Penerjemahan Takarir Sapaan Bahasa Jepang ke dalam Bahasa Indonesia dalam J-Dorama
Yayan Suyana, Prof. Dr. Suhandano, M.A.
2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Penerjemahan yang terdapat dalam takarir produk audiovisual memiliki perbedaan dengan penerjemahan secara umum karena terdapat keterbatasan, misalnya keterbatasan spasial maupun waktu. Salah satu penerjemahan yang terdapat dalam takarir drama atau film adalah penerjemahan terkait penggunaan sapaan. Sapaan sendiri dalam pemakaiannya tidak hanya melibatkan unsur-unsur linguistik, tetapi juga berkaitan dengan faktor sosial budaya.
Dalam disertasi ini dibahas penerjemahan sapaan Bahasa Jepang ke dalam Bahasa Indonesia yang terdapat dalam 12 drama dan film Jepang (J-Dorama). Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dan teori terkait penerjemahan, linguistik dan sosial budaya. Dari data sebanyak 342 sapaan diklasifikasikan variasi bentuk sapaan Bahasa Jepang dan penerjemahannya ke dalam Bahasa Indonesia. Selain itu juga dibahas tentang strategi dan ideologi dalam penerjemahan kata sapaan, kesepadanan hasil penerjemahan dan faktor-faktor yang menyebabkan ketidaksepadanan.
Hasil penelitian menunjukkan terdapat 12 variasi bentuk sapaan yakni sapaan nama diri berupa nama keluarga, nama diri berupa nama pemberian, nama diri berupa nama keluarga+sufiks kehormatan/keakraban, nama diri berupa nama pemberian+sufiks kehormatan/keakraban, kekerabatan, pronomina persona kedua, sapaan berkaitan jabatan pekerjaan dan status sosial, sapaan bentuk nol yang dibagi lagi menjadi bentuk nol berupa ucapan salam, bentuk nol berupa interjeksi, bentuk nol berupa kalimat interogatif, bentuk nol berupa kalimat deklaratif, dan yang terakhir adalah sapaan kombinasi. Berkaitan dengan strategi penerjemahan, ditemukan strategi transfer 133 data (38,80%) , parafrase 103 data (30,12%), imitasi 35 data (10,23%), kondensasi 29 data (8,48%), penghapusan 17 data (4,97%), penambahan 13 data (3,80%), imitasi+kondensasi 11 data (3,22%), dan pembiaran 1 data (0,29%). Terkait ideologi penerjemahan sebanyak 311 data (90,93%) menggunakan ideologi domestikasi dan 31 data (9,07%) menggunakan ideologi foreignisasi. Untuk kesepadanan terdapat tiga bentuk kesepadanan yaitu kesepadanan penuh, parsial dan tidak sepadan. Penyebab ketidak sepadanan atau pergeseran ini adalah faktor linguistik yang meliputi perbedaan gramatikal linguistik antara Bsu dengan Bsa diantaranya perbedaan sistem sufiks kehormatan dan keakraban perbedaan penggunaan pronomina persona, perbedaan sistem ucapan salam. Adapun pergeseran atau ketidak sepadanan karena faktor sosial budaya meliputi faktor, usia, jenis kelamin, relasi sosial. Faktor budaya Bsu seperti terdapatnya budaya jouge kankei (budaya atas bawah), sempai-kouhai (senioritas), uchi-soto (orang dalam orang luar), wakimae (kesadaran posisi sosial).
Subtitling as part of audiovisual product translation, differs from general translation due to limitations, such as spatial and time constraints. On the other hand, in human speech events, the use of address form is common. The use of address form not only involves linguistic elements but also relates to socio-cultural factors.
This dissertation discusses the translation of Japanese address forms into Indonesian in 12 Japanese dramas and films (J-Dorama). The research uses qualitative descriptive methods and theories related to translation, linguistics, and sociocultural factors. From a total of 342 address forms, the variations in Japanese address forms and their translations into Indonesian were classified. It also discusses the strategies and ideologies in translating. The results of the study show that there are 12 variations of forms of address, namely self-names in the form of family names, self-names in the form of given names, self-names in the form of family names + honorific/familiarity affixes, given names with honorific/familiarity affixes, kinship terms, second-person pronouns, greetings related to job titles and social status, zero forms which are further divided into zero forms in the form of greetings, zero forms in the form of interjections, zero forms in the form of interrogative sentences, zero forms in the form of declarative sentences, and finally, combination greetings. Regarding translation strategies, 133 data (38.80%) were found to be transfer strategies, 103 data (30.12%) were paraphrases, imitation in 35 data (10.23%), condensation in 29 data (8,48.2%), deletion 17 data (4,97%), expansion in 11 data (3.80%), imitation + condensation in 11 data (3.2%), and resignition in 1 data (0.30%). Regarding translation ideology, 311 data (90.93%) used the ideology of domestication and 31 data (9.07%) used the ideology of foreignization. There are three forms of equivalence: full equivalence, partial equivalence, and non-equivalence. The causes of non-equivalence or shifts are linguistic factors, including grammatical differences between Bsu and Bsa, such as differences in the systems of honorific and familiar affixes, differences in the use of personal pronouns, and differences in the greeting system. Meanwhile, shifts or incompatibilities due to socio-cultural factors include age, gender, and social relations. Bsu cultural factors include the existence of jouge kankei (top-down culture), sempai-kouhai (seniority), uchi-soto (insiders and outsiders), and wakimae (social position awareness).
Kata Kunci : ideologi,kesepadanan,penerjemahan,takarir,strategi