Advokasi Berbasis Kelompok Dukungan Sebaya sebagai Resiliensi Kerentanan Remaja Berstatus ODHIV (Orang dengan HIV)
Rayhan Nalendra Adi, Oki Rahadianto Sutopo, Ph.D
2025 | Skripsi | Sosiologi
Remaja berstatus ODHIV (Orang dengan HIV) di Daerah Istimewa Yogyakarta menghadapi tantangan berlapis yang mengancam kesejahteraan psikologis dan sosial mereka, terutama pada fase krusial pembentukan identitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika tantangan yang dihadapi serta mendalami pemaknaan dukungan sebaya yang dirasakan remaja ODHIV dari Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) Jalinan Kasih Reborn dalam upaya mereka mencapai resiliensi diri.
Menggunakan pendekatan kualitatif dengan wawancara mendalam terhadap empat informan anggota KDS Jalinan Kasih Reborn, penelitian ini mengupas perjalanan mereka dari momen diagnosis yang disruptif, pergulatan melawan stigma eksternal dan internal, hingga proses mereka memasuki dan berinteraksi dalam lingkaran sebaya. Temuan menunjukkan bahwa diagnosis seringkali memicu krisis identitas dan isolasi, sementara stigma termanifestasi dalam berbagai level, dari penolakan interpersonal hingga diskriminasi institusional.
Proses memasuki KDS seringkali penuh ambivalensi namun dimediasi oleh figur "jembatan" kepercayaan. Di dalam KDS, para remaja memaknai kelompok ini secara fundamental sebagai ruang validasi dan penerimaan diri yang menormalisasi status mereka dan melawan keterasingan. Lebih lanjut, dukungan informasional dan advokasi praktis yang diterima dimaknai sebagai proses pemberdayaan yang meningkatkan agensi personal, hal ini sejalan dengan teori advokasi sosial. Puncaknya, partisipasi dalam KDS berkontribusi pada konstruksi resiliensi, yang terwujud dalam internalisasi tanggung jawab (terutama kepatuhan berobat sebagai self-care), tumbuhnya harapan dan orientasi masa depan, serta munculnya kesadaran solidaritas.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa KDS Jalinan Kasih Reborn berfungsi sebagai ekosistem esensial, tidak hanya sebagai penyedia dukungan, tetapi sebagai arena krusial bagi remaja ODHIV untuk menegosiasikan makna, merekonstruksi identitas, dan menempa ketangguhan diri di tengah kerentanan.
Adolescents living with HIV in the Special Region of Yogyakarta face multifaceted challenges that threaten their psychological and social well-being, particularly during the crucial phase of identity formation. This study aims to analyze the dynamics of the challenges faced and explore the meaning-making of peer support experienced by ODHIV within the Peer Support Group (KDS) Jalinan Kasih Reborn in their efforts to achieve self-resilience.
Using a qualitative approach with in-depth interviews involving four informants who are members of KDS Jalinan Kasih Reborn, this research examines their journey from the disruptive moment of diagnosis, the struggle against external and internal stigma, to the process of entering and interacting within the peer circle. Findings indicate that diagnosis often triggers an identity crisis and isolation, while stigma manifests at various levels, from interpersonal rejection to institutional discrimination.
The process of entering the KDS is frequently marked by ambivalence but is mediated by "bridge" figures of trust. Within the KDS, the adolescents fundamentally perceive the group as a space for validation and self-acceptance that normalizes their status and counters alienation. Furthermore, the informational support and practical advocacy received are interpreted as an empowerment process that enhances personal agency, aligning with social advocacy theory. Ultimately, participation in the KDS contributes to the construction of resilience, manifested through the internalization of responsibility (especially treatment adherence as self-care), the growth of hope and future orientation, and the emergence of solidarity awareness.
This study concludes that KDS Jalinan Kasih Reborn functions as an essential ecosystem, not merely as a support provider, but as a crucial arena for ODHIV to negotiate meaning, reconstruct identity, and forge self-resilience amidst vulnerability.
Kata Kunci : Remaja berstatus ODHIV, Kelompok Dukungan Sebaya (KDS), Stigma, Resiliensi, Advokasi Sosial