PENYEMPURNAAN REGULASI TERHADAP PERMASALAHAN DISPARITAS PENERAPAN TINDAKAN ADMINISTRATIF KEIMIGRASIAN TERHADAP PELANGGARAN BEBAS VISA KUNJUNGAN (BVK) (STUDI DI DIREKTORAT PENGAWASAN DAN PENINDAKAN KEIMIGRASIAN PADA DIREKTORAT JENDERAL IMIGRASI)
Husna Fia Recita, Prof. Dr. Agustinus Supriyanto, S.H., M.Si.
2026 | Tesis | S2 ILMU HUKUM JAKARTA
Penelitian
ini bertujuan untuk mengidentifikan secara komprehensif permasalahan yang
timbul sebagai akibat belum dikualifikasinya secara tegas jenis pelanggaran
keimigrasian yang dapat dikenakan TAK berdasarkan kriteria dan tingkat
pelanggaran Kekosongan norma ini menimbulkan ketidakjelasan dan keragaman dalam
praktik penegakan hukum, sehingga memicu disparitas dalam penanganan serta
penjatuhan TAK terhadap pemegang Bebas Visa Kunjungan (BVK) yang melakukan
pelanggaran dengan karakteristik serupa.
Penelitian ini menggunakan metode yuridis-empiris dengan
memadukan analisis peraturan, literatur, serta wawancara dengan Pejabat
imigrasi yang relevan dengan topik pemrmasalahan pada Direktorat Pengawasan dan
Penindakan di Direktorat Jenderal Imigrasi dengan jenis penelitian empiris.
Analisis data menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan peraturan
perundang undangan, disajikan secara deskriptif analitis, dan metode penarikan
kesimpulan dilakukan secara induktif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ketidakjelasan dasar
pengenaan Sanksi atau Tindakan Administratif Keimigrasian berpotensi
menimbulkan dampak negatif terhadap orang asing yang dikenai sanksi. Hal ini
diperkuat oleh regulasi yang tidak mengatur secara rinci mengenai pertimbangan
pengenaan TAK, sehingga membuka ruang penafsiran oleh pejabat imigrasi yang
berwenang. Kondisi tersebut didukung oleh faktor-faktor Penyebab Disparitas
Penerapan TAK terhadap Pelanggaran BVK. Rekomendasi menunjukkan perlunya
penyempurnaan pengaturan Pasal 71 Peraturan Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan
Nomor 2 Tahun 2025 melalui penambahan norma mengenai Standar Operasional
Prosedur (SOP) nasional, penetapan parameter pengecualian yang terukur atas
ketentuan Deportasi dan Penangkalan, penegasan unit koordinator dalam proses
analisis dan penetapan TAK, serta pengaturan mekanisme peer review dan
integrasi sistem data SIMKIM yang dapat memperkuat kepastian hukum dan
meningkatkan akuntabilitas penerapan tindakan administratif keimigrasian
terhadap pelanggaran Bebas Visa Kunjungan (BVK).
This study aims to
comprehensively identify the issues arising from the absence of explicit
qualifications regarding the types of immigration violations that may be
subject to Immigration Administrative Measures (TAK), based on clearly defined
criteria and levels of violation. This normative gap creates ambiguity and
inconsistency in law enforcement practices, thereby generating disparities in
the handling and imposition of TAK on Visa-Free Visit (BVK) holders who commit
violations with similar characteristics.
This research employs a
juridical-empirical method by integrating regulatory analysis, literature
review, and interviews with immigration officers relevant to the research topic
at the Directorate of Immigration Supervision and Enforcement, Directorate General
of Immigration, using an empirical research approach. Data analysis is
conducted qualitatively through a statutory approach, presented in a
descriptive-analytical manner, with conclusions drawn inductively.
The findings reveal that
the lack of clarity regarding the legal basis for imposing Immigration
Administrative Sanctions or Measures has the potential to create adverse
impacts on foreign nationals subjected to such sanctions. This issue is
reinforced by regulations that do not provide detailed guidance on the
considerations for imposing TAK, thereby allowing room for interpretation by
authorized immigration officials. These conditions are further influenced by
several factors contributing to disparities in the application of TAK for BVK
violations.
The recommendations
highlight the necessity to refine the provisions of Article 71 of the
Regulation of the Minister of Immigration and Corrections Number 2 of 2025 by
adding norms concerning a national Standard Operating Procedure (SOP),
establishing measurable parameters for exemptions from deportation and
exclusion, affirming the coordinating unit responsible for the analysis and
determination of TAK, as well as regulating a peer review mechanism and
integrating the SIMKIM data system. These improvements are expected to
strengthen legal certainty and enhance the accountability of immigration
administrative measures applied to Visa-Free Visit (BVK) violations.
Kata Kunci : Bebas Visa Kunjungan, Tindakan Administratif Keimigrasian (TAK), disparitas, keimigrasian