
initiatives for service continuity. Recommendations include adjusting
transportation cost components, strengthening monitoring based on utilization
indicators, and improving data integration for efficiency and sustainability.
Kata Kunci : DBTFMS, kompensasi pengiriman tenaga kesehatan, JKN, akses layanan, Papua Selatan.