Problem Keadilan dalam Praktik Double Burden pada Perempuan di Institusi Perkawinan Perspektif Feminisme Nancy Fraser
Aulia Rahmawati Cahya Kinasih, Dr. Hastanti Widy Nugroho, S.S., M.Hum.; Dr. Septiana Dwiputri Maharani
2026 | Skripsi | ILMU FILSAFAT
Penelitian ini berjudul “Problem Keadilan dalam Praktik Double Burden pada Perempuan di Institusi Perkawinan Perspektif Feminisme Nancy Fraser”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh problem yang dihadapi perempuan modern di dalam hubungan perkawinan. Perempuan harus menghadapi tuntutan untuk melakukan pekerjaan produktif di ranah publik sekaligus masih berkewajiban menanggung beban pekerjaan reproduktif di ranah domestik. Penelitian ini bertujuan membahas problem praktik double burden yang dihadapi oleh perempuan dalam perkawinan dan memberikan tawaran keadilan menggunakan kerangka pemikiran Feminisme Nancy Fraser. Dalam konteks ini, pemikiran Feminisme Kritis Nancy Fraser digunakan sebagai pendekatan teoritis untuk menjawab problem keadilan yang melekat pada praktik double burden.
Penelitian ini merupakan penelitian Filsafat Sosial di bidang Feminisme yang menganalisis masalah aktual secara kualitatif melalui studi pustaka dari berbagai sumber yang terkait. Metode penelitian deskriptif dilakukan dengan melakukan penelusuran sumber-sumber data melalui buku, jurnal ilmiah, artikel ilmiah, berita, serta sumber kepustakaan lainnya. Data kemudian dianalisis menggunakan metode filsafat hermeneutik yang memanfaatkan unsur-unsur metodis, yaitu deskripsi, interpretasi, dan koherensi intern. Setelah hasil analisis diperoleh, dilakukan penyusunan hasil penelitian.
Hasil dari penelitian ini
adalah: (1) Bahwa praktik double burden merupakan bentuk ketidakadilan
sosial yang terlembagakan dalam institusi perkawinan. Praktik double burden dipengaruhi
oleh warisan konstruksi gender yang patriarki, kapitalisme, dan neoliberalisme
yang mengabaikan realitas perempuan dalam kehidupan modern. Dalam pengertian
ini, double burden merefleksikan kegagalan institusi perkawinan modern
dalam mewujudkan prinsip keadilan dan kesetaraan substantif antara laki-laki
dan perempuan. (2) Gagasan pemikiran
Nancy Fraser mengenai keadilan tiga dimensi yang meliputi redistribution,
recognition, dan representation digunakan sebagai tawaran bagi
tercapainya keadilan dalam praktik double burden yang dijalankan
perempuan di institusi perkawinan. Redistribution berkaitan dengan
keadilan distribusi sumber daya ekonomi, recognition berkaitan dengan
keadilan pengakuan terhadap kontribusi pekerjaan perempuan, dan representation
berkaitan dengan keterwakilan suara perempuan di ranah politik.
This
research is entitled “Problem Keadilan dalam Praktik Double Burden
pada Perempuan di Institusi Perkawinan Perspektif Feminisme Nancy Fraser”. This
background of this research is based on the problems between women in marital relationships.
Women must face the demands of performing productive work in the public sphere
while still being required to bear the burden of reproductive work in the
domestic sphere. This research aims to examine the problem of the double burden
experienced by women in marriage and to propose a conception of justice through
the framework of Nancy Fraser’s critical feminist theory. In this context,
Nancy Fraser’s critical feminist thought is employed as a theoretical approach
to address the problem of justice inherent in the practice of double burden.
This
research is a qualitative philosophical study in the field Philosophy of
Social, specifically Feminism, employing a descriptive research model to
address social problems. The descriptive method is conducted through an
analysis of data sources including books, academic journals, scholarly
articles, news media, and any other relevant literature. This research is
conducted with the data inventory stage to be classified. The data are analyzed
using a hermeneutic philosophical method that employs methodical elements, namely
description, interpretation, and internal coherence.
The results
of this study are as follows: (1) the practice of double burden
constitutes a form of social injustice that is institutionalized within the
institution of marriage. This practice is shaped by the legacy of patriarchal
gender constructions, as well as by capitalism and neoliberalism, which tend to
neglect the lived realities of women in modern society. In this sense, double
burden reflects the failure of the modern institution of marriage to realize
the principles of justice and substantive equality between men and women. (2)
Nancy Fraser’s concept of three-dimensional justice, comprising redistribution,
recognition, and representation is proposed as a normative framework for
achieving justice in the practice of double burden experienced by women in
marriage. Redistribution concerns the equitable allocation of economic
resources, recognition addresses the social and cultural acknowledgement of women’s labour and contributions, and
representation relates to women’s political inclusion and voice in decision-making
processes.
Kata Kunci : Perkawinan, Double Burden, Keadilan, Kapitalisme, Patriarki