Epidemiologi Deskriptif dari Penyakit Mata Tiroid yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Mei 2024–Agustus 2025
Ahmad Farhan Malika, Dr. dr. Purjanto Tepo Utomo, Sp.M.(K); dr. Irene Titin Darajati, Sp.M; dr. Banu Aji Dibyasakti, Sp.M
2026 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER
LATAR BELAKANG : Penyakit mata tiroid adalah komplikasi inflamasi ekstraokular yang terkait dengan penyakit Graves dan Hashimoto, dua kondisi autoimun yang menyerang kelenjar tiroid. Patofisiologi TED melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik, lingkungan, dan imunologi. Autoantibodi yang secara keliru menargetkan reseptor hormon perangsang tiroid (TSHR) pada kelenjar tiroid dan jaringan orbita menjadi kunci dalam patofisiologi TED. Pengikatan autoantibodi ini mengaktifkan jalur sinyal inflamasi pada fibroblas orbita, memicu proliferasi sel dan produksi substansi inflamasi. Faktor risiko Penyakit Mata Tiroid yang sudah diketahui sejauh ini adalah usia dan jenis kelamin TUJUAN : Untuk mendeskripsikan karakteristik epidemiologi dan klinis penderita Penyakit Mata Tiroid pada kunjungan pertama Poli Mata RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta METODE : Penelitian ini adalah penelitian yang menggunakan desain penelitian observasional deskriptif analitik. Populasi target dalam penelitian ini adalah pasien Poli Mata Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta Mei 2024–Agustus 2025. Pengambilan sampel dilakukan dengan menganalisis catatan medis yang tersedia pada rumah sakit, khususnya kunjungan pertama pada Poli Mata sebagai potret kondisi pasien. Faktor yang akan dicatat adalah usia, jenis kelamin, hasil lab TSH, FT4, fissura palpebra, otot ekstraokuler, proptosis menggunakan CT Scan dan Hertel Exophthalmometer dan Clinical Activity Score. Penelitian akan dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Sardjito Yogyakarta dan tempat lainnya yang memungkinkan dalam pengolahan data. HASIL : Berdasarkan hasil penelitian pada 50 pasien, kelompok usia 21–30 tahun merupakan yang terbanyak. Pasien perempuan lebih banyak (72%) dibanding laki-laki (28%), dengan rasio 2,6:1. Karakteristik klinis menunjukkan sebagian besar pasien mengalami penurunan penglihatan ringan (mild low vision) pada kedua mata. Dari aspek hormonal, mayoritas pasien (72%) memiliki kadar TSH sangat rendah (<0> Exophthalmometer menunjukkan 50% pada mata kanan dan 62% pada mata kiri memiliki jarak proptosis >20 mm. Asimetri proptosis (selisih >2 mm antar mata) ditemukan pada 18% pasien. Pada pengukuran CT Scan, 52% pada mata kanan dan 54% pada mata kiri memiliki jarak proptosis >20mm, dengan asimetri proptosis pada 14% pasien. Pengukuran diameter otot ekstraokular menunjukkan bahwa sebagian besar otot masih dalam batas normal. Hal ini mengindikasikan banyak pasien masih berada dalam tahap penyakit yang relatif ringan.Berdasarkan Clinical Activity Score (CAS), 20% pasien laki-laki dan 18% pasien perempuan yang termasuk fase aktif (CAS ?3). KESIMPULAN : Epidemiologi paling banyak pada usia 21–30 tahun, perempuan. karakteristik klinis paling banyak mild low vision, kadar TSH sangat rendah, FT4 eutiroid, pengukuran exophthalmometer 50% pada mata kanan dan 62% pada mata kiri memiliki jarak proptosis >20 mm, pengukuran CT Scan 52% pada mata kanan dan 54% pada mata kiri memiliki jarak proptosis >20mm, pengukuran diameter otot ekstraokular sebagian besar otot masih dalam batas normal. Clinical Activity Score (CAS), 20% pasien laki-laki dan 18% pasien perempuan yang termasuk fase aktif (CAS ?3).
BACKGROUND: Thyroid eye disease (TED) is an extraocular inflammatory complication associated with Graves’ disease and Hashimoto’s disease, two autoimmune conditions affecting the thyroid gland. The pathophysiology of TED involves complex interactions among genetic, environmental, and immunological factors. Autoantibodies that mistakenly target the thyroid-stimulating hormone receptor (TSHR) on the thyroid gland and orbital tissues play a key role in the pathophysiology of TED. Binding of these autoantibodies activates inflammatory signaling pathways in orbital fibroblasts, triggering cellular proliferation and the production of inflammatory mediators. Currently known risk factors for thyroid eye disease include age and sex. OBJECTIVE: To describe the epidemiological and clinical characteristics of patients with thyroid eye disease at their first visit to the Ophthalmology Outpatient Clinic of Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta. METHODS: This study employed a descriptive analytic observational design. The target population consisted of patients attending the Ophthalmology Outpatient Clinic of Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta, from May 2024 to August 2025. Samples were obtained by analyzing available medical records, focusing specifically on patients’ first visits to the ophthalmology clinic as a snapshot of their initial clinical condition. Recorded variables included age, sex, laboratory results (TSH and FT4), palpebral fissure measurements, extraocular muscles, proptosis measurements using CT scan and Hertel exophthalmometer, and Clinical Activity Score (CAS). The study was conducted at Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta, and other locations as required for data processing. RESULTS: Based on the analysis of 50 patients, the 21–30 year age group was the most common. Female patients predominated (72%) compared with males (28%), with a female-to-male ratio of 2.6:1. Clinical characteristics showed that most patients experienced mild low vision in both eyes. From the hormonal aspect, the majority of patients (72%) had very low TSH levels (<0>20 mm. Proptosis asymmetry (difference >2 mm between eyes) was found in 18% of patients. CT scan measurements showed that 52% of right eyes and 54% of left eyes had proptosis >20 mm, with proptosis asymmetry identified in 14% of patients. Measurements of extraocular muscle diameter indicated that most muscles remained within normal limits, suggesting that many patients were still in a relatively mild stage of the disease. Based on the Clinical Activity Score (CAS), 20% of male patients and 18% of female patients were classified as being in the active phase (CAS ?3). CONCLUSION: Thyroid eye disease was most commonly found in patients aged 21–30 years and in females. The most frequent clinical characteristics included mild low vision, very low TSH levels, euthyroid FT4 levels, proptosis >20 mm on exophthalmometer measurements in 50% of right eyes and 62% of left eyes, and proptosis >20 mm on CT scan measurements in 52% of right eyes and 54% of left eyes. Extraocular muscle diameters were mostly within normal limits. Based on the Clinical Activity Score, 20% of male patients and 18% of female patients were in the active phase (CAS ?3).
Kata Kunci : Thyroid Eye Disease, Graves’ Ophthalmopathy, Epidemiology