ANALISIS FAKTOR DETERMINAN KEJADIAN LESI PRA-KANKER SERVIKS BERDASARKAN HASIL PAP SMEAR: PENGGUNAAN KB IMPLAN, USIA, DAN PARITAS PADA WANITA USIA 23-38 TAHUN YOGYAKARTA.
Nisrina Noor Ramadhani, dr. Sarrah Ayuandari, Ph.D., Sp.OG.; Dr. dr. Muhammad Nurhadi Rahman, Sp. OG. Subsp. Urogin-RE.
2026 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER
ABSTRAK
Latar Belakang : Kanker serviks merupakan tumor ganas yang terjadi pada leher rahim dan diklasifikasikan menjadi dua tipe secara histologis, yaitu adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa (SCC); SCC lebih umum terjadi dan mencakup 70%ri seluruh kasus (Hull R, Mbele M, Makhafola T, et al.) Dilansir dari WHO kanker serviks atau cervical cancer adalah kanker paling umum keempat pada wanita dengan sekitar 660.000 kasus baru dan 350.000 kematian seluruh dunia di tahun 2022, dimana tingkat kejadian atau insidensi kematian tertinggi terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Estimasi dari The International Agency for Research on Cancer (IARC) menunjukkan terdapat 36.633 kasus baru kanker serviks setiap tahunnya di Indonesia, dan 21.003 kematian disebabkan oleh penyakit tersebut. Kanker serviks menduduki peringkat kedua kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia, dan peringkat kedua sebagai kanker terbanyak pada perempuan berusia 15 sampai 44 tahun. Mayoritas kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi virus Human Papillomavirus (HPV) yang persistent (Bosch F.X., et al). Paparan terus menerus atau prolonged dari HPV pada lapisan dinding serviks dapat menyebabkan displasia serviks atau Cervical Intraepithelial Neoplasia (CIN). Lesi pra kanker ini, jika tidak ditangani, dapat menyebabkan kanker serviks. Virus HPV mempunyai banyak cara penularan atau transmisi, salah satunya adalah kontak seksual dengan carrier atau pembawa virus. Penggunaan kontrasepsi hormonal seperti KB implan dihubungkan dengan terbentuknya displasia serviks seiring berjalannya waktu oleh beberapa literasi, namun tidak semua menunjukkan hasil yang konklusif. Oleh karena itu, diperlukan studi lebih lanjut mengenai hubungan lama penggunaan kontrasepsi implan dengan terbentuknya lesi pra kanker, terutama di Provinsi DIY Yogyakarta yang mode kontrasepsi implan mencakup 22.852 wanita pada tahun 2022.
Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh usia, paritas, dan pemakaian kontrasepsi hormonal jenis implan dengan hasil pemeriksaan Pap smear.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan fokus deskripsi analisis. Populasi target dalam penelitian adalah pasien wanita usia reproduksi.
Hasil : Dari total 29 wanita usia 23–38 tahun pengguna kontrasepsi implant yang memenuhi kriteria inklusi, seluruh subjek (100%) menunjukkan hasil Pap Smear negatif untuk lesi intraepitelial atau keganasan (NILM) berdasarkan sistem Bethesda. Meskipun tidak ditemukan lesi pra-kanker serviks, terdapat temuan abnormalitas non-neoplastik, berupa atrofi serviks pada 5 subjek (17,2%) dan reaksi peradangan pada 3 subjek (10,3%). Distribusi berdasarkan usia menunjukkan bahwa temuan atrofi dan peradangan lebih banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa (30–59 tahun), sedangkan berdasarkan paritas, temuan tersebut lebih sering dijumpai pada kelompok multipara.
Kesimpulan : Tidak ditemukan hubungan yang bermakna secara deskriptif antara usia maupun paritas dengan kejadian lesi pra-kanker serviks pada populasi pengguna kontrasepsi implan pada penelitian ini
Kata kunci : Pap Smear, Kontrasepsi Hormonal, Kontrasepsi Implan, Paritas, Usia, Lesi
ABSTRAK
Latar Belakang : Kanker serviks merupakan tumor ganas yang terjadi pada leher rahim dan diklasifikasikan menjadi dua tipe secara histologis, yaitu adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa (SCC); SCC lebih umum terjadi dan mencakup 70%ri seluruh kasus (Hull R, Mbele M, Makhafola T, et al.) Dilansir dari WHO kanker serviks atau cervical cancer adalah kanker paling umum keempat pada wanita dengan sekitar 660.000 kasus baru dan 350.000 kematian seluruh dunia di tahun 2022, dimana tingkat kejadian atau insidensi kematian tertinggi terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah. Estimasi dari The International Agency for Research on Cancer (IARC) menunjukkan terdapat 36.633 kasus baru kanker serviks setiap tahunnya di Indonesia, dan 21.003 kematian disebabkan oleh penyakit tersebut. Kanker serviks menduduki peringkat kedua kanker terbanyak pada perempuan di Indonesia, dan peringkat kedua sebagai kanker terbanyak pada perempuan berusia 15 sampai 44 tahun. Mayoritas kasus kanker serviks disebabkan oleh infeksi virus Human Papillomavirus (HPV) yang persistent (Bosch F.X., et al). Paparan terus menerus atau prolonged dari HPV pada lapisan dinding serviks dapat menyebabkan displasia serviks atau Cervical Intraepithelial Neoplasia (CIN). Lesi pra kanker ini, jika tidak ditangani, dapat menyebabkan kanker serviks. Virus HPV mempunyai banyak cara penularan atau transmisi, salah satunya adalah kontak seksual dengan carrier atau pembawa virus. Penggunaan kontrasepsi hormonal seperti KB implan dihubungkan dengan terbentuknya displasia serviks seiring berjalannya waktu oleh beberapa literasi, namun tidak semua menunjukkan hasil yang konklusif. Oleh karena itu, diperlukan studi lebih lanjut mengenai hubungan lama penggunaan kontrasepsi implan dengan terbentuknya lesi pra kanker, terutama di Provinsi DIY Yogyakarta yang mode kontrasepsi implan mencakup 22.852 wanita pada tahun 2022.
Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh usia, paritas, dan pemakaian kontrasepsi hormonal jenis implan dengan hasil pemeriksaan Pap smear.
Metode : Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan fokus deskripsi analisis. Populasi target dalam penelitian adalah pasien wanita usia reproduksi.
Hasil : Dari total 29 wanita usia 23–38 tahun pengguna kontrasepsi implant yang memenuhi kriteria inklusi, seluruh subjek (100%) menunjukkan hasil Pap Smear negatif untuk lesi intraepitelial atau keganasan (NILM) berdasarkan sistem Bethesda. Meskipun tidak ditemukan lesi pra-kanker serviks, terdapat temuan abnormalitas non-neoplastik, berupa atrofi serviks pada 5 subjek (17,2%) dan reaksi peradangan pada 3 subjek (10,3%). Distribusi berdasarkan usia menunjukkan bahwa temuan atrofi dan peradangan lebih banyak ditemukan pada kelompok usia dewasa (30–59 tahun), sedangkan berdasarkan paritas, temuan tersebut lebih sering dijumpai pada kelompok multipara.
Kesimpulan : Tidak ditemukan hubungan yang bermakna secara deskriptif antara usia maupun paritas dengan kejadian lesi pra-kanker serviks pada populasi pengguna kontrasepsi implan pada penelitian ini
Kata kunci : Pap Smear, Kontrasepsi Hormonal, Kontrasepsi Implan, Paritas, Usia, Lesi
Kata Kunci : ABSTRAK Latar Belakang : Kanker serviks merupakan tumor ganas yang terjadi pada leher rahim dan diklasifikasikan menjadi dua tipe secara histologis, yaitu adenokarsinoma dan karsinoma sel skuamosa (SCC); SCC lebih umum terjadi dan mencakup 70%ri seluruh