Laporkan Masalah

Dokter Indonesia: Antara Kesadaran Kebangsaan dan Produksi Pengetahuan, Bagi Kesehatan Rakyat, 1920-1960an

Baha Uddin, Prof. Dr. Bambang Purwanto, M.A. dan Prof. Dr. Mutiah Amini, M. Hum.

2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keberadaan unik profesi dokter pada masa kolonial Belanda. Pada satu sisi mereka mendapatkan pendidikan Barat, pekerjaan sebagai pegawai pemerintah, dan menjadi bagian dari sistem kesehatan nasional. Namun pada sisi yang lain, mereka tetap pribumi yang mendapatkan tindakan ketidakadilan terstruktur yaitu diskriminatif dan rasis dari pemerintah kolonial. Kondisi inilah yang mendorong dokter Indonesia menjadi penggerak utama pergerakan kebangsaan Indonesia pada awal abad ke-20, mendirikan organisasi profesi untuk kesetaraan kedudukan sosial, menggunakan Volksraad sebagai alat mengkritik kebijakan pemerintah, dan menggunakan jurnal kedokteran untuk membuktikan kompetensi akademiknya. Permasalahan utama penelitian ini adalah perubahan dan keberlanjutan posisi, daya tawar, dan relasi kuasa dokter Indonesia sebagai agen dalam struktur negara kolonial dan negara nasional.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode sejarah. Pada proses heuristik dikumpulkan berbagai sumber baik primer maupun sekunder yang disimpan di lembaga-lembaga terpercaya, seperti ANRI, Koninkelijke Bibliotheek, WHO, KITLV, Perpustakaan Nasional RI dan sebagainya. Beragamnya sumber yang digunakan cukup memudahkan untuk mendapatkan fakta historis dengan melakukan triangulasi atas data yang didapatkan dari berbagai sumber tersebut. Dari fakta historis inilah kemudian disusun narasi dan analisis terhadap peristiwa yang berhubungan dengan tema penelitian ini.

Penelitian ini berhasil mengungkap bahwa profesi dokter Indonesia mengalami transformasi dari dokter kolonial pada masa Hindia Belanda menjadi dokter nasional pada masa pasca kemerdekaan. Posisi mereka juga mengalami pergeseran dari marginal pada masa kolonial menjadi utama pada masa pasca kemerdekaan. Merekalah yang menjadi pemain utama ketika terjadi dekolonialisasi sistem kesehatan Indonesia pada pasca kemerdekaan, baik pada pendidikan, infrastruktur kesehatan, lembaga negara, sumber daya manusia, hingga berpuncak pada landasan hukumnya. Sementara pada aspek profesi, dekolonialisasi ini mencakup tiga aspek yaitu epistemiologis, struktural, dan identitas.

This research is motivated by the unique position of doctors during the Dutch colonial period. On the one hand, they received a Western education, worked as government employees, and were part of the national health system. On the other hand, they remained indigenous people who suffered structured injustice in the form of discrimination and racism from the colonial government. These conditions encouraged Indonesian doctors to become the main drivers of the Indonesian national movement in the early 20th century, establishing professional organizations for social equality, using the Volksraad as a tool to criticize government policies, and using medical journals to prove their academic competence. The main issue of this research is the change and continuity of the position, bargaining power, and power relations of Indonesian doctors as agents in the colonial and national state structures.

The research method used is the historical method. In the heuristic process, various primary and secondary sources stored in reliable institutions, such as ANRI, Koninkelijke Bibliotheek, WHO, KITLV, National Library of Republik Indonesia and so on, were collected. The diversity of sources used made it quite easy to obtain historical facts by triangulating the data obtained from these various sources. From these historical facts, a narrative and analysis of events related to the theme of this study were then compiled.

This research successfully reveals that the Indonesian medical profession transformed colonial doctors during the Dutch East Indies period into national doctors in the post-independence era. Their position also shifted from being marginal during the colonial period to being central in the post-independence era. They were the main players in the decolonization of Indonesia's health system after independence, in terms of education, health infrastructure, state institutions, human resources, and ultimately the legal basis. Meanwhile, in terms of the profession, this decolonization covered three aspects, namely epistemological, structural, and identity.

Kata Kunci : Dokter Indonesia, Diskriminasi, Dekolonialisasi, Transformasi

  1. S3-2026-453409-abstract.pdf  
  2. S3-2026-453409-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-453409-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-453409-title.pdf