TOKSISITAS AKUT DAN SUBKRONIK INFUSA BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.) TERHADAP STRUKTUR HISTOLOGIS DUODENUM DAN KOLON TIKUS PUTIH Rattus norvegicus (Berkenhout, 1769)
Siti Aeniah, Dr. Dr. Ardaning Nuriliani, S.Si., M.Kes. ; Prof. Dr. Bambang Retnoaji, S.Si., M.Sc.
2026 | Tesis | S2 Biologi
Telang (Clitoria ternatea L.) merupakan tanaman
herbal yang banyak digunakan masyarakat untuk meringankan diabetes, hipertensi,
dan kanker. Namun, penelitian terkait efek toksik bunga telang perlu dilakukan
untuk mengetahui dosis aman penggunaannya. Penelitian ini bertujuan mengkaji
toksisitas akut dan subkronik infusa bunga telang terhadap struktur histologis
duodenum dan kolon tikus putih (Rattus norvegicus) jantan galur Wistar. Infusa
bunga telang kering, diberikan secara oral kepada 40 ekor tikus yang dibagi ke dalam kelompok
toksisitas akut (dosis 2500 dan 5000 mg/kg BB selama 14 hari) dan subkronik
(dosis 250, 500, dan 1000 mg/kg BB selama 28 hari).
Setelah perlakuan, hewan uji dinekropsi, duodenum dan kolon dikoleksi untuk
analisis histomorfometri, karakteristik mukus, dan histopatologis menggunakan
pewarnaan hematoksilin-eosin dan Periodi Acid Schiff-Alcian Blue. Data
histomorfometri dianalisis menggunakan uji independent sample t-test dan
uji one-way ANOVA (? = 0,05). Analisis karakteristik mukus dilakukan secara
deskriptif komparatif. Kerusakan struktur histologis organ dianalisis dengan
menggunakan metode skoring ordinal. Analisis lanjutan menggunakan Mann
Whitney Test untuk perlakuan akut, sedangkan Kruskal-Wallis Test
untuk perlakuan subkronik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa infusa bunga
telang tidak menyebabkan perubahan signifikan pada sebagian besar parameter
histomorfometri duodenum dan kolon. Perbedaan signifikan hanya ditemukan pada
jumlah dan luas sel goblet. Analisis karakteristik mukus menunjukkan mukus asam
dan campuran. Secara histopatologis, infiltrasi leukosit ringan ditemukan pada
duodenum dan kolon tanpa disertai kerusakan struktur lain. Hal ini
mengindikasikan bahwa perlakuan infusa bunga telang pada dosis akut dan
subkronik relatif aman terhadap struktur histologis duodenum dan kolon, namun
penggunaan infusa bunga telang perlu memperhatikan dosis untuk meminimalkan
potensi efek toksik
Butterfly pea (Clitoria ternatea L.) is a herbal plant
widely used to alleviate diabetes, hypertension, and cancer. However, studies
on its potential toxic effects are necessary to determine safe dosage levels.
This study aimed to evaluate the acute and subchronic toxicity of butterfly pea
flower infusion on the histological structure of the duodenum and colon of male
albino rats (Rattus norvegicus) Wistar strain. This infusion was prepared from
dried butterfly pea flowers and administered orally to 40 rats, which were
divided into acute toxicity groups (2500 and 5000 mg/kg BW for 14 days) and
subchronic toxicity groups (250, 500, and 1000 mg/kg BW for 28 days). After
treatment, the animals were euthanized, and the duodenum and colon were
collected for histomorphometric, mucus characteristics, and histopathological
analysis using hematoxylin-eosin and Periodic Acid Schiff-Alcian Blue Staining.
Histomorphometric data were analyzed using independent sample t-test and
one-way ANOVA (? = 0,05). Mucus
characteristics were analyzed descriptively, while histological structural
damage was assessed using ordinal scoring. Further analysis was performed using
the Mann-Whitney test for acute treatment and the Kruskal-Wallis test for
subchronic treatment. The results showed that butterfly pea flower infusion did
not cause significant changes in most histomorphometric parameters of the
duodenum and colon. Significant differences were observed only in the number
and area of goblet cells. Mucus analysis indicated the presence of acidic and
mixed mucus. Histopathologically, mild leukocyte infiltration was found in the
duodenum and colon without other structural damage. These findings indicate
that administration of butterfly pea flower infusion at the tested acute and
subchronic doses was relatively safe for the histological structure of the
duodenum and colon, however dosage should be carefully considered to minimize
potential toxic effects
Kata Kunci : duodenum, infusa bunga telang, kolon, Rattus norvegicus, struktur histologis, uji toksisitas