China's COVID-19 Governance Through the Lens of Biopolitics
Alika Wara Dewanti, Prof. Dr. Nur Rachmat Yuliantoro
2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan InternasionalSeiring dengan modernisasi dan globalisasi, dunia terpapar berbagai penyakit yang dapat mengancam kesehatan publik. Pandemi COVID-19, yang bermula di Tiongkok, adalah salah satu contoh penyakit yang dianggap sebagai krisis kesehatan global karena penyebarannya yang cepat ke seluruh dunia. Tiongkok kemudian mengembangkan berbagai strategi untuk memerangi pandemi ini, yang dapat dijelaskan dengan menggunakan pemikiran filsuf Prancis Michel Foucault. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana penerapan strategi COVID-19 Tiongkok dapat dijelaskan melalui konsep biopolitik dan panoptisme melalui kebijakan Nol-COVID Tiongkok, yang terintegrasi dengan Sistem Kredit Sosial negara. Kerangka kerja ini mencoba menjelaskan bagaimana pemerintahan modern menempatkan populasi sebagai pusat agenda politik, dibantu dengan sistem pengawasan untuk memastikan kepatuhan. Namun, penelitian ini menemukan bahwa menggunakan kerangka pemikiran Foucault saja tidak sepenuhnya mampu menjelaskan strategi COVID-19 Tiongkok, karena tidak sepenuhnya selaras dengan kepentingan nasionalnya berdasarkan keyakinan dan budaya negara tersebut. Oleh karena itu, studi ini menyoroti bagaimana konsep Foucault bisa diterapkan ke pemerintah negara otoriter seperti Tiongkok, baik kegunaan dan keterbatasannya.
As we move into modernisation and globalisation, the world is exposed to different diseases that could be deadly and dangerous for our citizens. The COVID-19 pandemic, which originated in China, exemplifies a disease that was recognized as a global health crisis due to its rapid worldwide spread. To combat this pandemic, China developed multiple strategies, including an intensive combination and application of health policy and surveillance, all of which can be analysed using the thinking of the French philosopher Michel Foucault. This study examines how China’s pandemic strategy can be explored through Foucault’s concepts of biopolitics and panopticism. This framework explains how modern governance puts the population at the centre of the political agenda, supported by a surveillance system to ensure compliance. Although biopolitics and panopticism are evident in China’s Zero-COVID policy, which was integrated with the country’s Social Credit System (SCS), the author found that Foucault alone cannot fully account for China’s strategies, as they do not fully align with the country’s political and cultural context. Therefore, this study highlights the usefulness and limitations of applying Foucault's analytical framework to an authoritarian government such as China.
Kata Kunci : China; Michel Foucault; COVID-19; Biopolitics; Panopticism.