Perbedaan Respon Terapi Pasien Karsinoma Nasofaring Stadium Lanjut Non Metastasis antara Indeks Advanced Lung Cancer Inflammation (ALI) Tinggi dan Rendah di RSUP Dr. Sardjito
Salsabila Chalisa Marandya, Dr. dr. Camelia Herdini, M.Kes., Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Onk.(K), FICS. ; Dr. dr. Sagung Rai Indrasari, M.Kes., Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Onk.(K), FICS.
2025 | Tesis-Spesialis | S2 Ilmu Penyakit THT
Latar
belakang: Karsinoma
nasofaring (KNF) merupakan keganasan tersering nasofaring di Asia Tenggara dan
sebagian besar pasien di Indonesia datang pada stadium lanjut dengan luaran
yang masih kurang memuaskan. Inflamasi sistemik berperan penting dalam
progresivitas kanker dan indeks Advanced Lung Cancer Inflammation (ALI),
yang menggabungkan IMT, albumin serum, dan neutrophil?to?lymphocyte ratio
(NLR), telah dilaporkan sebagai biomarker prognostik pada berbagai kanker,
namun data terkait hubungan ALI dengan respon terapi KNF stadium lanjut non
metastasis belum ada.
Metode
penelitian:
Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan rancangan case
control menggunakan data rekam medis pasien KNF stadium lanjut non
metastasis yang mendapat neoadjuvant chemotherapy tiga kali dan concurrent
chemoradiotherapy 33 kali di RSUP Dr. Sardjito periode 2020 – 2023. Sampel
diperoleh dengan consecutive sampling dan dibagi menjadi kelompok respon
terapi komplit dan inkomplit berdasarkan penilaian 3 bulan pasca terapi
menggunakan kriteria RECIST 1.1 serta biopsi nasofaring, kemudian dibandingkan
dengan kategori indeks ALI (tinggi ?24,2; rendah <24>chi?square.
Hasil
penelitian: Sebanyak
70 pasien memenuhi kriteria, terdiri dari 52 laki?laki (74,3%) dengan mayoritas
stadium IVA (80%). Sebanyak 28 pasien (40,0%) memiliki ALI rendah dan 42 pasien
(60,0%) ALI tinggi; pasien dengan ALI rendah lebih banyak mengalami respon
terapi inkomplit (67,9% vs 32,1%), dan analisis menunjukkan perbedaan bermakna
antara ALI dan respon terapi (p=0,028; OR 3,431; CI 95% 1,251–9,404). Perbedaan
NLR dengan respon terapi juga didapatkan signifikan (p = 0,037; OR 3,625; CI
95% 1,201–10,944), sedangkan IMT dan albumin serum tidak menunjukkan perbedaan
bermakna dengan respon terapi.
Kesimpulan: Terdapat perbedaan signifikan respon terapi pasien KNF stadium lanjut non metastasis antara indeks ALI tinggi dan rendah di RSUP Dr. Sardjito.
Background: Nasopharyngeal carcinoma (NPC) is the predominant nasopharyngeal
malignancy in Southeast Asia, where most Indonesian patients present at
advanced stages with suboptimal outcomes. Systemic inflammation contributes
significantly to cancer progression, and the Advanced Lung Cancer Inflammation
Index (ALI)—integrating body mass index (BMI), serum albumin, and
neutrophil-to-lymphocyte ratio (NLR)—serves as a prognostic biomarker across
various malignancies; however, its association with therapeutic response in advanced
non-metastatic NPC remains unexplored.
Methods: This analytic observational case control study reviewed medical records of patients with advanced non-metastatic NPC receiving three cycles of neoadjuvant chemotherapy followed by 33 fractions of concurrent chemoradiotherapy at RSUP Dr. Sardjito (2020–2023). Consecutive sampling yielded 70 patients stratified by complete (CR) versus incomplete response (non-CR) at 3 months post-treatment per RECIST 1.1 criteria and nasopharyngeal biopsy. Associations with ALI (high ?24.2; low <24>
Results: Of 70 patients (74.3% male; 80.0% stage IVA), 28 (40.0%) had low ALI
and 42 (60.0%) high ALI. Low ALI correlated with higher incomplete response
rates (67.9% vs. 32.1%; p=0.028; OR 3.431; 95% CI 1.251–9.404). Elevated NLR
also demonstrated significant association (p=0.037; OR 3.625; 95% CI
1.201–10.944), whereas BMI and serum albumin showed no significant differences.
Conclusion: Therapeutic response differs significantly between high- and low-ALI
groups in advanced non-metastatic NPC at RSUP Dr. Sardjito.
Kata Kunci : Karsinoma nasofaring, Indeks Advanced Lung Cancer Inflammation, biomarker, respon terapi