Laporkan Masalah

Analisis Komparatif Penerjemahan Istilah Budaya Pada Takarir Dan Sulih Suara Bahasa Indonesia di Dalam Film Animasi Bahasa Jepang

Iqrodatul Mualifatul Ummah Zamrotin, Drs. Tatang Hariri, M.A., Ph.D.

2026 | Tesis | S2 Linguistik

Penelitian ini bertujuan mengkaji penerjemahan istilah budaya dalam takarir dan sulih suara bahasa Indonesia pada film animasi Studio Ghibli serta implikasinya terhadap kesepadanan makna. Fokus penelitian diarahkan pada klasifikasi istilah budaya dan perbandingan strategi penerjemahan yang digunakan dalam dua mode penerjemahan audiovisual, yaitu takarir dan sulih suara. Data penelitian berupa istilah budaya yang diambil dari dialog film animasi Studio Ghibli yang tersedia di platform Netflix, dengan bahasa Jepang sebagai bahasa sumber dan bahasa Indonesia sebagai bahasa sasaran.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan analisis data yang mengacu pada klasifikasi istilah budaya serta teori kesepadanan formal dan dinamis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa istilah budaya dalam film animasi Studio Ghibli dapat diklasifikasikan ke dalam lima kategori, yaitu ekologi, budaya material, sosial budaya, organisasi/kebiasaan/konsep kepercayaan, serta gerak tubuh dan kebiasaan. Dari keseluruhan data, kategori budaya material dan konsep kepercayaan merupakan kategori yang paling dominan.

Hasil perbandingan penerjemahan menunjukkan bahwa takarir cenderung menerapkan kesepadanan formal dengan mempertahankan makna leksikal dan referensial bahasa sumber, khususnya pada istilah budaya yang bersifat universal. Sebaliknya, sulih suara lebih dominan menerapkan kesepadanan dinamis melalui penyesuaian makna demi keterpahaman audiens bahasa sasaran. Perbedaan strategi tersebut berimplikasi pada tingkat keterwakilan budaya Jepang, di mana takarir relatif lebih mempertahankan unsur budaya sumber dibandingkan sulih suara.

This study aims to examine the translation of cultural terms in Indonesian takarirs and sulih suara of Studio Ghibli animated films and their implications for meaning equivalence. The study focuses on the classification of cultural terms and the comparison of translation strategies employed in two modes of audiovisual translation, namely subtitling and sulih suara. The research data consist of cultural terms identified from the dialogues of Studio Ghibli animated films available on the Netflix platform, with Japanese as the source language and Indonesian as the target language.

This research adopts a descriptive qualitative approach. Data analysis is conducted by referring to the classification of cultural terms and the theories of formal and dynamic equivalence. The findings indicate that cultural terms in Studio Ghibli animated films can be classified into five categories: ecology, material culture, social culture, organizations/customs/concepts of belief, and gestures and habits. Among these categories, material culture and belief-related concepts are the most dominant.

The comparative analysis reveals that subtitling tends to employ formal equivalence by maintaining the lexical and referential meanings of the source language, particularly for culturally universal terms. In contrast, sulih suara predominantly applies dynamic equivalence by adapting meanings to enhance target audience comprehension. These differences in translation strategies affect the degree of Japanese cultural representation in the target language, with takarirs preserving source culture elements more extensively than sulih suara.

Kata Kunci : penerjemahan audiovisual, istilah budaya, kesepadanan, takarir, sulih suara, Studio Ghibli

  1. S2-2026-490409-abstract.pdf  
  2. S2-2026-490409-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-490409-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-490409-title.pdf