HUBUNGAN KARAKTERISTIK KUALITAS MASSA BATUAN DAN TIPE KERUNTUHAN LERENG DINDING TAMBANG MINERAL EMAS TERHADAP PENGAMATAN DATA RADAR
MUHAMMAD KRISNO MARLARDANG, Ir. I Gde Budi Indrawan, S.T., M.Eng., Ph.D., IPM. ; Prof. Dr. Eng. Ir. Wahyu Wilopo, S.T., M.Eng., IPM
2026 | Tesis | S2 Teknik Geologi
Tambang
terbuka sangat rentan terhadap ketidakstabilan lereng akibat kondisi geologi
yang kompleks, desain lereng yang curam, serta pendalaman penggalian yang
berlangsung secara progresif. Penelitian ini berfokus pada analisis mekanisme
keruntuhan lereng pada sebuah tambang emas di Jawa Timur, wilayah yang
dicirikan oleh massa batuan yang sangat terfraktur, lapisan terlapukkan, serta
dinding tambang dengan kemiringan hingga 75°. Studi ini mengintegrasikan
pemantauan berbasis radar dengan sistem klasifikasi geoteknik yang telah mapan—Rock
Mass Rating (RMR), Geological Strenght Index (GSI), Slope Mass
Rating (SMR) dan Analisis Kinematik, untuk menginterpretasikan tren
deformasi dan mengklasifikasikan tipe keruntuhan, seperti keruntuhan planar,
baji, dan guling (toppling). Pemantauan secara real-time dilakukan menggunakan Ground-Based
Interferometric Synthetic Aperture Radar (GB-InSAR), khususnya sistem
InSAR, untuk mendeteksi perubahan pola deformasi dan kecepatan yang
mengindikasikan ketidakstabilan lereng. Pola deformasi, termasuk tren linier,
regresif, dan progresif, dievaluasi bersama parameter empiris massa batuan guna
memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai proses keruntuhan. Selain itu,
analisis pola deformasi diterapkan untuk memperkirakan potensi kegagalan,
sehingga meningkatkan efektivitas sistem peringatan dini. Hasil penelitian ini
membangun suatu kerangka kerja praktis yang menghubungkan penilaian kualitas
massa batuan dengan data pola deformasi hasil radar, serta menawarkan strategi
yang aplikatif untuk pengurangan risiko dan peningkatan keselamatan
operasional. Dengan mengkarakterisasi sifat dan perkembangan keruntuhan lereng,
kegiatan pertambangan dapat mengantisipasi kondisi berbahaya secara lebih
efektif dan menerapkan intervensi geoteknik secara proaktif.
Open-pit
mining operations are highly susceptible to slope instability due to complex
geological conditions, steep slope designs, and progressively increasing
excavation depths. This study focuses on the analysis of slope failure
mechanisms at a gold mine in East Java, an area characterized by highly
fractured rock masses, weathered layers, and pit walls with inclinations of up
to 75°. The research integrates radar-based monitoring with established
geotechnical classification systems—Rock Mass Rating (RMR), Geological Strength
Index (GSI), Slope Mass Rating (SMR), and kinematic analysis—to interpret
deformation trends and classify failure types such as planar, wedge, and
toppling failures. Real-time monitoring is conducted using Ground-Based
Interferometric Synthetic Aperture Radar (GB-InSAR), specifically the InSAR
system, to detect changes in deformation patterns and velocities indicative of
slope instability. Deformation patterns, including linear, regressive, and
progressive trends, are evaluated in conjunction with empirical rock mass
parameters to gain a deeper understanding of failure processes. Furthermore,
deformation pattern analysis is applied to estimate potential failure, thereby
enhancing the effectiveness of early warning systems. The results establish a
practical framework that links rock mass quality assessments with radar-derived
deformation pattern data, offering applicable strategies for risk reduction and
improved operational safety. By characterizing the nature and progression of
slope failures, mining operations can more effectively anticipate hazardous
conditions and implement proactive geotechnical interventions.
Kata Kunci : Geotechnical Engineering, Slope Stability, Kualitas Massa Batuan, GBInsar, Radar Monitoring