Integrasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk studi kebakaran hutan dan lahan di sebagian daerah kabupaten Bengkalis Riau (Studi kasus kebakaran hutan dan lahan periode Januari-Maret 2002)
Feber Antarius Ginting, Dr. Hartono, DEA., DESS.; Drs. Retnadi Heru Jatmiko, M.Sc.
2004 | Skripsi | S1 KARTOGRAFI DAN PENGINDERAAN JAUHPenelitian ini berjudul "Integrasi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis untuk Studi Kebakaran Hutan dan Lahan di Sebagian Daerah Kabupaten Bengkalis, Riau (Studi Kasus Kebakaran Hutan dan Lahan Periode Januari Maret 2002)". Tujuan penelitian meliputi 3 hal, yaitu 1) memperoleh parameter penggunaan lahan dan aksesibilitas wilayah dari data penginderaan jauh, 2) membangun basis data bio-fisik lahan untuk studi kebakaran hutan dan lahan berdasarkan data penginderaan jauh, peta-peta tematik, data sekunder, dan kegiatan lapangan, serta 3) mengetahui hubungan dari masing-masing kategori parameter pengaruh terhadap peristiwa kebakaran hutan dan lahan yang telah berlangsung pada daerah penelitian. Tujuan-tujuan penelitian tersebut dapat dicapai dengan menggunakan metode penelitian sebagai berikut: Parameter penggunaan lahan diperoleh dari hasil interpretasi citra satelit Landsat ETM+ path/row 126/59 dan 127/59. Parameter aksesibilitas wilayah selain menggunakan data penginderaan jauh dilengkapi juga dengan Peta Rupabumi Indonesia skala 1: 50.000, Peta Fungsi dan Status Jaringan Jalan skala 1: 250.000 serta Peta Kondisi Areal PT. HTI Arara Abadi skala 1: 100.000. Berdasarkan parameter-parameter yang diperoleh dari data penginderaan jauh tersebut, peta-peta tematik (Peta Hot Spot Kumulatif, Peta Tanah, Peta Status Hutan) dan dilengkapi dengan data sekunder (posisi hot spot, data cuaca harian) maupun hasil survei lapangan maka dibangun basis data bio-fisik lahan untuk kajian kebakaran hutan dan lahan dengan menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG). Hasil interpretasi penggunaan lahan menggunakan citra satelit Landsat ETM+ terdiri dari 12 kategori penggunaan lahan, yaitu hutan, hutan bakau, hutan akasia, kebun sawit, kebun karet, tegalan, semak belukar, sawah, lahan terbuka, rawa, permukiman, dan danau/tasik. Untuk aksesibilitas wilayah, jaringan jalan terdiri dari 3 kategori, yaitu jalan propinsi, jalan kabupaten, dan jalan lain (jalan perkebunan, logging, dan desa). Alur sungai terdiri atas, sungai utama, sungai cabang pertama, dan sungai cabang kedua. Untuk kanal investor HTI hanya terdiri dari 1 kategori. Basis data yang dihasilkan merupakan kumpulan dari berbagai informasi tematik yang memiliki hubungan keruangan dan disimpan dalam format vektor. Berdasarkan analisis statistik deskriptif terhadap data tabuler dari basis data, maka dapat diketahui hubungan dari masing-masing kategori parameter pengaruh terhadap peristiwa kebakaran hutan dan lahan. Untuk kategori penggunaan lahan yang memiliki jumlah hot spot terbesar berturut-turut adalah hutan yang sedang mengalami konversi (64,48%), hutan tanaman industri (24,48%), dan kebun sawit (7,76%). Kategori status hutan yang sangat rentan terjadi kebakaran adalah HTI (55,82%) dan hutan produksi lain (29,85%). Untuk jenis tanah telah terbukti bahwa lahan gambut sangat rentan terbakar dalam kondisi yang kering, terbukti pada tanah tropohemist (73,73%) dan tanah troposaprist (10,45%) merupakan jenis tanah yang memiliki jumlah hot spot terbesar Aksesibilitas buatan (jaringan jalan dan kanal investor HTI) memiliki hubungan yang positif terhadap jumlah hot spot, yaitu semakin dekat dengan jalan semakin besar jumlah hot spot, namun aksesibilitas alami (sungai) tidak memiliki hubungan yang jelas dengan jumlah hot spot. Hubungan parameter cuaca harian terhadap jumlah hor spor dihasilkan bahwa kondisi kering yang terakumulasi dalam beberapa waktu (curah hujan menurun, kelembapan relatif menurun, dan temperatur maksimum meningkat) mendukung bagi berlangsungnya kebakaran hutan dan lahan baik dalam hal luas, intensitas, dan lamanya kebakaran.
The title of this research is "Integration of Remote Sensing and Geographic Information System for Forest and Land Fire Study in Parts of Bengkalis District, Riau (Case Study of Forest and Land Fire Happened on January March 2002)". The aims of this research are, 1) to get parameters of land use and region accessibility from remotely sensed data, 2) to create land bio-physical database for forest and land fire study based on remotely sensed data, thematic maps, secondary data, and land surveying, and 3) to know the relationship of each categories of influence parameters to the existing forest and land fire in the interest area. The aims can be reached by using some methods, they are, land use parameter extracted from Landsat ETM+ imagery path/row 126/59 and 127/59. Parameter of region accessibility, besides use remotely sensed data also completed by Rupabumi Indonesia maps 1:50,000, Fungsi dan Status Jaringan Jalan maps 1:250,000, and Kondisi Areal PT. IITI (Industrial Forest Plantation) Arara Abadi maps 1:100,000. Based on parameters that acquired from remotely sensed data, thematic maps, added use secondary data and land surveying will create land bio-physical database for studying forest and land fire using Geographic Information System (GIS). Result of land use interpretation from remotely sensed data consist of 12 categories, they are forest, mangrove, acasia forest, oil palm plantation, rubber plantation, dry land cultivation, bush and shrub, wetland rice, open land, marsh, settlement, and lake. For accessibility region, road network consist of 3 categories, namely province road, district road, and other road (plantation, logging, and local road). River consist of 3 categories, namely main river, first order of river, and second order of river. For canals investor HTI only I category. Data base was result from thematic information have spatial relation and saved in vector format. Based on statistic descriptive analysis, the relationship of categories from influence parameters to forest and land fire can be known. Land use categories that have high quantity hot spots are forest in conversion (64.48%), industrial forest plantation (24.48%), and oil palm plantation (7.76%). Status of forest category that risk to be burnt are plantation forest (55.82%) and the other production forest (29.85%). While for soil category is proved that peat soil is very risk to be fired in dry wheather condition. The facts are tropohemists soil (73.73%) and troposaprists soil (10.45%) have higher quantity of hot spot. Artificial accessibilities (road network and canals of investors HTI) have positive relation with hot spot, nearer to accessibility more risk to be burnt, but natural accesibilities (river) do not have distinct relation with hot spot. For relation between daily weather parameters with hot spot were resulted that dry condition that accumulated for some periodes (decreasing of rainfall, decreasing of relative humidity, and increasing of maximum temperature) stimulates for carrying on forest and land fire as well area, intensity, and duration of fire
Kata Kunci : Integrasi penginderaan jauh,Sistem informasi geografis,Kebakaran hutan,kebakaran lahan