Hubungan Antara Nutritional Risk Screening 2002 dengan Kematian dan Lama Rawat Pasien Luka Bakar di RSUP DR. Sardjito
Zulqaidandy Rahman, dr. Calcarina Fitriani Retno Wisudarti, Sp.An-TI, Subsp.TI (K); dr. Pinter Hartono Sp.An-TI, Subsp.An.O (K), M.M
2026 | Tesis-Spesialis | S2 Anestesiologi
Latar Belakang: Luka bakar memicu respon
hipermetabolik yang meningkatkan risiko malnutrisi, Berbagai studi menunjukkan
bahwa skrining risiko nutrisi seperti NRS-2002 berperan penting dalam
mengidentifikasi pasien berisiko tinggi yang berpotensi memiliki luaran klinis
lebih buruk.
Tujuan: Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui apakah
terdapat hubungan antara Nutritional Risk Screening 2002
dengan angka kematian dan lama rawat pasien luka bakar di RSUP Dr. Sardjito
Yogyakarta.
Metode: Penelitian ini merupakan
studi kuantitatif dengan desain kohort retrospektif
dan membandingkan mortalitas dan morbiditas pasien luka bakar di
RSUP Dr. Sardjito berdasarkan skor Nutritional Risk Screening 2002
(NRS 2002). Penelitian ini akan membagi subjek menjadi dua kelompok, yaitu
pasien dengan risiko rendah (skor NRS < 3>
Hasil: Hasil analisis
menunjukkan dari total 68 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dalam
penelitian ini, pada
karakteristik data pasien, hasil skor Nutritional Risk Screening (NRS)
2002, sebagian besar pasien berada pada kategori high risk, yaitu
sebanyak 55 orang (81%), sedangkan low risk hanya sebanyak 13
orang (19%). Analisis bivariat, NRS–2002 berhubungan secara
bermakna dengan kejadian kematian pada pasien luka bakar (p = 0.024). Pasien
dengan kategori high-risk memiliki risiko kematian 5.44 kali lebih tinggi dan
odds kematian 8.63 kali lebih tinggi dibandingkan pasien low-risk. NRS–2002
tidak berhubungan secara bermakna dengan lama rawat (p = 0.355). Analisis
menunjukkan bahwa risiko lama rawat >16 hari tidak lebih tinggi pada
kelompok high-risk. Hasil
analisis menunjukkan bahwa rerata waktu ketahanan hidup pada kelompok risiko
nutrisi tinggi lebih rendah (1.67 vs. 1.92 hari). (1,67 hari; 95% CI:
1,55–1,80) dibandingkan kelompok risiko rendah (1,92 hari; 95% CI: 1,78–2,07).
Pada analisis multivariat, Nutritional Risk Screening (NRS) tidak
menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kematian (p = 0,653; OR = 2,068; 95%
CI: 0,087–49,050) dan lama rawat secara statistik (p = 0,980; Exp(B) =
0,981; 95% CI: 0,220–4,382),
Kesimpulan: NRS–2002 berhubungan secara bermakna dengan kejadian kematian pada pasien luka bakar tetapi tidak berhubungan dengan lama rawat. Hubungan ini dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti: jenis kelamin dan luas area luka bakar.
Background: Burn
injuries trigger a hypermetabolic response that increases the risk of
malnutrition. Various studies have shown that nutritional risk screening tools
such as NRS-2002 play an important role in identifying high-risk patients who
are more likely to experience poorer clinical outcomes.
Objective: This
study aims to determine whether there is an association between Nutritional
Risk Screening 2002 and mortality as well as length of stay among burn patients
at Dr. Sardjito General Hospital, Yogyakarta.
Methods: This
study is a quantitative research using a retrospective cohort design, comparing
the mortality and morbidity of burn patients at Dr. Sardjito General Hospital
based on their Nutritional Risk Screening 2002 (NRS 2002) scores. Subjects were
divided into two groups—low risk (NRS < 3>
Results: The
analysis showed that of the 68 patients who met the inclusion criteria, the
majority were classified as high nutritional risk based on the Nutritional Risk
Screening (NRS) 2002 score, with 55 patients (81%) categorized as high risk and
only 13 patients (19%) as low risk. In the bivariate analysis, NRS-2002 was
significantly associated with mortality in burn patients (p = 0.024). Patients
in the high-risk group had a 5.44-fold higher risk of death and an 8.63-fold
higher odds of mortality compared with the low-risk group. NRS-2002 was not
significantly associated with length of stay (p = 0.355), and high-risk
patients did not have a greater likelihood of hospitalization beyond 16 days.
Survival analysis demonstrated that the high-risk group had a shorter mean
survival time (1.67 vs. 1.92 days; 1.67 days, 95% CI: 1.55–1.80 vs. 1.92 days,
95% CI: 1.78–2.07). In the multivariate analysis, NRS-2002 did not show a
statistically significant association with mortality (p = 0.653; OR = 2.068;
95% CI: 0.087–49.050) nor with length of stay (p = 0.980; Exp(B) = 0.981; 95%
CI: 0.220–4.382)
Conclusion: NRS-2002 was significantly associated with mortality among burn patients but showed no association with length of stay. This relationship was influenced by several factors, including sex and burn surface area.
Kata Kunci : Luka bakar, Nutrtional Risk Screening 2002, Kematian Pasien Luka Bakar, Lama Rawat Pasien Luka Bakar