Politik Islam Kolonial dan Klaim Kepemimpinan Fam B??abud di Pesantren Bulus Purworejo, Bagelen 1845-1913
Himayatul Ittihadiyah, Prof. Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A.
2025 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Disertasi ini mengungkap sejarah kekerasan politik kolonial Belanda terhadap Islam dan pesantren di Bagelen pasca Perang Jawa. Melalui tangan para elit baru di Purworejo Pemerintah Hindia Belanda berhasil menerapkan kebijakan politik ruang (spatial policy) untuk melanggengkan kekuasaannya di tanah kolonial. Kasus pemindahan pesantren yang dipimpin Kiai Ahmad Alim (Mbah Ngalim) yang kemudian dikenal sebagai Pondok Pesantren Bulus adalah fakta sejarah terkait dampak dari penerapan kebijakan tersebut. Mbah Ngalim dan pesantrennya telah mengalami, sedikitnya dua kali kekerasan atas nama kebijakan yang dimaksud. Pertama adalah pemindahan (displacement) lokasi pesantren, yaitu dari Desa Kalikepuh (kawasan yang dekat dengan pusat kekuasaan baru, yaitu Purworejo) ke kawasan pinggiran yang kemudian dikenal sebagai Desa Bulus. Kedua, adalah terkait penggantian (replacement) kepemimpinan keluarga Mbah Ngalim di Pondok Pesantren Bulus oleh keluarga B??Abud.
Penelitian ini ditulis dengan menggunakan sumber-sumber sejarah lokal berupa babad dan kepustakaan keluarga seperti catatan-catatan genealogi, dan juga sumber kolonial berupa arsip dan laporan-laporan pemerintah. Selain itu juga menggunakan sumber benda (artifact) berupa jejak sejarah pesantren dan juga sumber-sumber sejarah mental (mentifact) baik sumber lisan maupun tulisan yang relevan dengan objek penelitian. Dengan pendekatan hermeneutika-fenomenologi-nya Paul Ricoeur, riset ini berhasil membongkar jaringan elit politik lokal di Purworejo yang digunakan pemerintah Hindia Belanda secara halus untuk mendepolitisasi Pesantren Bulus. Riset ini mengungkap makna di balik narasi kisah fiktif bertajuk “Wasiat Mbah Ngalim” yang diproduksi untuk tujuan legitimasi. Dengan konsep “Stranger King” riset ini berhasil menjelaskan bagaimana keluarga B??Alawi-Jawa dari fam B??Abud telah memanipulasi sejarah dengan mengglorifikasi pendahulunya, yaitu Ali B??Abud, seolah-olah sebagai cucu Sultan HB II sekaligus menantu Mbah Ngalim yang menerima mandat atas keberlanjutan dan kepemimpinan Pesantren Bulus. Dalam kasus ini, keluarga B??Abud, sebagai pihak yang digunakan oleh kekuasaan politik kolonial maupun elit politik lokal berhasil memanfaatkan peluang tersebut untuk mempertahankan legitimasi kekuasaannya dengan mengubah narasi penggusuran (replacement) menjadi penyerahan (wakaf) dengan menciptakan kisah fiktif bertajuk “Wasiat Mbah Ngalim”.
This dissertation reveals the history of political violence perpetrated by the Dutch East Indies government against pesantren in Bagelen after the Java War. Through the hands of new local elites in Purworejo, the government successfully implemented a harsh spatial policy. The cases of Kiai Ahmad Alim (Mbah Ngalim) and the Pesantren Bulus are historical facts that illustrate the impact of implementing these policies. Mbah Ngalim and his pesantren experienced at least two instances of violence in the name of these policies. The first was the relocation of the pesantren from Kalikepuh Village (an area close to the new center of power, Purworejo) to a suburban area that later became known as Bulus Village. The second was the replacement of Mbah Ngalim's family leadership at the Pesantren Bulus by the B??Abud family.
This research was conducted using local historical sources, such as chronicles and family literature (e.g., genealogical records), as well as colonial sources, such as archives and government reports. In addition, it also used artifact sources in the form of traces of pesantren and mental history sources (mentifacts), both oral and written, relevant to the research object. Using Paul Ricoeur's hermeneutic-phenomenological approach, this research successfully uncovered the local political elite network in Purworejo that the Dutch East Indies government used to silence political efforts to depoliticize Pesantren Bulus. This research also succeeded in revealing the meaning behind the fictional narrative entitled “Wasiat Mbah Ngalim”, which was produced for legitimization. Using the concept of the “Stranger King,” this research successfully explains how the B??Alawi-Javanese family from the B??Abud clan manipulated history by glorifying their predecessor, Ali B??Abud, as if he were the grandson of Sultan HB II and son-in-law of Mbah Ngalim, who became the Stranger King had received a mandate for the continuity and leadership of the Pesantren Bulus. In this case, the B??Abud family, as a party used by both colonial political powers and local political elites, successfully took advantage of this opportunity to maintain the legitimacy of their power by changing the narrative of eviction (replacement) to surrender (waqf) by creating a fictional story entitled “Wasiat Mbah Ngalim”.
Kata Kunci : Depolitisasi Pesantren, Fam B??abud, Kolonialisme, Pesantren Bulus, Politik Islam kolonial, Stranger King