Profil Klinis Lesi Kondiloma Akuminata pada Pasien Laki-Laki Seks dengan Laki-Laki (LSL) di RS Sardjito
Shabrina Fayza Putri, dr. Devi Artami Susetiati, M.Sc., Sp.KK(K); dr. Alessandro Alfieri, M.Med.Sc., Sp.D.V.E
2025 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER
Latar Belakang: Kondiloma akuminata adalah bentuk manifestasi klinis dari infeksi human papillomavirus (HPV) yang umumnya ditemukan pada area tubuh yang kontak erat saat berhubungan seksual. Kasus kondiloma akuminata menjadi salah satu penyakit dengan angka kejadian tertinggi pada golongan infeksi menular seksual (IMS) akibat infeksi HPV, terutama pada kelompok usia dewasa muda (18–24 tahun). Risiko munculnya kondiloma akuminata dapat meningkat pada kelompok rentan tertentu, misalnya pada kelompok laki-laki seks dengan laki-laki (LSL), dengan atau tanpa disertai penyakit infeksi menular seksual lainnya. Jumlah, bentuk, dan lokasi lesi kondiloma akuminata bervariasi tergantung pada area penularan dan kondisi imun tubuh pasien. Untuk mengetahui profil klinis kondiloma akuminata pada kelompok rentan spesifik, perlu dilakukan studi mengenai kondiloma akuminata pada populasi pasien LSL baik dengan koinfeksi HIV maupun tanpa koinfeksi HIV.
Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui profil klinis lesi kondiloma akuminata pada pasien laki-laki seks dengan laki-laki di RS Sardjito.
Metode: Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan studi potong lintang. Sampel yang digunakan adalah pasien laki-laki seks dengan laki-laki berusia dewasa muda (18–24 tahun) dengan manifestasi kondiloma akuminata dengan informasi status HIV di RS Sardjito. Data diperoleh melalui rekam medis dan buku registrasi pasien infeksi menular seksual di Poliklinik Kulit dan Kelamin RS Sardjito yang tercatat pada bulan Juli 2020–Juli 2024. Data yang diambil berupa karakteristik pasien (tingkat pendidikan, riwayat penggunaan kondom, riwayat pasangan seksual multipel, dan cara berhubungan seksual), status diagnosis HIV, dan jumlah, bentuk, serta lokasi manifestasi klinis kondiloma akuminata.
Hasil: Subjek penelitian ini adalah 52 LSL dengan kondiloma akuminata; 26 subjek terdiagnosis HIV dan 26 subjek lainnya tidak terdiagnosis HIV. Berdasarkan kategori jumlah lesi, ditemukan paling banyak lesi berjumlah multipel pada kedua kelompok subjek. Berdasarkan bentuk lesi, ditemukan paling banyak lesi berbentuk kembang kol pada kedua kelompok subjek. Berdasarkan lokasi lesi, ditemukan paling banyak lesi pada anus pada kedua kelompok.
Kesimpulan: Tidak terdapat perbedaan secara signifikan pada jumlah, bentuk, dan lokasi lesi antara subjek dengan HIV dan subjek tanpa HIV. Jumlah, bentuk, dan lokasi lesi kondiloma akuminata pada pasien LSL tidak dipengaruhi oleh status HIV.
Background: Condyloma acuminata is a clinical manifestation of human papillomavirus (HPV) infection, typically found in areas of the body with close contact during sexual activity. It is one of the most commonly reported sexually transmitted infections (STIs) caused by HPV, particularly among young adults aged 18–24 years. The risk of developing condyloma acuminata increases in vulnerable populations, such as men who have sex with men (MSM), with or without concurrent sexually transmitted infections. The number, morphology, and location of condyloma acuminata lesions vary depending on the site of transmission and the individual's immune status. To understand the clinical profile of condyloma acuminata in specific at-risk groups, a study on MSM patients with and without HIV coinfection is necessary.
Objective: This study aims to identify the clinical profile of condyloma acuminata lesions among men who have sex with men at RS Sardjito.
Methods: This research is an analytical observational study using a cross-sectional design. The samples were young adult MSM patients (aged 18–24 years) with clinical manifestations of condyloma acuminata, treated at RS Sardjito, and documented with known HIV status. Data were obtained from medical records and the sexually transmitted infections patient registry at the Dermatology and Venereology Outpatient Clinic of RS Sardjito, from July 2020 to July 2024. Collected data included patient characteristics (education level, condom use history, history of multiple sexual partners, and sexual practices), HIV diagnosis status, as well as the number, morphology, and location of the clinical lesions.
Results: Among 52 MSM diagnosed with condyloma acuminata, 26 were HIV-positive and 26 were HIV-negative. In terms of lesion count, the majority in both groups presented with multiple lesions. In terms of lesion morphology, the most common form observed in both groups was the cauliflower-like type. In terms of the lesion location, the anus was the most frequently affected site in both groups.
Conclusion: There were no significant differences in the number, morphology, or location of lesions between HIV-positive and HIV-negative subjects. The clinical profile of condyloma acuminata lesions among MSM patients were not influenced by HIV status.
Kata Kunci : kondiloma akuminata, kutil kelamin, laki-laki seks dengan laki-laki, HPV, infeksi menular seksual