Hubungan antara Depresi dan Sarkopenia pada Populasi Usia Lanjut di Kelurahan Sumberadi, Sleman
Muhammad Romaneszky Nur' Alimy Suryo Bawono, dr. Anastasia Evi Handayaningsih, Ph.D., Sp.PD, K-Ger, dr. Imam Manggalya Adikhara, Ph.D., Sp.PD
2026 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER
Latar Belakang : Sarkopenia merupakan sindrom geriatri yang ditandai dengan penurunan massa, kekuatan, dan performa otot yang terkait dengan proses penuaan. Suatu studi mengenai prevalensi sarkopenia di Indonesia menunjukkan angka 9,1?rdasarkan nilai cut-off Asian Working Group for Sarcopenia (AWGS) 2014. Sarkopenia dapat mempengaruhi quality of life, meningkatkan risiko jatuh, menurunkan kemampuan kognitif, dan meningkatkan risiko terhadap beberapa penyakit lainnya. Sementara, depresi merupakan gangguan psikiatri yang paling umum pada populasi usia lanjut yang dapat menurunkan kualitas hidup secara signifikan. Depresi dapat berkaitan dengan beberapa komponen dalam sarkopenia seperti malnutrisi. Dengan mengetahui faktor yang melatarbelakangi kondisi sarkopenia, klinisi dapat melakukan pendekatan terhadap kondisi sarkopenia secara sistematis.
Tujuan : Studi ini bertujuan untuk mengidentifikasi korelasi antara depresi dan sarkopenia pada populasi usia lanjut di Kelurahan Sumberadi.
Metode : Studi ini merupakan studi cross-sectional dengan populasi usia lanjut yang menghadiri posyandu lansia di Kelurahan Sumberadi, Sleman. Studi ini menggunakan Asian Working Group for Sarcopenia (AWGS) 2019 sebagai pedoman untuk mendefinisikan sarkopenia. Sampel penelitian didapat secara sekunder melalui penelitian Kuat Ototnya Lansia Sehat (KOLASE) pada bulan Juli hingga September 2024 di Kelurahan Sumberadi, Sleman.
Hasil : Dari 189 subjek, terdapat 79.4% subjek dengan sarkopenia dan hanya 0.01% subjek dengan depresi. Setelah disesuaikan dengan usia, pendidikan terakhir, dan penyakit jantung, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara depresi dan sarkopenia. Meski demikian, jumlah subjek dengan data depresi yang sedikit perlu menjadi pertimbangan dalam menginterpretasi hasil analisis penelitian ini.
Kesimpulan : Penelitian ini menemukan bahwa depresi tidak berhubungan dengan sarkopenia. Penemuan ini bukan berarti tidak ada hubungan yang sebenarnya antara depresi dan sarkopenia. Distribusi sampel yang tidak merata dan data depresi yang tidak lengkap dapat menyebabkan ketidakstabilan pada model analisis sehingga hasil perlu diinterpretasi dengan hati-hati.
Background: Sarcopenia is a geriatric syndrome characterized by progressive loss of muscle mass, strength, and function associated with aging. A study on sarcopenia prevalence in Indonesia reported a rate of 9.1?sed on the Asian Working Group for Sarcopenia (AWGS) cut-off values. Sarcopenia can affect quality of life, increase the risk of falls, impair cognitive function, and elevate susceptibility to various chronic diseases. Meanwhile, depression is one of the most common psychiatric disorders among the elderly and significantly reduces quality of life. Depression may be associated with several components of sarcopenia, such as malnutrition. Understanding the underlying factors of sarcopenia allows clinicians to approach this condition more systematically.
Objective: This study is aimed to identify the correlation between depression and sarcopenia among older adults with sarcopenia in Sumberadi Village, Sleman.
Methods: This cross-sectional study involved elderly participants attending the posyandu lansia (integrated health post for older adults) in Sumberadi Village, Sleman. Sarcopenia was defined according to the 2019 criteria of the Asian Working Group for Sarcopenia (AWGS). Secondary data were obtained from the “Kuat Ototnya LAnsia Sehat (KOLASE)” study conducted from July to September 2024 in Sumberadi Village, Sleman.
Results: Among 189 subjects, 79.4% were diagnosed with sarcopenia, while only 0.01% had depression. After adjusting for age, education level, and history of heart disease, no significant association was found between depression and sarcopenia. However, the imbalance between sarcopenia and non-sarcopenia groups, along with the small number of participants with depression, should be considered when interpreting the results.
Conclusion: This study found no significant relationship between depression and sarcopenia. Nevertheless, this does not necessarily indicate the absence of a true association. Unequal sample distribution and incomplete depression data may have contributed to instability in the analytical model; thus, results should be interpreted with caution.
Kata Kunci : Depresi, Sarkopenia, Usia Lanjut, Geriatri