Laporkan Masalah

ANALISIS WACANA INKLUSIVITAS PADA SITUS WEB MEREK BUSANA NON-GENRÉE ASSIAKARA

Marsya Dewani, Dr. Aprilia Firmonasari, M.Hum., DEA

2026 | Skripsi | SASTRA PERANCIS

Inklusivitas menjadi isu yang semakin berkembang seiring dengan diversitas sosial yang ada dalam masyarakat. Hal ini memunculkan upaya-upaya untuk mencapai inklusivitas dalam masyarakat supaya semua lapisannya dapat direpresentasikan dengan sepenuhnya. Kesadaran ini muncul dalam dunia busana akibat keterikatannya dengan ekspresi diri seseorang, sehingga muncul merek-merek yang memasarkan diri mereka dengan cara yang lebih terbuka dan inklusif, seperti yang dilakukan oleh ASSIAKARA. Penelitian ini dilakukan pada merek tersebut menggunakan metode analisis multimodal Kress & Van Leeuwen, didampingi dengan kerangka inklusivitas Verbytska, dkk. (2023) untuk mengidentifikasi bagaimana merek ini mengkonstruksi pemasarannya yang inklusif melalui aspek-aspek teks dan visual dalam situs web mereka. Kemudian, hasil identifikasi aspek-aspek yang ditemukan dievaluasi lebih lanjut dengan teori representasi inklusif Hayat (2013). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ASSIAKARA secara konsisten membangun citra merek yang inklusif, terutama dalam aspek inklusivitas gender dan bentuk tubuh melalui penggunaan écriture inclusive, penghapusan kategori busana berdasarkan gender, serta representasi visual yang menantang norma gender biner. Praktik-praktik tersebut menunjukkan adanya politisasi dan inklusi kelompok sosial secara internal. Namun, evaluasi lebih lanjut memperlihatkan bahwa inklusivitas ASSIAKARA masih memiliki keterbatasan, khususnya dalam aspek-aspek eksternal yang memungkinkan kelompok yang direpresentasikan bertindak sebagai subjek kolektif, dan juga dalam inklusivitas kelompok difabel. Dengan demikian, penelitian ini menemukan bahwa wacana inklusivitas ASSIAKARA bersifat progresif dengan beberapa bagian yang bisa dikembangkan lebih lanjut.


Kata kunci: inklusivitas, analisis wacana multimodal, écriture inclusive, merek busana non-genrée

Inclusivity has become an increasingly prominent issue alongside the growing social diversity within society. This development has led to various efforts to achieve inclusivity so that all social groups can be fully represented. Such awareness has also emerged in the fashion industry due to its close connection to self-expression, giving rise to brands that market themselves in a more open and inclusive manner, such as ASSIAKARA. This study examines the brand using Kress and van Leeuwen’s multimodal analysis, supported by the inclusivity framework proposed by Verbytska et al. (2023), to identify how ASSIAKARA constructs inclusive marketing through textual and visual aspects on its website. The identified aspects are then further evaluated using Hayat’s (2013) theory of inclusive representation. The findings show that ASSIAKARA consistently constructs an inclusive brand image, particularly in terms of gender and body inclusivity, through the use of écriture inclusive, the removal of gender-based clothing categories, and visual representations that challenge binary gender norms. These practices demonstrate forms of internal politicization and internal inclusion of social groups. However, further evaluation reveals limitations in ASSIAKARA’s inclusivity, especially in external aspects that would allow represented groups to act as collective subjects, as well as in the inclusion of people with disabilities. Thus, this study concludes that ASSIAKARA’s discourse of inclusivity is progressive, while still presenting areas that could be further developed.


Keywords: inclusivity, multimodal discourse analysis, écriture inclusive, non-gendered fashion brand

Kata Kunci : inklusivitas, analisis wacana multimodal, écriture inclusive, merek busana non-genrée

  1. S1-2026-498669-abstract.pdf  
  2. S1-2026-498669-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-498669-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-498669-title.pdf