Laporkan Masalah

Kajian dan perancangan laboratorium penggunaan agregat alam (Relatif bulat) dalam campuran Hot Rolled Sheet-Binder Course (HRS-BC) :: Studi kasus Agregat Alam asal Akah, Klungkung, Bali)

SUDIARTA, Gusti Rai, Dr.Ir. Latif udi Suparma, M.Sc

2005 | Tesis | Magister Sistem dan Teknik Transportasi

Pesatnya pembangunan di bidang transportasi khususnya jalan raya, membawa konsekuensi semakin sulitnya mendapatkan batu pecah sebagai bahan dasar pembuatan campuran agregat aspal. Usaha mencari bahan alternatif pengganti agregat pecah mutlak diperlukan untuk mendapatkan konstruksi yang memenuhi syarat dan tidak mahal. Penelitian Hot Rolled Sheet Binder Course menggunakan agregat alam (relatif bulat) diharapkan dapat mengurangi permasalahan keterbatasan akan batu pecah yang dialami di Propinsi Bali. Perancangan laboratorium dimulai dengan menggunakan agregat kasar dan halus dari agregat alam berasal dari tempat pengambilan di desa Akah, Klungkung, Bali, sebagai pengganti agregat pecah yang digunakan selama ini. Penelitian dilakukan pada tiga formula campuran yaitu menggunakan agregat kasar masingmasing 65% (formula I), 61% (formula II) dan 57% (formula III) terhadap total agregat. Sedangkan variasi aspal untuk memperoleh Kadar Aspal Optimum dari 7,0% - 9,0% dengan interval 0,5%. Kinerja campuran HRS-BC ditentukan dengan metode Marshall pada perendamanan standar dan 24 jam untuk mengetahui stabilitas dan durabilitasnya, Refusal Density dan Cantabro Test untuk mengetahui VITM setelah pemadatan 2x400 dan stabilitas sisa pasca Cantabro. Penggunaan agregat alam dari Akah, Klungkung, Bali dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran HRS-BC untuk lalulintas ringan pada formula I (agregat kasar 65%) dan formula II (agregat kasar 61%), sedangkan pada formula III (agregat kasar 57%) tidak memenuhi syarat karena nilai VITM setelah refusal density adalah 0,7% (kurang dari 1%) yang disyaratkan. Kadar aspal optimum campuran formula I, II dan III berturut-turut sebesar 8,3%, 8,3% dan 8,2% dengan nilai stablitas 993,1kg, 976,2kg dan 998,8kg, tingkat durabilitas pada perendaman 24 jam adalah sebesar 98,5%, 96,3% dan 98,4%. Nilai VITM pada kepadatan mutlak yang dihasilkan sebesar 1,3%, 1,2% dan 0,7% dan prosentase stabilitas sisa setelah pengujian Cantabro sebesar 44,6%, 49,4% dan 48,6%. Dengan hasil yang didapat kinerja campuran HRS-BC yang diteliti memenuhi spesifikasi Departemen Kimpraswil (2002) untuk kategori lalulintas ringan (< 500 ESA) pada campuran formula I dan formula II.

Rapid transportation development particularly roadway leads to a consequence getting stone crush more difficult as the row material asphalt aggregate mixture. Some efforts to find out an alternative aggregate crush substitution are absolutely needed to get the construction that fulfills requirement and inexpensive. The research of Hot Rolled Sheet Binder Course use the natural aggregate (round relatively) that can reduce a problem of stone crush limitation in Bali Province. Laboratory design was begun by utilizing coarse and fine natural aggregate from Akah, Klungkung, Bali as stone crushed substitution. This research was conducted in three variation mixtures which used coarse aggregate 65% (formulation I), 61% (formulation II), and 57% (formulation III) of total aggregate. While, the asphalt variations to get the optimum asphalt contents were from 7.0% to 9.0% with 0.5% interval. The HRS-BC mixture performance was determined by two steps; first, Marshall Method in standard and 24 hours immersion to figure out the durability and stability; second, Refusal Density and Cantabro Test to get VITM after compacted 2x400 and the retained stability pasca Cantabro test. The natural aggregate from Akah, Klungkung, Bali could be used as a material of HRS-BC mixture for light traffic for formulation I (65% coarse aggregate) and formulation II (61% coarse aggregate), however for formulation III (57% coarse aggregate) could not fulfill the requirement due to the VITM value after Refusal density was 0.7% ( less than 1%) required. The optimum asphalt content of the formulation I, II, III were 8.3%, 8.3%, and 8.2% respectively, with stability values were 993.1 kg, 976.2 kg, and 998.8 kg, the durability levels in 24 hours immersion were 98.5%, 96.3%, and 98.4%. The VITM values in refusal density condition resulted were 1.3%, 1.2%, and 0.7%, and the retained stability values pasca Cantabro test were 44.6%, 49.4%, and 48.6%. Based on the results, it can be resumed that the HRS-BC mixture performance fulfilled the Department Kimpraswil specification (2002) for light traffic category (< 500 ESA) especially for formulation I and II.

Kata Kunci : Aspal Panas,Agregat Alam,HRS Binder Course,HRS-Binder Coarse, natural aggregate, Marshall Method


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.