Praktik Beban Ganda Perempuan Sebelum dan Setelah Pengembangan Kawasan Industri di Desa Butuh, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali
Celline Nuzullita Kusumabekti, Desintha Dwi Asriani, M.A., Ph.D
2025 | Skripsi | Sosiologi
Beban
ganda merupakan bentuk realitas yang
melekat dalam kehidupan perempuan, terlebih di pedesaan seperti di Desa Butuh.
Melalui pergeseran sosial dan ekonomi yang ditandai oleh masuknya pabrik-pabrik
dan perubahan pola kerja perempuan, beban ganda yang dialami perempuan tidak
serta-merta terhapus, namun justru membentuk ulang ketimpangan gender yang
telah lama berakar secara struktural dan kultural. Wacana ini tidak hanya
melibatkan peran perempuan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai
pengelola domestik utama dalam rumah tangga. Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan untuk mengeksplorasi narasi dan praktik beban ganda dari generasi
yang berbeda di Desa Butuh serta strategi yang mereka bangun untuk
menghadapinya. Penelitian ini berfokus pada dua aspek utama, yaitu: 1)
Bagaimana narasi dan praktik beban ganda sebelum dan sesudah masuknya pabrik? dan
2) Bagaimana strategi perempuan dalam mengatasi beban ganda tersebut?
Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologis dalam pengambilan
data dan penelitian ini menggunakan teori beban ganda, konsep
Gemeinschaft-Gesellschaft dari Tönnies untuk membaca perubahan sosial ekonomi,
serta teori agensi dari Giddens untuk melihat kapasitas reflektif perempuan
dalam menghadapi struktur yang mengekang.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa beban ganda yang dijalani perempuan merupakan sesuatu yang diwariskan secara sosial dan kultural, sehingga dalam praktiknya terus berulang meskipun telah terjadi perubahan sosial dan ekonomi. Kerja produktif dan reproduktif yang dijalani perempuan saling bertumpu, namun belum mampu membuka ruang aktualisasi bagi perempuan. Penghasilan yang diperoleh umumnya langsung dialokasikan untuk mencukupi kebutuhan domestik, termasuk untuk membayar layanan pengganti kerja rumah tangga yang merupakan bentuk strategi perempuan dalam beradaptasi dengan modernisasi. Maka dari itu partisipasi perempuan dalam dunia kerja formal tidak serta-merta menghasilkan kemandirian ekonomi bagi perempuan.
The
double burden is still take as a big part of women’s lives, even in rural areas
like Desa Butuh. While the arrival of garment factories has brought
socioeconomic changes and shifted women’s work patterns, it has not eliminated
the presistent gender inequalities. Instead, these transformations have
reconfigured the structural and cultural dimension of double burden,
reinforcing women’s dual roles as both income earners and primary domestic
managers. This study examines how of women in Desa Butuh experience and narrate
the double burden, as well as the strategies they developed to cope with it.
Specially, it explores how narratives and practice surrounding the double
burden have evolved since the factories establishment and analyzes women’s
adaptive strategies in response. Using a qualitative phenomenological approach,
the study draws on the theory of double burden to understand double burden,
Tonnies Gemeinschaft-Gesellschadt concept to understand socioeconomic changes
and Giddens agency theory to assess women’s capacity for reflective action
within constraining structures.
The findings demonstrate that the double burden is socially and culturally inherited, persisting despite broader socioeconomic changes. Women’s productive and reproductive labor remain deeply intertwined, yet this interdependence does not create opportunities for self-actualization. Most of their income is directed toward household needs, including payments for domestic subtitutes, the strategy by women’s to adapt to modernization. Consequently, women’s participation in formal employment does not necessarily translate into greater economic autonomy to women.
Kata Kunci : Beban Ganda, Perubahan Sosial Ekonomi, Perempuan, Buruh Jahit, Warisan Gender.