Pengaruh Bungkil Nyamplung (Chalophylum inophyllum) sebagai Substitusi Bahan Pakan Sumber Protein terhadap Kecernaan Nutrien dan Kinerja Pertumbuhan Domba Ekor Tipis
IHSHAN HABI ASHSHAADIQ, Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA., IPU., ASEAN Eng.;Ir. Dimas Hand Vidya Paradhipta, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPP.
2026 | Tesis | S2 Ilmu Peternakan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase subtitusi bungkil nyamplung yang tepat dengan mengevaluasi pengaruhnya terhadap kecernaan nutrien, kinerja pertumbuhan, dan produksi gas metan domba ekor tipis. Penelitian menggunakan ternak Domba Ekor Tipis sebanyak 24 ekor berjenis kelamin jantan dengan rataan bobot badan ±17 kg dan umur 4 – 5 bulan. Setiap domba diberikan pakan berupa rumput dan konsentrat dengan perbandingan 40:60 berbasis bahan kering, dengan masa pemeliharaan 2 bulan. Domba dibagi menjadi empat kelompok dengan rerata bobot badan yang sama, kemudian diberikan ransum basal dengan substitusi bungkil nyamplung pada level 0% (T0), 15% (T1), 30% (T2), dan 30?ngan tambahan premiks booster (T3). Data yang diperoleh dianalisis statistik menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan prosedur General Linear Model (GLM) pada perangkat lunak SAS. Setiap kelompok perlakuan memiliki rerata bobot domba yang sama dengan mempertimbangkan bobot badan awal sebagai faktor pembatas kelompok (block). Perlakuan penggunaan bungkil nyamplung (T1, T2, T3) menghasilkan kecernaan bahan kering (KcBK) dan bahan organik (KcBO) yang lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan T0 (P<0>avergae daily gain (ADG) yang lebih tinggi dan nilai feed convertion ratio (FCR) yang lebih rendah dibanding dengan perlakuan T0. Pada produksi green houses gas, perlakuan penggunaan bungkil nyamplung menghasilkan persentase penurunan gas yang tinggi dibandingkan dengan T0. Selain itu, nilai investment of feed cost (IOFC) pada perlakuan penggunaan bungkil nyamplung menghasilkan margin terbesar dibanding dengan T0. Penelitian ini menyimpulkan penambahan bungkil nyamplung hingga 30% menjadi rekomendasi sebagai sumber protein untuk mendukung kecernaan, performa dan penurunan produksi gas metan, tanpa menyebabkan gangguan metabolik dan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
This study aimed to determine the optimal substitution level of tamanu kernel cake by evaluating its effects on nutrient digestibility, growth performance, and methane gas production in thin-tailed sheep. The experiment used 24 male thin-tailed sheep with an average body weight of ±17 kg and aged 4–5 months. Each sheep was fed a diet consisting of forage and concentrate at a ratio of 40:60 on a dry matter basis, with a rearing period of two months. The sheep were allocated into four groups with similar average body weights and fed a basal ration substituted with tamanu kernel cake at levels of 0% (T0), 15% (T1), 30% (T2), and 30% supplemented with a premiks booster (T3). The collected data were statistically analyzed using a Randomized Complete Block Design with the General Linear Model (GLM) procedure in SAS software. Initial body weight was used as the blocking factor to ensure similar average weights among treatment groups. The inclusion of tamanu kernel cake (T1, T2, and T3) resulted in significantly higher dry matter digestibility (DMD) and organic matter digestibility (OMD) compared to the T0 treatment (p < 0>
Kata Kunci : Domba Ekor Tipis, Bungkil Nyamplung, Emisi gas metan, Kecernaan In vivo, Kinerja ternak