PENGALAMAN DAN PEMAKNAAN KERJA PERAWATAN YANG DILAKUKAN OLEH PEREMPUAN DALAM PENGASUHAN ANAK DENGAN CEREBRAL PALSY DI YOGYAKARTA
Andita Dhamar Yuliana, Nurhadi, S.Sos., M.Si., Ph.D.
2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Kerja perawatan berperan penting dalam menopang kehidupan dan kesejahteraan. Dalam konteks pengasuhan anak dengan cerebral palsy, kerja perawatan dipandang sebagai praktik berkelanjutan yang membutuhkan keterlibatan fisik dan emosional. Namun, hingga kini masih kerap dipandang sebagai tanggung jawab alamiah perempuan dan tidak mendapat pengakuan yang layak. Kondisi tersebut menempatkan perempuan pada posisi yang rentan terhadap beban kerja perawatan yang timpang.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman dan pemaknaan perempuan selama melakukan kerja perawatan yang berupa pengasuhan anak dengan cerebral palsy. Secara teoritis, penelitian ini menggunakan konsep kerja perawatan yang dikembangkan oleh Tracey Warren, yang mencakup empat dimensi utama, yaitu praktik, relasi, negosiasi, dan makna. Selain itu, penelitian ini juga berlandaskan pada teori ethic of care yang melihat kerja perawatan sebagai bentuk etika (caring about) dan sebagai aktivitas (caring for).
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi deskriptif. Unit analisis dalam penelitian ini adalah perempuan yang memiliki anak dengan cerebral palsy dan bergabung dalam komunitas Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP). Informan utama berjumlah lima orang dan ditentukan berdasarkan karakteristik tertentu. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi non partisipatoris, dokumentasi, dan studi literatur, yang kemudian dianalisis untuk menghasilkan temuan penelitian.
Penelitian ini menghasilkan dua temuan utama. Pertama, berkaitan dengan pengalaman perempuan dalam merawat dan mengasuh anak dengan cerebral palsy terwujud dalam praktik sehari-hari, yang meliputi pemenuhan kebutuhan dasar anak serta pendampingan anak. Praktik tersebut dijalankan dalam relasi dan negosiasi yang timpang, di mana perempuan cenderung diposisikan sebagai pengasuh utama, sehingga perempuan menanggung beban perawatan yang lebih besar. Lebih lanjut, pengalaman kerja perawatan perempuan menunjukkan adanya perbedaan yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, dukungan suami dan keluarga, serta lingkungan sosial.
Kedua, penelitian ini mengungkap dimensi makna dari kerja perawatan. Perempuan memaknai pengasuhan anak sebagai bentuk tanggung jawab serta komitmen untuk memastikan kesejahteraan anak. Pemaknaan tersebut terbentuk melalui proses yang panjang dan kerap diiringi dengan dilema antara bekerja atau fokus pada pengasuhan. Dalam kondisi tersebut, perempuan merefleksikan kembali makna keberdayaan sesuai dengan kondisi dan keterbatasan yang mereka hadapi, sehingga kerja perawatan menjadi ruang refleksi bagi perempuan untuk merekonstruksi identitas sekaligus mengembangkan kapasitas diri.
Penelitian ini menegaskan bahwa kerja perawatan dalam pengasuhan anak dengan cerebral palsy merupakan bentuk kerja perawatan yang kompleks serta berbeda dibandingkan dengan kerja perawatan pada umumnya. Oleh karena itu, diperlukan pengakuan secara layak dan keterlibatan berbagai pihak untuk mendukung distribusi tanggung jawab perawatan yang lebih adil dan menciptakan kondisi kerja perawatan yang setara, inklusif, dan berkeadilan.
Care work plays a vital role in sustaining life and well-being. In the context of caring for children with cerebral palsy, care work is understood as a continuous practice that requires sustained physical and emotional involvement. However, care work is still commonly perceived as women’s natural responsibility and has yet to receive adequate recognition. This condition places women in a vulnerable position, particularly in relation to the unequal distribution of caregiving burdens.
This study aims to analyze women’s experiences and the meanings they construct while performing care work in the form of caring for children with cerebral palsy. Theoretically, this study draws on the concept of care work developed by Tracey Warren, which encompasses four key dimensions: practice, relations, negotiation, and meaning. In addition, this study is informed by the ethics of care framework, which conceptualizes care work as both an ethical orientation (caring about) and a concrete activity (caring for).
This research adopts a qualitative approach using descriptive phenomenology. The unit of analysis consists of women who have children with cerebral palsy and are members of the Wahana Keluarga Cerebral Palsy (WKCP) community. Five women were selected as the main participants based on specific criteria. Data were collected through in-depth interviews, non-participant observation, documentation, and literature review, and subsequently analyzed to generate the research findings.
The findings reveal two main themes. First, women’s experiences in caring for children with cerebral palsy are manifested in everyday care practices, including the fulfillment of children’s basic needs and daily assistance. These practices are carried out within unequal relations and negotiation processes, in which women are more frequently positioned as primary caregivers, resulting in a greater caregiving burden. Furthermore, women’s care work experiences vary depending on economic conditions, support from husbands and family members, and the surrounding social environment.
Second, this study uncovers the dimension of meaning in care work. Women construct caregiving as a form of responsibility and commitment to ensuring their children’s well-being. This meaning is shaped through a prolonged process that is often accompanied by dilemmas between participating in paid work and focusing on caregiving. Within this context, women reflect on the meaning of empowerment in relation to their own conditions and limitations, positioning care work as a space for identity reconstruction as well as for the development of personal capacities.
This study underscores that care work in the context of caring for children with cerebral palsy constitutes a complex form of care work with characteristics that differ from care work in general. Therefore, greater recognition and the involvement of various actors are necessary to support a more equitable distribution of caregiving responsibilities and to foster conditions of care work that are equitable, inclusive, and just.
Kata Kunci : Kerja Perawatan, Perempuan Pengasuh, Pengasuhan Anak dengan Cerebral Palsy.