Hiperuricemia Pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe II (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus /NIDDM) Di Bangsal Unit Penyakit Dalam RSUP DR. Sardjito Antara Tahun 1995-1997
Mangihut Rumiris Manullang, dr. Paulus Wiyono, DSPD,Ph.D.; dr. Indwiani Astuti, DSFK, Ph.D.
1998 | Skripsi | S1 KEDOKTERANHiperuricemia dan DM tipe II merupakan dua keadaan gangguan metabolisme yang relative sering ditemukan di banyak negara dan terus menjadi masalah penting dalam perawatan medis. Hiperuricemia dapat terjadi sebagai akibat dari komplikasi yang ditimbulkan oleh DM tipe II atau terjadi bersamaan dengan penyakit tersebut oleh karena faktor-faktor lain. Untuk mengetahui prevalensi hiperuircemia pada penderita DM tipe II yang dirawat di bangsal Unit Penyakit Dalam RSUP Dr. Sardjito antara tahun 1995-1997 serta faktor-faktor apa saja yang mungkin berpengaruh terhadap terjadinya hiperuricemia pada penderita DM tersebut, telah dilakukan penelitian secara deskriptif retrospektif. Penelitian dilakukan di Unit Rekam Medis RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta dengan menelusuri catatan medik penderita DM tipe II yang menunjukkan gejala laboratorium kadar asam urat dalam serum yang meningkat (hiperuricemia). Data yang dikumpulkan menunjukkan hasil bahwa dari 604 kasus penderita DM tipe II, diperoleh 134 kasus (22,18%) penderita hiperuricemia, yang terdiri dari 85 orang pria dan 49 orang wanita (perbandingan pria : wanita = 1,73 :1). Dari 134 penderita hyperuricemia tersebut diperoleh 11 kasus (8,21%) penderita berbadan gemuk (obese) dan 123 kasus (91,79%) yang tidak berbadan gemuk (non obese). Penderita DM tipe II yang terbanyak menderita Hiperuricemia adalh pada kelompok umur 51-55 tahun dan 61-65 tahun, yang masing-masing berjumlah 24 orang (17,91%), penderita termuda berada pada kelompok umur 31-35 tahun berjumlah 3 orang (2,23%) dan penderita tertua pada kelompok umur 76-80 tahun berjumlah 2 orang (1,49). Penyakit yang paling sering menyertai DM tipe II adalah penyakit yang disebabkan oleh kelainan pada ginjal sebanyak 71 kasus (52, 98%) diikuti dekompensasi kordis 19 kasus (14,17%), ulcus diabetika sebanyak 13 kasus (9,7%), dan lain-lain, serta frekwensi terbanyak hiperuricemia dialami oleh penderita yang mengidap DM tipe II selama 1-5 tahun berjumlah 43 orang (32,09%) dan frekwensi terkecil adalah pada penderita yang mengidap DM tipe II <1 tahun berjumlah 5 kasus (3,73%). Oleh karena penelitian ini hanya berdasarkan data sekunder yang kadang datanya kurang lengkap, maka dibutuhkan penelitian lebih lanjut dengan metode atau cara yang lebih baik agar dapat diperoleh hasil yang benar-benar akurat.
Kata Kunci : Hiperuricemia, diabetes mellitus tipe II