Laporkan Masalah

Makna Keberagamaan Waria Dalam Perspektif Teologi Keadilan Farid Esack dan Relevansinya Bagi Pemenuhan Hak Beragama Kelompok Waria Indonesia

Masturiyah, Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, P.hD of Arts; Dr. Agus Himmawan Utomo, M.Ag

2026 | Disertasi | S3 Ilmu Filsafat

Penelitian ini dilakukan karena masih banyak kasus diskriminasi, marginalisasi dan persekusi atas nama agama kepada kelompok minoritas gender dan seksual. Diskriminasi berbasis agama tersebut kemudian merampas hak beragama kelompok waria. Persoalan filosofis-teologis ini kemudian dianalisa menggunakan konsep pemikiran teologi keadilan Farid Esack. Penelitian ini merupakan kajian pustaka dengan menggunakan metode kualitatif. Semua data yang digunakan bersumber dari bahan-bahan atau literatur tertulis yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan tema penelitian. Objek material adalah keberagamaan waria, sedangkan objek formal adalah filsafat agama tentang teologi keadilan Farid Esack. Hasil penelitian ini menunjukkan; Pertama, diskursus keberagamaan waria disebut dengan agama yang bertumbuh, yaitu keberagamaan waria yang berlangsung dalam sebuah perdebatan yang terkait dengan fenomena keberagamaan manusia. Kedua, keberagamaan waria memiliki beberapa makna sebagai berikut; dimensi mistik dan sosial, penghayatan iman dan kemanusiaan, nilai-nilai kemanusiaan sebagai jalan spiritual, kebaikan sebagai jalan menuju Tuhan, dan menemukan Tuhan dalam diri. Ketiga, melalui analisa pemikiran teologi keadilan Farid Esack, dapat ditemukan bahwa waria memiliki persepsi ketuhanan dan praktik keagamaan tersendiri yang didasarkan pada penghayatan keimanan, sehingga waria mengespresikan keberagamaannya melalui bentuk pelayanan dan sedekah. Ekspresi kegamaan waria inilah yang dianggap oleh Esack sebagai manifestasi keimanan dalam praktik sosial keagamaan. Keempat, relevansinya terhadap pemenuhan hak beragama kelompok waria di Indonesia adalah mampu melihat akar penindasan berbasis agama karena adanya bibit klaim kebenaran beragama, sehingga melahirkan sikap dominasi dan eksklusivisme beragama. Diskriminasi dan ketidakadilan tersebut merupakan bentuk pelanggaran hak asasi manusia karena mengabaikan harkat dan martabat kemanusiaan.


The background of this research is that there are cases of discrimination, marginalization, and persecution in the name of religion against gender and sexual minority groups. These cases violate the religious rights of the transgender group. This study analyses the philosophical and theological aspects of this problem, employing Farid Esack's concept of the theology of justice. This research is library research, using a qualitative research method. The data are sourced from literature directly or indirectly related to the research theme. The material object of this research is transgender religiosity, while the formal object is the philosophy of religion, with a focus on Farid Esack’s theology of justice. The result of this research is: First, the discourse on transgender religiosity is referred to as a religion of becoming, namely transgender religiosity that takes place in a debate related to the phenomenon of human religiosity. Second, transgender religiosity has several meanings, as follows: mystical and social dimensions, appreciation of faith and humanity, human values as a spiritual path, goodness as a path to God, and finding God within oneself. Third, through an analysis of Farid Esack's theology of justice, it can be found that transgender people have their own perception of God and religious practices based on their experience of faith, so that transgender people express their religiosity through forms of service and charity. It is this expression of transgender religiosity that Esack considers to be a manifestation of faith in religious social practice. Fourth, its relevance to the fulfillment of the religious rights of transgender people in Indonesia is the ability to see the roots of religious-based oppression to the existence of claims of religious truth, which give rise to attitudes of religious domination and exclusivism. Such as discrimination and injustice are forms of human rights violations because they disregard human dignity.

Kata Kunci : Waria, Filsafat Agama, Teologi Keadilan, Hak Beragama

  1. S3-2026-513415-abstract.pdf  
  2. S3-2026-513415-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-513415-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-513415-title.pdf