Faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan pedagang kaki lima yang membuka usaha makanan dan minuman pada malam hari di jalan utama Utara Yogyakarta
Nurhanafiansyah, Drs. Alip Sontosudarmo, M.S.; Dra. Kistini, M.S.
1994 | Skripsi | S1 GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGANPermasalahan ketenagakerjaan di Indonesia yang hingga kini belum dapat dipecahkan secara baik adalah tidak seimbangnya antara kesempatan kerja dengan pertumbuhan angkatan kerja. Alhasil, timbul permasalahan baru, yakni pengangguran. Sungguhpun demikian, sektor informal ternyata banyak menampung angkatan kerja yang menganggur tersebut, sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran yang ada. Hal ini menyebabkan semakin banyak tenaga kerja yang bekerja di sektor informal. Lokasi penelitian tentang sektor informal, khususnya pedagang kaki lima yang membuka usaha makanan dan minuman pada malam hari adalah, Jalan Laksda Adi Sucipto, Jalan Jenderal Urip Sumoharjo, Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Pangeran Diponegoro. Tujuan penelitian ini adalah ingin mengungkapkan beberapa masalah yang berhubungan dengan pedagang kaki lima yang membuka usaha makanan dan minuman pada malam hari. Setelah dilakukan pencacahan, ditetapkanlah 120 responden yang jadi obyek penelitian dari 204 populasi, dengan tiga kelompok jenis dagangan. Kelompok I terdiri dari Nasi Goreng, Minuman, "Angkringan" dan kelompok Lain-lain yang terdiri dari Mie Ayam, Mie Bandung, Warung Padang, Bakso, Pukis, Lumpia, Gorengan dan Martabak. Kelompok II terdiri dari Sate, Pecel Lele dan Nasi Gudeg. Kelompok III terdiri dari "Seafood" dan Burung Dara Goreng. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara langsung pada malam hari serta melalui pengumpulan data sekunder yang berkaitan dengan pedagang kaki lima. Setelah data terkumpul, lalu diolah dengan menggunakan metode tabulasi frekuensi dan tabulasi silang dengan memanfaatkan metode statistik Kai Kuadrat dan Korelasi Spearman. Titik berat penelitian ini adalah agihan spasial, keadaan sosial ekonomi dan faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan adalah lokasi, jenis dagangan, modal usaha, tingkat pendidikan dan jumlah tenaga kerja, sedangkan. pengalaman kerja ternyata tidak berpengaruh secara signifikan.. Sebagian besar pedagang kaki lima yang membuka usaha makanan dan minuman pada malam hari telah menekuni profesinya rata-rata 4,9 tahun dengan berstatus sudah kawin. Umur rata-rata pedagang laki-laki adalah 38,4 tahun dan pedagang perempuan 32,3 tahun, di mana separohnya berasal dari luar DIY, dengan rata-rata ganti pekerjaan. sebanyak 2,5 kali serta menyerap tenaga kerja rata-rata 2,1 orang per unit usaha. Rata-rata modal usaha mereka adalah Rp.791.250,, dengan pendapatan rata-rata per bulan. Rp.740.244, Pendapatan yang mereka peroleh semuanya berada di atas rata-rata Kebutuhan Fisik Minimum (KFM) untuk wilayah Yogyakarta. Hal ini berarti pula bahwa prospek pedagang kaki lima di daerah penelitian penulis cukup cerah
-
Kata Kunci : Pedagang kaki lima,Pendapatan pedagang,Usaha makanan dan minuman,Kota Yogyakarta,DIY