Laporkan Masalah

KONFLIK SISTEM NOKEN DALAM MEMBENTUK KOLEKTIVITAS MASYARAKAT DI PAPUA

BOY KIWAK, Prof. Phil. Gabriel Lele, S.IP., M.Si.

2026 | Skripsi | ILMU ADMINISTRASI NEGARA (MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK)

Indonesia merupakan negara dengan keragaman budaya yang sangat luas, termasuk dalam praktik politik lokal yang masih melekat dalam kehidupan masyarakat adat. Salah satu fenomena politik yang paling unik sekaligus kontroversial adalah sistem noken di Papua. Sistem ini menggunakan noken, tas anyaman tradisional khas masyarakat pegunungan Papua, sebagai media pengganti kotak suara atau bahkan perwakilan suara kolektif dalam proses Pemilu. Secara kultural, noken merupakan simbol identitas, solidaritas, dan filosofi hidup masyarakat Papua, sehingga posisinya tidak dapat dilepaskan dari konteks hubungan sosial-budaya setempat (Wambrauw, 2018). Noken telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Papua. Ia digunakan untuk membawa hasil kebun, kayu bakar, hewan kecil, hingga bayi, sehingga melambangkan kesuburan, kehidupan, dan keberlanjutan generasi. Karena itu, UNESCO pada tahun 2012 menetapkan noken sebagai Intangible Cultural Heritage dunia—sebuah pengakuan bahwa noken tidak hanya merupakan benda material, tetapi juga sistem nilai yang diwariskan secara turun-temurun (UNESCO, 2012). Penetapan ini menegaskan bahwa noken merupakan simbol relasi manusia dengan komunitas, alam, dan tradisi yang membentuk struktur sosial masyarakat Papua (Rumbiak, 2020).

Indonesia is a country with a vast cultural diversity, including in local political practices that are still embedded in the lives of indigenous peoples. One of the most unique and controversial political phenomena is the noken system in Papua. This system uses noken, a traditional woven bag typical of the Papuan mountain communities, as a substitute for ballot boxes or even collective representation in the election process. Culturally, the noken is a symbol of identity, solidarity, and the philosophy of life of the Papuan people, so its position cannot be separated from the context of local socio-cultural relations (Wambrauw, 2018). The noken has long been a part of Papuan life. It is used to carry garden produce, firewood, small animals, and even babies, symbolizing fertility, life, and generational continuity. Therefore, in 2012, UNESCO designated the noken as Intangible Cultural Heritage of the world—a recognition that the noken is not only a material object but also a system of values passed down from generation to generation (UNESCO, 2012). This designation confirms that noken is a symbol of human relations with the community, nature, and traditions that shape the social structure of Papuan society (Rumbiak, 2020).

Kata Kunci : Papua, Konflik Politik, Noken Kolektivitas.

  1. S1-2026-456641-abstract.pdf  
  2. S1-2026-456641-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-456641-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-456641-title.pdf