Wacana Kasih Sayang dan Seksualitas Penyandang Autis
Muhammad Badrus Siroj, Prof. Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., DEA.;Dr. Aprillia Firmonasari, M.Hum., DEA.
2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora
Individu dengan spektrum autisme memiliki kebutuhan mendasar akan kasih sayang dan seksualitas, namun sering menghadapi kendala komunikasi yang memicu kesenjangan interaksi sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi wacana kasih sayang dan seksualitas pada penyandang autis, meliputi dimensi teks, kognisi sosial, serta konteks sosial yang melingkupinya. Penelitian ini merupakan studi kualitatif interpretatif menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) model Teun A. van Dijk. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara mendalam terhadap praktik kebahasaan penyandang autis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konstruksi wacana penyandang autis bersifat eksplisit, denotatif, dan utilitarian. Berbeda dengan masyarakat umum yang sarat kode implisit, penyandang autis menggunakan strategi kebahasaan seperti ekolalia, repetisi, dan referensi minat spesifik sebagai mekanisme kognitif untuk memvalidasi emosi dalam logika yang mereka pahami. Secara ideologis, wacana ini menjadi arena kontestasi antara ideologi medis dan moral yang cenderung mengontrol tubuh, melawan ideologi hak dan pendidikan yang memperjuangkan otonomi serta inklusivitas.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa wacana kasih sayang dan seksualitas penyandang autis bukanlah sebuah kekurangan, melainkan varian komunikasi yang valid. Kesenjangan sosial yang terjadi bukan disebabkan oleh ketidakmampuan mereka merasa, melainkan akibat benturan antara kode bahasa literal penyandang autis dengan norma sosial masyarakat yang penuh metafora. Temuan ini berfungsi vital sebagai instrumen advokasi, proteksi dari eksploitasi seksual, serta edukasi publik untuk membangun empati terhadap cara unik penyandang autis mengekspresikan cinta.
Wacana mengenai kasih sayang dan seksualitas penyandang autis sangat penting untuk memastikan bahwa mereka dapat mengembangkan hubungan dan relasi sosial yang sehat, merasa dihargai, serta terhindar dari eksploitasi atau diskriminasi. Dengan memahami wacana yang diproduksi penyandang autis harapannya masyarakat lebih empati dan mendukung kenyamanan serta kesejahteraan dalam aspek emosional dan seksualitas.
People with autism have fundamental needs for intimacy and sexuality, yet they often face communication problems triggering social interaction gaps. This study aims at analyzing the discourse constructions of intimacy and sexuality in people with autism, covering textual dimensions, social cognitions, and surrounding social contexts. This interpretive-qualitative study employed a Critical Discourse Analysis (CDA) with Teun A. van Dijk's model. The research data were collected through observation, documentation, and in-depth interviews regarding the linguistic practices used by people with autism.
The research results indicated that the discourse constructions of people with autism were explicit, denotative, and utilitarian. In contrast with common people, which were laden with implicit codes, people with autism employed linguistic strategies—such as echolalia, repetitions, and references to specific interests—as cognitive mechanisms to validate emotions they had logically comprehended. This discourse ideologically serves as a contestation arena between medical and moral ideologies which have the tendency to control the body, fighting against the rights and educational ideologies advocating for autonomy and inclusivity.
This study concluded that the discourse of intimacy and sexuality in people with autism was not a deficit, yet a valid communication variant. The arising social gaps were not caused by an inability to feel, yet the clashes between literal linguistic codes in people with autism and metaphor-laden social norms. These findings had vital functions as instruments for advocacy, protection against sexual exploitation, and public education to foster empathy toward the unique ways of people with autism in expressing love.
Discourse regarding intimacy and sexuality in people with autism is crucial to ensure that they are able to develop healthy social relationships, feel valuable, and get protection from exploitation or discrimination. By understanding the discourse produced by people with autism, it is expected that common people will give more empathy and support to the welfare and convenience of people with autism regarding their intimacy and sexuality.
Kata Kunci : critical discourse analysis,intimacy,sexuality,autistic people