Peranan faktor lingkungan fisik dalam menentukan kerentanan wilayah terhadap perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektor DBD (Studi Kasus di kecamatan Kebumen kabupaten Kebumen Jawa Tengah)
Nining Ayu Yuliana, Drs. Darmakusuma Darmanto, Dip.H.; M.S.
2007 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANTujuan dari penelitian ini adalah (1) Mempelajari/mengkaji parameter lingkungan fisik wilayah yang mempengaruhi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor DBD, (2) Menentukan kerentanan daerah penelitian terhadap perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti sebagai vektor DBD berdasarkan parameter lingkungan fisik wilayah yang mempengaruhinya. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Kebumen, Kabupaten Kebumen Jawa Tengah. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data mengenai kondisi lingkungan fisik rumah seperti kondisi pencahayaan, jarak antar rumah, tingkat kebersihan, dan kondisi tempat penampungan air diperoleh dari kerja lapangan, sedangkan data mengenai iklim, penggunaan lahan, dan kepadatan penduduk diperoleh dari data sekunder. Metode pemilihan lokasi penelitian adalah stratified random sampling berdasarkan insidensi DBD (daerah HCI, MCI, dan LCI.), sedangkan teknik analisa yaitu analisa deskriptif dan statistik. Analisa statistik dilakukan dengan metode crosstab untuk mengetahui korelasi antara lingkungan fisik rumah dengan kasus DBD, selain itu dibantu dengan SIG dalam menentukan tingkat kerentanan wilayah dengan metode overlay dan pengharkatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) faktor-faktor lingkungan fisik seperti ketinggian wilayah, curah hujan, suhu, kepadatan penduduk, dan kondisi fisik rumah (kondisi pencahayaan, jarak antar rumah, tingkat kebersihan, dan kondisi tempat penampungan air) mampu memberikan informasi lingkungan yang berpengaruh terhadap perkembangbiakan nyamuk Aedes Aegypti yang berperan sebagai vektor DBD, (2) Telah terjadi penyebaran kasus DBD dari wilayah perkotaan menuju ke pedesaan dan kasus DBD lebih banyak terjadi pada saat musim hujan dan (3) Daerah dengan tingkat kerentanan kelas I (HCI) mendapat prioritas penganganan pertama, kelas II (MCI) mendapat prioritas penganganan kedua, dan kelas III (LCI) mendapat prioritas penganganan ketiga.
The objectives of this research are (1) To study environmental factors that effect to the breeding of Aedes Aegypti as vector of DHF, (2) Justify susceptible area for Aedes Aegypti breeding as a vector DHF according to physical environmental parameter influence. The research located in Subdistrict of Kebumen, Central Java. Data use are primary and secondary datas. Data contains house environmental condition such as lighting, space between house, hygiene level the condition of water container get from the research. Data for temperature, land use. and population density get from secondary data. Sample gathering method is a stratified random sampling based on incident of DHF (HCI, MCI, and LCI). Where as analyzing technique are descriptif and statistic. Statistic analyzing done crosstab method to find the correlation between physical environment with DHF, and SIG in defining relapse area level by rate of exchange and overlay method. Research show that: (1)Physical environment factors such as, rainfall temperature, land use population density and physical condition of the house (lighting spaces between house hygiene level and condition of water container) can give inform about environment that affect Aedes aegypti breeding as DHF vector. (2) Climate condition (rainfall and temperature), land use, population density and physical condition of house like lighting and space between houses are parameters of physical environment that gave impactto DHF vector breeding in this research. (3) this Spread occurs from outskirts city other area in rainy season, (4) Area in category I (very susceptible) of susceptible level area get first priority, category II get a second priority and category III get the third.
Kata Kunci : Demam Berdarah Dengue (DBD), Lingkungan fisik, kerentanan wilayah,Dengue Haemorrhagic Fever, physical environment, susceptible area