Kajian Resiko Kestabilan Lereng Tambang Berdasarkan Karakteristik Geoteknik dan Hasil Pemantauan Lereng dengan Menggunakan Ground Based Synthetic Aperture Radar (GB-Sar) dan Metode AHP pada Pit A dan Pit C, PT. Bumi SuksesIndo, Banyuwangi, Indonesia
Triyanda Prasetya, Dr.rer.nat. Ir. Doni Prakasa Eka Putra, S.T., M.T., IPM. ; Ir. I Gde Budi Indrawan, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM.
2026 | Tesis | S2 Teknik Geologi
Kestabilan lereng merupakan salah satu aspek kritis dalam kegiatan
pertambangan terbuka karena berhubungan langsung dengan keselamatan kerja dan
kelangsungan operasional tambang. Kompleksitas kondisi geologi, terutama pada
batuan yang telah mengalami alterasi hidrotermal dan dipengaruhi oleh struktur
geologi serta kondisi airtanah, meningkatkan potensi terjadinya ketidakstabilan
lereng. Oleh karena itu, diperlukan suatu pendekatan kajian risiko yang
terintegrasi antara karakteristik geoteknik dan data pemantauan lereng secara
kontinu.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji risiko kestabilan lereng tambang
terbuka pada Pit A dan Pit C PT Bumi Suksesindo, Banyuwangi, berdasarkan
karakteristik geologi teknik dan hasil pemantauan lereng menggunakan Ground
Based Synthetic Aperture Radar (GB-SAR). Metode Analytical Hierarchy
Process (AHP) digunakan untuk mengintegrasikan berbagai parameter
geoteknik, meliputi geometri lereng, domain alterasi, struktur geologi,
kualitas massa batuan (GSI), kondisi airtanah, serta pengaruh aktivitas
penambangan, dalam penentuan zonasi bahaya geoteknik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa zonasi bahaya geoteknik pada Pit A
dan Pit C dapat diklasifikasikan ke dalam zona bahaya rendah, sedang, dan
tinggi. Zona dengan tingkat bahaya tinggi umumnya berasosiasi dengan batuan
alterasi lempung hidrotermal, nilai GSI rendah, kerapatan struktur geologi
tinggi, serta area yang menunjukkan pergerakan signifikan berdasarkan data
GB-SAR. Validasi dilakukan dengan membandingkan hasil zonasi bahaya terhadap
nilai faktor keamanan (FoS), data historikal kejadian longsor, serta pola
deformasi lereng hasil pemantauan radar, yang menunjukkan tingkat kesesuaian
yang baik.
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam pengelolaan risiko
kestabilan lereng tambang terbuka, khususnya dalam mendukung pengambilan
keputusan operasional dan penerapan manajemen risiko geoteknik berbasis data
pemantauan lereng.
Slope stability is a critical aspect in open
pit mining operations due to its direct impact on operational safety and mine
productivity. Complex geological conditions, particularly hydrothermally
altered rocks combined with geological structures and groundwater influence,
significantly increase the risk of slope instability. Therefore, an integrated
slope risk assessment approach combining geotechnical characteristics and
continuous slope monitoring data is required.
This study aims to assess slope stability risk
in Pit A and Pit C at PT Bumi Suksesindo, Banyuwangi, based on geotechnical
characteristics and slope monitoring results using Ground Based Synthetic
Aperture Radar (GB-SAR). The Analytical Hierarchy Process (AHP) method was
applied to integrate multiple geotechnical parameters, including slope
geometry, alteration domain, geological structures, rock mass quality (GSI),
groundwater conditions, and mining activity influence, to produce geotechnical
hazard zonation maps.
The results indicate that geotechnical hazard
zonation in Pit A and Pit C can be classified into low, moderate, and high
hazard zones. High hazard zones are generally associated with hydrothermal clay
alteration, low GSI values, high structural density, and areas exhibiting
significant slope deformation based on GB-SAR monitoring data. Validation using
factor of safety (FoS) analysis, historical slope failure records, and radar
displacement patterns shows good agreement with the generated hazard zonation.
This study provides a practical framework for
slope risk management in open pit mining and supports operational
decision-making through the integration of geotechnical characterization and
real-time slope monitoring data.
Kata Kunci : kestabilan lereng, risiko geoteknik, tambang terbuka, Analytical Hierarchy Process, GB-SAR