Laporkan Masalah

Partisipasi masyarakat dalam pembangunan jalan desa :: Studi kasus di Kabupaten Nganjuk

HARMISENO, Hantoro, Prof.Ir. A. Djunaedi, MUP.,Ph.D

2005 | Tesis | Magister Perencanaan Kota dan Daerah

Prasarana jalan adalah salah satu jenis prasarana dasar yang penting dalam rangka menunjang pertumbuhan ekonomi, selain itu pembangunan jalan di perdesaan dapat mengurangi kesenjangan tersedianya prasarana antara daerah perkotaan dan perdesaan. Program pembangunan jalan desa dengan melibatkan partisipasi masyarakat di Kabupaten Nganjuk tersebut dilatar-belakangi oleh adanya keterbatasan dana pembangunan yang dimiliki pemerintah kabupaten dan banyaknya usulan masyarakat, di samping sebagai upaya untuk memenuhi salah satu kebutuhan dasar masyarakat di perdesaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasikan bentuk, tingkat dan hasil partisipasi masyarakat, serta menjelaskan faktor-faktor yang dapat diduga mempengaruhi hasil partisipasi masyarakat dalam program tersebut. Penelitian ini mengikuti logika berpikir deduktif, dengan menggunakan metode analisis kuantitatif-kualitatif. Analisis data kuantitatif dilakukan dengan menggunakan analisis statistik regresi linier terhadap data sekunder, sedangkan analisis kualitatif dilakukan dengan menginterpretasikan pernyataan responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada umumnya masyarakat perdesaan menyambut baik program tersebut, dan mengharapkannya untuk terus dilaksanakan. Hal tersebut diindikasikan antara lain dengan adanya pelaksanaan sosialisasi program tersebut oleh para pimpinan desa kepada warga masyarakat, tingkat kehadiran masyarakat yang cukup tinggi dalam musyawarah, dan kemauan masyarakat untuk bergotong-royong dalam pelaksanaan pembangunan jalan desa itu, serta upaya pengerahan segala potensi yang ada di desa-desa dalam pembiayaan. Adanya partisipasi masyarakat dalam program tersebut telah dapat menghemat dana pembangunan pemerintah kabupaten. Hasil partisipasi masyarakat dalam program tersebut secara dominan dipengaruhi oleh faktor kuantitas sumber daya manusia yang berpartisipasi, dan faktor tersebut dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan masyarakat akan jalan aspal, rasa kebersamaan serta efektifitas kepemimpinan lokal. Hal tersebut menunjukkan, bahwa prinsip gotong-royong masih dilakukan oleh masyarakat, dan di sisi lain mengindikasikan bahwa faktor modal sosial (social capital) lebih berpengaruh daripada faktor modal manusia (human capital). Sebagian besar masyarakat desa berpartipasi dalam proses pembangunan jalan desa tersebut. Wujud partisipasi mereka adalah dalam bentuk keterlibatan dalam pengambilan keputusan dalam musyawarah, mengendalikan kualitas hasil pembangunan, serta kontribusi uang, material dan tenaga. Berdasarkan konsep Arnstein (Eight Rungs on a Ladder of Citizen Participation), partisipasi masyarakat dalam program tersebut tergolong pada tingkat kekuasaan masyarakat. Penelitian juga menemukan tidak adanya korelasi yang signifikan antara tingkat dan hasil partisipasi masyarakat.

Road is one of several kinds of basic infrastructure that has an important role in supporting economy growth; and road development in rural areas can decrease the disparity of infrastructures availability between urban and rural areas. Lack of development funds from the local government and many of the rural people’s suggestions for rural road development were the cause of the rural road development program involving community participation. It was also an effort of fulfilling one type of basic needs of rural communities. This research aims to identify the forms, the level, and the output of the community participation, as well as to explain factors influencing the output of the community participation in the program. This research was based on a deductive reasoning and quantitative-qualitative analysis method. Quantitative data analysis was conducted by using linear regression statistic analysis of secondary data, and qualitative analysis was done by using interpretations of the respondents’ statements. This research result showed that, in general, the rural community appreciated the program, and they expected that the program would be applied continuously. It was indicated by the socialization of the program conducted to citizens by the local leaders, the people’s presence in the meetings, the manpower contribution in participating of the rural road development, and also their efforts to explore their capabilities in funding the program. The community participation in the program has saved the local government’s money. The output of community participation in the program was dominantly influenced by a factor of number of people involving in the participation action; the factor was influenced by three elements, i.e. level of people’s need (to asphalt road), sense of togetherness, and effectiveness of local leadership. This matter indicated that the gotong-royong (togetherness) principal was still applied by the rural community in the activity, and the output of community participation was more influenced by social capital factors rather than human capital factors. Most of the rural people participated in the rural road development process. The participation includes decision making, quality control of the development output (the asphalt road), and contribution of money, material, and manpower. Based on the Arnstein’s concept, Eight Rungs on a Ladder of Citizen Participation, the people’s participation in the program was categorized as “people’s power level”. This research also found that there was no significant correlation between the level and the output of community participation.

Kata Kunci : Pembangunan Jalan,Partisipasi Masyarakat, participation, community, development


    Tidak tersedia file untuk ditampilkan ke publik.