Laporkan Masalah

Pengalaman Perempuan Salafi yang Menjalani Pernikahan Poligami: Sebuah Kajian Biografis

Shafa Nabila Ramadhani, Dr. Muhammad Najib, S.Sos., M.A.

2026 | Skripsi | Sosiologi

Poligami merupakan  suatu jenis pernikahan di mana seseorang memiliki lebih dari satu pasangan dalam waktu yang bersamaan. Istilah ini lebih sering dipakai untuk menggantikan istilah poligini, yang mana berarti seorang suami memiliki lebih dari satu istri  dalam waktu yang bersaman. Di zaman sekarang, praktik pernikahan poligami masih dilakukan, tetapi tidak sepopuler pernikahan monogami. Hal ini karena pernikahan poligami dipandang sebagai suatu hal yang buruk dan dinilai menindas perempuan. Praktik ini banyak ditentang, terutama oleh kaum perempuan dan feminis. Di tengah banyaknya penentangan terhadap poligami, kelompok Muslim pengikut manhaj salaf atau Salafi menjadi suatu kelompok yang menerima poligami dan mengadvokasikannya. Hal ini karena di Islam, praktik ini diperbolehkan dengan berbagai syarat dan para salafi meyakini  bahwa poligami adalah syariat Allah yang tidak boleh ditolak.  Berbeda dengan kaum feminis dan perempuan pada umumnya, perempuan Salafi justru mendukung poligami. Selaras dengan pernyataan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar sosio-biografis, proses pengambilan keputusan sebelum memasuki pernikahan poligami, dan dinamika pengalaman dalam menjalani pernikahan poligami para perempuan Salafi. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan kajian biografis. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi menjadi dua jenis, yakni data primer dan data sekunder. Data primer diambil melalui wawancara dan observasi   terhadap tiga informan, sementara data sekunder diambil melalui studi pustaka yang relevan. Penelitian ini dianalisis menggunakan konsep pemikiran Saba Mahmood dalam bukunya yang berjudul Politics of Piety: The Islamic Revival and The Feminist Subject.  Dalam bukunya tersebut, Mahmood menawarkan pandangan berbeda soal agensi, yakni dia meyakini bahwa agensi perempuan juga bisa muncul dari ketaatan mereka pada agama. Ditambahkan juga sedikit perspektif dialogis lain untuk mengimbangi pemikiran Mahmood. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa  latar sosio-biografis para informan membentuk jati diri mereka sebagai salafi yang berkaitan terhadap pengambilan keputusan mereka untuk memasuki pernikahan poligami karena alasan motivasi pribadi dan moral keagamaan. Lebih lanjut, dinamika pengalaman mereka menjalani pernikahan poligami berpatokan pada ajaran manhaj salaf yang mana tujuan dari tindakan-tindakan mereka dalam poligami ini adalah ibadah.  

     Polygamy is a form of marriage which an individual has more than one partner simultaneously. This term is now often used to interchangeably with polygyny, a marriage where a husband has more than one wife at the same time.  Nowadays, polygamous marriage is still practiced, but not as common as the practice of monogamous marriage.  This is because polygamous marriage is viewed negatively and is seen as oppressive toward women. This practice is widely opposed, especially by women and feminist.  Amid widespread opposition to polygamy, Muslim groups adhering to the Salafi manhaj or Salafist represent a community that accept and advocate for polygamy actively.  This is because in Islam, the practice of polygamy is permitted under certain conditions and the Salafist believe that polygamy is a religious law that must not be rejected. In contrast to the general views held by feminist and women in general, Salafi women support polygamy. Accordingly, this study aims to examine the socio-biographical background, decision-making process before entering polygamy, and the dynamics of their lived experiences within polygamous marriages among Salafi women.  This research employs a qualitative research method using a biographical approach.  The data used in this research are divided into two types: primary and secondary. Primary data were obtained through interview and observation involving three informants. Secondary data were collected through relevant literature studies. The analysis of this study is based on the conceptual framework proposed by Saba Mahmood in her book Politics of Piety: The Islamic Revival and The Feminist Subject. In this book of hers, Mahmood offers an alternative perspective on agency, arguing that women’s agency can also emerge through obedience and submission to religious norms. It also incorporates limited dialogical perspectives to provide balance to Mahmood’s thinking. The findings of this study indicate that the informants’ socio-biographical backgrounds shape their identity as Salafis, which relates to their decisions to enter into polygamous marriages based on personal motivations and religious morality. Furthermore, the dynamics of their lived experiences in polygamous marriages are guided by the teaching of the Salafi manhaj, where the ultimate purpose of their actions in polygamy is worship.

Kata Kunci : Agensi, Manhaj Salaf, Perempuan Salafi, Poligami, Saba Mahmood

  1. S1-2026-473714-abstract.pdf  
  2. S1-2026-473714-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-473714-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-473714-title.pdf