Perubahan pemanfaatan lahan di kawasan Dataran Tinggi Dieng :: Studi kasus Difusi spasial usaha tani kentang di Desa Batur dan Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara
JULIJANTI, Dr.Ir. Bondan Hermanislamet, M.Sc
2005 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan DaerahSebelum tahun 1980, kondisi sosial ekonomi masyarakat Desa Batur dan Desa Dieng Kulon belum sejahtera. Sekitar tahun 1980 an, masyarakat Desa Batur dan Desa Dieng Kulon melakukan suatu perubahan pola usaha pertanian, yaitu dari tanaman teh, tembakau dan bunga pitrem menjadi tanaman kentang. Perubahan pola usaha tani ini juga dipicu oleh datangnya seorang â€pendatang/inovator†yang berusaha tani kentang di Desa Dieng Kulon. Kondisi geografis yang dimiliki Desa Batur dan Desa Dieng Kulon ini “mengharuskan†pola pemanfaatan lahan yang memperhatikan kaidah-kaidah lingkungan, untuk menjaga kelestarian lingkungan dan meminimalisasi dampak lingkungan yang mungkin terjadi. Fenomena ini menarik untuk diteliti karena perubahan pola usaha tani yang dilakukan masyarakat Desa Batur dan Desa Dieng Kulon ternyata telah membuat hidup mereka sejahtera. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi pola pemanfaatan lahan dari aktivitas masyarakat dalam membentuk pola pemanfaatan lahan tersebut, dengan menyelidiki secara langsung dan/atau tidak langsung perubahan pemanfaatan lahan yang terjadi di Desa Batur dan Desa Dieng Kulon Kecamatan Batur Kabupaten Banjarnegara, dengan mencari faktor-faktor yang mempengaruhi aktivitas masyarakat tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deduktif kuantitatif dan bersifat eksplanatory. Metode analisis yang digunakan adalah analisis spasial (teknik logical contouring), analisis numerik (teknik sanding tabel dan grafik), dan analisis statistik (chi square/X2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pola penyebaran inovasi Usaha Tani Kentang (UTK) di Desa Batur dan Desa Dieng Kulon mengarah pada difusi menyebar atau difusi ekspansi yang bersifat menjalar (contagious diffusion). Interaksi sosial yang lebih dahulu terjadi di Desa Dieng Kulon antara inovator dengan adopter menyebabkan masuknya arus informasi (inovasi UTK) di kedua desa tersebut tidak sama, sehingga proses adopsinya juga berbeda. Di Desa Dieng Kulon inovasi UTK sudah diadopsi sejak tahun 1980, sedangkan di Desa Batur inovasi UTK mulai diadopsi pada tahun 1984. Petani kentang di Desa Dieng Kulon dari tahun 1970 – 2004 telah mencapai 100 %, sedangkan di Desa Batur dari tahun 1978 – 2004 hanya mencapai 82,86 %; (2) secara umum, kecepatan penyebaran UTK sangat dipengaruhi oleh faktor fisik dan non fisik. Faktor yang paling menentukan kecepatan penyebaran UTK di Desa Batur (hubungannya sangat erat) adalah faktor organisasi sosial (K = 0,62); (3) Faktor yang paling menentukan kecepatan penyebaran UTK di Desa Dieng Kulon (hubungannya sangat erat) adalah faktor usia petani (K = 0,78); (4) Konservasi lahan di Desa Batur dan Desa Dieng Kulon tidak berjalan dengan baik karena “budaya†masyarakat yang masih sulit untuk diarahkan pada upaya menyeimbangkan antara nilai ekonomi tanaman (kentang) dan nilai lingkungan.
Before 1980, the social and economic condition of Desa Batur and Desa Dieng Kulon societies were not prosperous. Then in 1980s they made a change to their pattern of farming activity, i.e., from planting tea, tobacco, and pitrem flower into cultivating potato. This was initiated by a newcomer/innovator who planted potato in Desa Dieng Kulon. The geographical condition of Desa Batur and Desa Dieng Kulon requires a pattern of land use that carefully consider the environmental principles in order to preserve the environment and to minimize any potential environmental impact. This phenomenon is interesting to be researched, since the change in the pattern of their farming activity has improved their prosperity. The research aims to identify the pattern of land use in that area as a result of people’s activity in forming that land use pattern. For this, the research observes directly or indirectly the change of land use in Desa Batur and Desa Dieng Kulon, Batur sub district, Banjarnegara regency, while investigating the factors that influence their activity. It uses a deductive and quantitative method with an explanatory characteristic. The analysis method adopts spatial analysis (logical contouring technique) numeric analysis (table and graph combination technique), and statistic analysis (chi square/X2) The research results reveal that (1) the pattern of Potato Cultivation Innovation spread in Desa Batur and Desa Dieng Kulon follows a spreading diffusion or expansion diffusion with a contagious diffusion characteristic. The social interaction existed previously in Desa Dieng Kulon between the innovator and adopters led to different entries of information flow (potato cultivation innovation) in the two villages, thus different processes of adoption. In Desa Dieng Kulon, the potato cultivation has been adopted since 1980 while in Desa Batur it began in 1984. Potato farmers in Desa Dieng Kulon could reach a total of 100% during the period of 1970 – 2004, while in Desa Batur the total was 82.86% in the period of 1978 – 2004; (2) in general, the speed of potato cultivation spread is highly affected by both physical and non-physical factors. The most important factor that determines the speed of potato cultivation spread in Desa Batur is its social organization (K=0.62); (3) the most influential factor in Desa Dieng Kulon is the farmer’ age (K=0.78); (4) land conservation in Desa Batur and Desa Dieng Kulon does not run well due to the “culture†of the local societies, who found it difficult to balance the economic value of potato crop and the environmental value.
Kata Kunci : Lahan Dataran Tinggi,Pola Pemanfaatan,Usahatani Kentang, land use change, spatial diffusion, factors of influence