Laporkan Masalah

Pendapatan pekerja sektor informal:suatu perbandingan antara kota Yogyakarta dengan kabupaten Gunung Kidul

Muhammad Zakir Akbar, Drs. Sukamdi, M.Sc

2001 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Kegagalan sektor pertanian menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang besar, karena tidak mampu memberikan jaminan hidup sejahtera bagi pekerjanya. Di satu sisi hal ini sebagai akibat dari konsentrasi modal, tenaga kerja terampil dan sumberdaya ke kota. Di sisi lain terjadinya mobilitas penduduk secara besar-besaran ke daerah perkotaan menyebabkan terjadinya pembengkakan cadangan tenaga kerja di perkotaan, yang pada gilirannya bagi mereka yang tidak dapat tertampung dalam lapangan pekerjaan formal yang ada di kota menciptakan kegiatan ekonomi yang kemudian dikenal dengan terminologi sektor informal. Perbedaan latar belakang sosial, ekonomi dan budaya mereka yang memasuki sektor ini menyebabkan pendapatan pekerja sektor informal cukup beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menjelaskan perbedaan pendapatan pekerja sektor informal menurut jenis usaha, jumlah modal dan lokasi usaha dengan membandingkan antara pekerja sektor informal di Kota Yogyakarta dan di Kabupaten Gunung Kidul. Teknik analisis yang digunakan adalah perpaduan antara analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Secara kuantitatif dilakuakn uji statistik chi kuadrat dan uji korelasi produk moment, serta secara kualitatif dilakukan analisis elaborasi data yang ditunjukkan melalui tabel silang. Di Kota Yogyakarta pendapatan pekerja sektor informal yang bekerja pada jenis usaha makanan dan minuman memiliki pendapatan yang lebih besar daripada yang bekerja pada jenis usaha lainnya. Sebaliknya di Kabupaten Gunung Kidul pekerja sektor informal yang bekerja pada jenis usaha non-makan mempunyai pendapatn yang lebih besar dibandingkan dengan jenis usaha lainnya. Dalam hal jumlah modal, tampak secara jelas bahwa dikedua daerah penelitian modal memiliki peranan yang cukup signifikan dalam meningkatkan pendapatan pekerja sektor informal. Artinya semakin besar jumlah modal yang dimiliki oleh pekerja sektor informal semakin besar pula pendapatannya. Sedangkan untuk kategori wilayah ditemukan bahwa rata-rata pendapatan pekerja sektor informal di Kota Yogyakarta lebih besar daripada pendapatan pekerja sektor informal di Kabupaten Gunung Kidul. Dengan demikian, perbedaan pendapatan pekerja sektor informal berhubungan dengan jenis usaha, jumlah modal dan wiayah tempat sektor informal tumbuh dan berkembang.

The Failure of agricultural sector in absorbing a great number of labors is an effect of disability in providing warranty to live prosperously. On one hand, this is as result of concentrating capitals, skilled labors and resources on cities. On the other hand, population mobility in a large scale from villages to cities has brought about an increase of labors reserves in the cities, that in turn, those who are not accommodated in formal job vacancies available in the cities create an economic activity, that in turn, it is known as a terminology of informal sector. Background differences in social, economy and culture of those who are coming into this sector cause labors income of informal sector has many diversities. This research is aimed at studying and explaining income differences of informal sector labors viewed from type of business, total of capital and location of business by comparing between labors of informal sector in Yogyakarta Cities and Gunung Kidul Regency. Technique of data analysis used in this research is an synthesis between qualitative and quantitative analysis. Quantitatively, it is performed a statistical test of chi square and a correlation test of product moment, as well qualitatively it is performed an elaborating data analysis that is present in the form of crossing table. In Yogyakarta cities, the informal sector labors working in a business type of eating and drinking have higher income than those working in the other types of business. On the contrary, in Gunung Kidul Regency, the informal sector labors who working in a type of non-eating business have higher income than those who work in the other types of business. According to the total capital, it appears obviously that in both research regions capital plays a significant enough role in increasing income of the informal sector labors. It means that the higher the capital had by the informal sector labors, the higher the income gotten by them. While according to the region, it is found that the average income of the informal sector in Yogyakarta City is higher than that in Gunung Kidul regency. Therefore, income differences of the informal sector is related to type of business, total of capital and region in which the informal sector is growing and developing.

Kata Kunci : Pendapatan pekerja,Pekerja sektor informal,Kota Yogyakarta,Gunungkidul,DIY

  1. S1-2001-101056-Abstract.pdf  
  2. S1-2001-101056-Bibliography.pdf  
  3. S1-2001-101056-TableofContent.pdf  
  4. S1-2001-101056-Title.pdf