PROBLEM MORAL KEKERASAN SEKSUAL PADA ANAK DALAM PERMAINAN DONGCHIM DITINJAU DARI TEORI PERKEMBANGAN MORAL LAWRENCE KOHLBERG
Yasmin Ananda Ara, Dr. Iva Ariani, S.S.,M.Hum.; Sri Yulita Pramulia Panani, S.Fil. M. Phill.
2026 | Skripsi | ILMU FILSAFAT
Kekerasan seksual antar anak merupakan persoalan serius yang
kerap terabaikan ketika dikemas dalam praktik budaya yang dinormalisasi sebagai
permainan. Salah satu contoh adalah dongchim, praktik menusuk area anus dengan jari
yang lazim dilakukan dalam konteks budaya Korea Selatan. Praktik ini sering
dipahami sebagai gurauan, padahal melibatkan pelanggaran terhadap integritas
tubuh dan otonomi anak. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik dongchim
sebagai bentuk kekerasan seksual antar anak berdasarkan teori perkembangan
moral Lawrence Kohlberg, khususnya dalam kaitannya dengan prinsip keadilan,
martabat manusia, dan kesadaran moral anak. Penelitian ini menggunakan metode
filsafat sistematis reflektif dengan teknik kajian kepustakaan, analisis
wacana, dan interpretasi reflektif terhadap sumber-sumber filosofis dan empiris
yang relevan. Pendekatan ini digunakan untuk menelaah bagaimana praktik
dongchim dipahami, dinormalisasi, dan dibenarkan lingkungan sosial, serta bagaimana
anak sebagai pelaku dan korban membangun pertimbangan moralnya dalam kerangka
perkembangan moral. Hasil penelitian ini menunjukkan praktik dongchim
melibatkan pelanggaran terhadap integritas tubuh dan otonomi anak karena
dilakukan tanpa persetujuan sadar, sehingga secara moral dapat dikategorikan
sebagai kekerasan seksual. Dalam perspektif perkembangan moral Kohlberg, baik
pelaku maupun korban berada pada tingkat pra-konvensional (tahap 1 dan 2)
dengan orientasi moral yang masih egosentris dan timbal balik instrumental .
Berdasarkan analisis tersebut, penelitian ini merumuskan temuan konseptual
penulis berupa “filsuf egois” pada pelaku anak, yaitu konstruksi analitis
penulis untuk menjelaskan subjek moral anak yang aktif membangun penilaiannya
sendiri, tapi belum mampu menjadikan keadilan dan martabat manusia sebagai
dasar penilaian moral universal, karena orientasi moral masih terikat
kepentingan diri dan konsekuensi langsung. Normalisasi dongchim mencerminkan
kegagalan etis kolektif lingkungan sosial anak dalam membina perkembangan moral
serta melindungi hak dan martabat anak, sehingga anak tidak saling menghargai.
Kegagalan lingkungan ini juga mencerminkan kecenderungan penalaran moral
lingkungan sosial pada tingkat konvensional rendah tahap 3.
Sexual violence between children is a serious issue that is
often overlooked when it is framed as a cultural practice normalized as play.
One example is dongchim, the practice of poking the anus with a finger, common
in South Korean culture. This practice is often understood as a joke, but it
actually involves a violation of the child's bodily integrity and autonomy.
This study aims to analyze the practice of dongchim as a form of sexual
violence between children based on Lawrence Kohlberg's theory of moral development,
particularly in relation to the principles of justice, human dignity, and
children's moral awareness. This study uses a systematic, reflective philosophy
method using literature review, discourse analysis, and reflective
interpretation of relevant philosophical and empirical sources. This approach
is used to examine how the practice of dongchim is understood, normalized, and
justified by the social environment, and how children, as perpetrators and
victims, construct their moral judgments within the framework of moral
development. The results of this study indicate that the practice of dongchim
involves a violation of the child's bodily integrity and autonomy because it is
carried out without their informed consent, and therefore can be morally categorized
as sexual violence. From Kohlberg's perspective on moral development, both
perpetrators and victims are at the pre-conventional level (stages 1 and 2)
with a moral orientation that is still egocentric and instrumental reciprocity.
Based on this analysis, this study formulates the author's conceptual findings
in the form of "egoistic philosophers" in child perpetrators, namely
the author's analytical construction to explain the moral subject of children
who actively construct their own judgments, but are unable to make justice and
human dignity the basis of universal moral judgments, because moral orientation
is still bound by self-interest and direct consequences. The normalization of
dongchim reflects the collective ethical failure of the child's social
environment in fostering moral development and protecting children's rights and
dignity, resulting in children not respecting each other. This environmental
failure also reflects the tendency of the social environment's moral reasoning
to be at the low conventional level of stage 3.
Kata Kunci : kekerasan seksual, dongchim, perkembangan moral, Lawrence Kohlberg, kekerasan seksual pada anak