Resiliensi Petani Berbasis Sagu di Lahan Gambut di Desa Sungai Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau
Zuli Laili Isnaini, Prof. Dr. Bambang Hudayana, M.A.
2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Disertasi ini mengkaji sagu sebagai basis resiliensi dalam kehidupan petani yang bermukim di lahan gambut Desa Sungai Tohor, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Berangkat dari pengalaman bencana, keterbatasan akses lahan, dan kerentanan hidup di bentang alam gambut, penelitian ini memandang resiliensi sebagai praktik budaya yang tertanam dalam nilai, relasi sosial, dan pengalaman historis masyarakat. Dengan menggunakan pendekatan antropologi, resiliensi dipahami sebagai proses sosial dan kultural yang dibentuk melalui praktik sehari-hari, jaringan kekerabatan, kerja keluarga, serta pemaknaan kolektif atas risiko dan ketidakpastian. Dalam kerangka ini, sagu tidak diposisikan semata sebagai komoditas ekonomi, melainkan sebagai medium budaya yang memungkinkan petani mengelola risiko, mempertahankan keberlanjutan penghidupan, dan menegaskan identitas sosial sebagai petani gambut. Data dikumpulkan melalui penelitian lapangan jangka panjang antara tahun 2020-2025 secara periodik antara 2 minggu hingga 6 bulan dengan metode tinggal bersama, wawancara mendalam terhadap informan, observasi partisipatif, dan penelusuran sejarah lisan pada rumah tangga petani sagu. Pendekatan ini memungkinkan pemahaman mendalam tentang bagaimana resiliensi budaya dipraktikkan, dinegosiasikan, dan diwariskan lintas generasi. Temuan penelitian menunjukkan bahwa resiliensi budaya berbasis sagu terwujud melalui pengaturan kerja keluarga, pengelolaan jaringan kekerabatan, pemaknaan atas risiko ekologis, serta strategi mempertahankan kehidupan di lahan gambut. Disertasi ini menegaskan resiliensi sebagai praktik budaya yang hidup, dinamis, dan sarat makna, yang tidak dapat direduksi menjadi indikator teknis adaptasi semata.
This dissertation examines sago as a basis for cultural resilience in the lives of farmers residing in the peatlands of Sungai Tohor Village, Kepulauan Meranti Regency, Riau Province. Drawing from experiences of disasters, limited land access, and vulnerabilities in peat landscapes, this study views resilience as a cultural practice rooted in community values, social relations, and historical experiences. Utilizing an anthropological approach, resilience is understood as a social and cultural process shaped through daily practices, kinship networks, family labor, and collective meanings of risk and uncertainty. In this framework, sago is positioned not merely as an economic commodity but as a cultural medium that enables farmers to manage risks, sustain their livelihoods, and affirm their social identities as peat farmers. Data were collected through long-term field research conducted periodically between 2020 and 2025, ranging from two weeks to six months, utilizing methods such as immersive living, in-depth interviews with informants, participatory observation, and oral history tracing within sago farming households. This approach facilitates a deeper understanding of how cultural resilience is practiced, negotiated, and transmitted across generations. The findings indicate that sago-based cultural resilience manifests through family labor arrangements, kinship network management, ecological risk interpretations, and strategies to sustain life in peatlands. This dissertation asserts resilience as a living, dynamic cultural practice imbued with meaning, which cannot be reduced to mere technical indicators of adaptation.
Kata Kunci : resiliensi budaya, sagu, petani, gambut, dan antropologi