Hubungan Karakteristik Ibu dan Anak dengan Kejadian ISPA pada Balita Usia 1-5 Tahun di Kota Yogyakarta
Dhea Fatika Putri, Elsi Dwi Hapsari, S.Kp., M.Sc., D.S.; Ami Novianti Subagya., S.Kep., Ns., M.Kep., Sp.Kep.A.
2026 | Skripsi | ILMU KEPERAWATAN
Latar Belakang: Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi masalah kesehatan utama pada balita, baik secara global maupun nasional. Di Provinsi D.I. Yogyakarta, prevalensi ISPA pada balita masih cukup tinggi, dengan Kota Yogyakarta tercatat memiliki angka kejadian tertinggi. Penelitian terkait faktor sosiodemografi yang berhubungan masih terbatas.
Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara karakteristik ibu dan anak dengan kejadian ISPA pada balita usia 1-5 tahun di kota Yogyakarta.
Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik menggunakan metode cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Responden berjumlah 106 ibu yang memeriksakan anaknya ke puskesmas. Variabel yang diteliti adalah pendidikan ibu, pekerjaan ibu, pemberian ASI eksklusif, BBLR, jenis kelamin, usia, dan status gizi. Data kemudian diolah di SPSS dengan uji chi-square dan uji fisher-exact untuk melihat variabel manakah yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada balita. Kemudian variabel yang berhubungan dengan kejadian ISPA diuji kembali dengan uji cramer’s v untuk menguji kekuatan hubungannya.
Hasil: Didapatkan data mayoritas ibu tidak bekerja (73,6%), berpendidikan tinggi atau setidaknya SLTA sederajat (84%), dan memberikan ASI eksklusif (85,8%). Karakteristik anak yang ditemui hampir seluruhnya lahir dengan berat badan normal (99,1%), lebih dari setengahnya berjenis kelamin laki-laki (59,4%), mayoritas dalam rentang usia 12-36 bulan (54,7%), dan sebagian besar memiliki status gizi yang baik saat periksa (77,4%). Hampir sepertiga balita (37,7%) yang menjadi responden mengalami ISPA. Terdapat hubungan antara usia anak dengan kejadian ISPA pada balita (p=0,001, V= 0,308), dan tidak ditemukan hubungan yang signifikan dari variabel pekerjaan ibu (p=0,269), pendidikan ibu (p=0,749), pemberian ASI eksklusif (p=0,845), berat badan lahir anak (p=0,197), jenis kelamin (p=0,752), dan status gizi (p=0,651).
Kesimpulan: Terdapat hubungan dengan kekuatan lemah antara usia balita yang lebih muda dengan kejadian ISPA. Hal ini dapat menjadi perhatian untuk meningkatkan kewaspadaaan pada balita usia 12-36 bulan yang lebih rentan terhadap ISPA.
Background: Acute Respiratory Infection (ARI) remains a major health problem in children under five, both globally and nationally. In the province of D.I. Yogyakarta, the prevalence of ARI in children under five is still quite high, with Yogyakarta City recording the highest incidence rate. Research related to associated sociodemographic factors is still limited.
Objective: This study aims to analyze the relationship between mother and child characteristics and the incidence of ARI in children aged 1-5 years in Yogyakarta City.
Method: This research is an analytical observational study using a cross-sectional method with a quantitative approach. The respondents were 106 mothers who brought their children to the community health center for checkups. The variables studied are mother's education, mother's occupation, exclusive breastfeeding, low birth weight, gender, age, and nutritional status. The data was then processed in SPSS using chi-square and Fisher's exact tests to determine which variables were associated with the occurrence of ARI in toddlers. The variables found to be associated with ARI were then retested using Cramer's V test to assess the strength of the relationship.
Result: The data showed that the majority of mothers were not working (73.6%), had a high level of education or at least a high school graduate (84%), and exclusively breastfed (85.8%). The characteristics of the children encountered were almost entirely born with normal birth weight (99.1%), more than half were male (59.4%), the majority were in the 12-36 month age range (54.7%), and most had good nutritional status at the time of examination (77.4%). Almost one-third of toddlers (37.7%) who were respondents experienced ARI. There was a relationship between the child's age and the occurrence of ARI in toddlers (p=0.001, V=0,308), and no significant relationship was found for the variables of mother's occupation (p=0.269), mother's education (p=0.749), exclusive breastfeeding (p=0.845), child's birth weight (p=0.197), gender (p=0.752), and nutritional status (p=0.651).
Conclusion: There is a weak correlation between younger toddlers and the incidence of ARI. This could be a concern for increasing vigilance in toddlers aged 12-36 months, who are more susceptible to ARI.
Kata Kunci : balita, ISPA, karakteristik anak, karakteristik ibu