Struktur Rumah Tangga dan Kesehatan Mental Anak: Studi Empiris di Indonesia
Angelita Tiurida Gloria Immanuela Hutagaol, Esa Azali Asyahid, S.E., M.Sc
2026 | Skripsi | ILMU EKONOMI
Perubahan struktur rumah tangga di Indonesia ditandai dengan meningkatnya jumlah anak yang tidak tinggal bersama kedua orang tua kandung, khususnya dalam rumah tangga orang tua tunggal. Penelitian ini menganalisis hubungan antara struktur rumah tangga dan kesehatan mental anak di Indonesia menggunakan data Indonesia Family Life Survey (IFLS) gelombang kelima. Kesehatan mental diukur menggunakan skor Center for Epidemiologic Studies Depression Scale (CES-D). Variabel utama penelitian adalah status tinggal dengan orang tua kandung, yang diklasifikasikan menjadi rumah tangga dua orang tua, ibu tunggal, ayah tunggal, dan tanpa orang tua kandung. Analisis dilakukan menggunakan regresi OLS dengan pengendalian karakteristik individu serta kondisi keluarga pada usia 12 tahun.
Hasil menunjukkan bahwa anak yang tinggal dalam rumah tangga orang tua tunggal dan tanpa orang tua kandung cenderung memiliki skor depresi yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tinggal bersama kedua orang tua kandung. Hubungan tersebut bervariasi menurut umur, gender, dan wilayah tempat tinggal, dengan pola yang relatif lebih kuat pada usia remaja dan di wilayah perkotaan. Temuan ini mengindikasikan bahwa rumah tangga orang tua tunggal merupakan kelompok yang relatif lebih rentan, sehingga memerlukan dukungan kebijakan seperti layanan bimbingan psikologis, penguatan pengasuhan, serta subsidi penitipan anak dan daycare guna meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan mental anak.
This study examines the association between household structure and children’s mental health in Indonesia using data from the fifth wave of the Indonesia Family Life Survey (IFLS). Children’s mental health is measured using the Center for Epidemiologic Studies Depression Scale (CES-D). Household structure is defined based on living arrangements with biological parents, categorized into two-parent households, single-mother households, single-father households, and households without biological parents. The analysis employs OLS regression while controlling for individual characteristics and family conditions measured at age 12.
The results indicate that children living in single-parent households and those not residing with biological parents tend to have higher depression scores compared to children living with both biological parents. The strength of this association varies by age, gender, and urban–rural residence, with stronger patterns observed during adolescence and in urban areas. These findings suggest that single-parent households represent a relatively vulnerable group, highlighting the importance of supportive policies such as access to child mental health services, parenting support, and subsidized childcare and daycare services to promote children’s mental health and well-being.
Kata Kunci : Struktur rumah tangga, Orang tua tunggal, Kesehatan mental, CES-D, IFLS