Strategi Peningkatan Efisiensi Pemasaran pada Rantai Pasok Susu Kambing di Provinsi Jawa Timur
Asmaul Khusna, Prof. Ir. Mujtahidah Anggriani Ummul Muzayyanah, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM ; Prof. Dr. Ir. Tri Anggraeni Kusumastuti, S.P., M.P., IPM ; Ir. R. Ahmad Romadhoni Surya Putra, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASE
2026 | Disertasi | S3 Ilmu Peternakan
Industri susu kambing di Jawa Timur memiliki potensi besar namun menghadapi tantangan efisiensi pemasaran rantai pasok akibat panjangnya jalur distribusi, ketimpangan nilai ekonomi, dan risiko operasional yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi rantai pasok dan pemetaan peran aktor-aktor rantai pasok pada pola mandiri dan kemitraan,menganalisis efisiensi pemasaran pada pola mandiri dan kemitraan, menilai risiko utama di setiap saluran, serta merumuskan strategi peningkatan efisiensi rantai pasok yang berkelanjutan. Penelitian dilakukan di tiga Kabupaten sentra peternakan kambing perah di Jawa Timur yaitu Banyuwangi, Lumajang, dan Malang. Sebanyak 173 peternak terlibat sebagai responden dalam survey dan 22 responden pakar terlibat dalam penentuan prioritas strategi pada analisis hierarki proses (AHP). Pendekatan penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan analisis efisiensi pemasaran, margin pemasaran, farmer’s share, serta Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk identifikasi risiko. Strategi prioritas dirumuskan melalui Analytical Hierarchy Process (AHP) berdasarkan empat kriteria utama: farmer’s share, penurunan risiko kualitas susu, efisiensi biaya pemasaran, dan kelayakan penerapan strategi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur rantai pasok susu kambing di Provinsi Jawa Timur terbagi menjadi empat saluran. Saluran satu hingga saluran tiga merupakan pola mandiri, dan saluran empat merupakan pola kemitraan. Struktur saluran satu (peternak – konsumen), saluran dua (peternak – pengepul besar – usaha pengolahan susu –pengecer – konsumen), saluran tiga (peternak – pengepul kecil – pengepul besar – usaha pengolahan susu – pengecer - konsumen), saluran empat (peternak – usaha pengolahan susu – pengecer – konsumen). Pola mandiri yaitu pada saluran satu (peternak – konsumen) merupakan yang paling efisien dengan nilai efisiensi 17,11%, margin pemasaran paling redah yaitu Rp. 5.500 dan nilai farmer’s share paling tinggi yaitu 81,67%. Pada analisis risiko menunjukkan bahwa semakin panjang rantai pasok maka risiko yang ditimbulkan semakin banyak, hasil penelitian menunjukkan jumlah risiko yang paling banyak terdapat pada saluran 3. Analisis AHP menghasilkan lima strategi utama dengan prioritas tertinggi yaitu pengembangan sistem informasi rantai pasok terintegrasi dan transparansi harga (skor 0,229), diikuti perbaikan sistem kemitraan dan kontrak kerja sama yang adil (0,224), perluasan pemasaran langsung (0,220), pelatihan peternak (0,212), dan penerapan kontrol mutu (0,113). Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan efisiensi rantai pasok susu kambing dapat dicapai melalui sinergi antara inovasi digital, penguatan kelembagaan kemitraan, dan peningkatan kapasitas peternak.
The goat milk industry in East Java has great potential but faces challenges in marketing efficiency in supply chain due to long distribution channels, economic value inequality, and high operational risks. This study aims to identify the structure of the goat milk supply chain, analyze marketing efficiency under independent and partnership models, assess key risks in each channel, and formulate strategies for improving sustainable supply chain efficiency. The study was conducted in three dairy goat farming centers in East Java: Banyuwangi, Lumajang, and Malang. A total of 173 farmers participated as respondents in the survey, and 22 expert respondents were involved in determining strategic priorities using the Analytical Hierarchy Process (AHP). The research approach used a quantitative descriptive method with analysis of marketing efficiency, marketing margins, farmer share, and Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) for risk identification. Priority strategies were formulated through the Analytical Hierarchy Process (AHP) based on four main criteria: farmer share, milk quality risk reduction, marketing cost efficiency, and feasibility of strategy implementation. The results show that the structure of the goat milk supply chain in East Java Province is divided into four channels. Channels one to three represent independent patterns, and channel four represents a partnership pattern. The structure of channel one (farmers - consumers), channel two (farmers - large collectors - milk processing businesses - retailers - consumers), channel three (farmers - small collectors - large collectors - milk processing businesses - retailers - consumers), channel four (farmers - milk processing businesses - retailers - consumers). The independent pattern, namely in channel one (farmers - consumers), is the most efficient with an efficiency value of 17.11%, the lowest marketing margin of Rp. 5,500 and the highest farmer's share value of 81.67%. In the risk analysis, it shows that the longer the supply chain, the more risks it poses, the results of the study show that the highest number of risks is found in channel 3. The AHP analysis produces five main strategies with the highest priority, namely the development of an integrated supply chain information system and price transparency (score 0.229), followed by improvements to the partnership system and fair cooperation contracts (0.224), expansion of direct marketing (0.220), farmer training (0.212), and implementation of quality control (0.113). This study concludes that increasing the efficiency of the goat milk supply chain can be achieved through synergy between digital innovation, strengthening institutional partnerships, and increasing the capacity of farmers.
Kata Kunci : AHP, efisiensi pemasaran, kemitraan, rantai pasok susu kambing, risiko rantai pasok.