Penyakit Trofoblastik Tinjauan Kasus Selama 5 Tahun (1988-1992) Di RSUP Dr. Sardjito
Utomo Budisantosa, Dr. Burham Warsito ; dr. E. Suryadi, SU
1994 | Skripsi | S1 KEDOKTERANPenyakit trofoblastik menjadi penting karena penyebabnya belum diketahui. Insidensi penyakit trofoblastik di Asia termasuk di Indonesia relatif lebih tinggi dibandingkan di negara Barat, Tingkat sosial ekonomi yang rendah sering dikaitkan dengan keadaan ini. Penelitian ini diharapkan akan dapat diperoleh gambaran mengenai besarnya insidensi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui insidensi penyakit trofoblastik, meneliti distribusi penyakit trofoblastik menurut pekerjaan suami, umur, paritas, golongan darah, perkembangan tinggi fundus uteri dan kadar hemoglobin (Hb), mengetahui gejala-gejala klinis dan jenis terapi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif retrospektif berdasarkan data sekunder yang diambil dari catatan medik selama periode 1 Januari 1988 - 31 Desember 1992, Subyek penelitian ini adalah semua penderita yang jelas diagnosis sebagail penyakit trofoblastik baik secara klinis, radiologis, USG, PA, juga dicatat jumlah persalinan, abortus dan kehamilan ektopik terganggu (KET) pada periode yang sama. Hasil penelitian ini terdapat..84 kasus penyakit trofoblastik terdiri dari 52 mola hidatidosa, 5 mola invasif dan 27 koriokarsinoma, jumlah kehamilan tercatat 7137 terdiridari 6096 persalinan, 968 abortus dan 73 kehamilan ektopik terganggu. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa insidensi penyakit trofoblastik masih cukup tinggi, mola hidati- dosa 1:137 kehamilan, mola invasif 1:1427 kehamilan dan koriokarsinoma 1:264 kehamilan. Sebagian besar kasus mempunyai tingkat sosial ekonomi rendah, Mola hidatidosa terbanyak pada usia reproduksi 20-24 tahun (42,3%), mola invasif pada umur 25-29 tahun dan 35-39 tahun masing-masing 2 kasus (40%) dan perubahan menjadi koriokarsinoma terbanyak pada umur ) 40 tahun sebanyak 9 kasus (33,3%). Mola hidatidosa didapatkan sebanyak 20 kasus (38,5%) pada paritas O, mola invasif pada paritas » 5 sebanyak 2 kasus (40%) dan koriokarsinoma pada paritas 1 sebanyak 8 kasus (29,63%). Mola hidatidosa sebanyak 21 kasus (40,4%) bergolongan darah O, mola invasif masing-masing 2 kasus (40%) bergolongan darah AB dan O, 8 kasus koriokarsinoma (38,1%) ber-golongan darah B. Sebagian besar mola hidatidosa (44,2%) mempunyai tinggi fundus uteri sesuai dengan umur kehamilan > 20 minggu, mola invasif masing-masing 2 kasus (40%) sesuai dengan umur kehamilan < 20 minggu dan tak teraba, koriokarsinoma sebanyak 13 kasus (48,2%) tak teraba. Sebagian besar kasus penyakit trofoblastik mempunyai kadar Hb 2> 10 g% dan mempunyai gejala utama perdarahan., Kuretase merupakan jenis terapi utama pada mola hidatidosa dan Methotrexate (MTX) merupakan terapi utama pada koriokarsinoma. Untuk menurunkan insidensi penyakit trofoblastik ganas perlu dipertimbangkan histerektomi pada pasca mola hidatidosa serta peningkatan pengawasan lanjutan pada pasca mola hidatidosa. Untuk mengurangi morbidi= tas koriokarsinoma untuk tidak melahirkan lagi pada usia > 40 tahun. Tiap wanita yang sudah menikah dianjurkan mengikuti Keluarga Berencana (KB).
Kata Kunci : trofoblastik