PEMBERDAYAAN UNTUK MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN EKONOMI DIFABEL MELALUI PROGRAM INKLUPRENEUR DI YAYASAN PINILIH SEDAYU, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Kenya Azzahra Prameswari, Dr. Silverius Djuni Prihatin, M.si.
2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Difabel terpinggirkan dari akses terhadap pekerjaan, partisipasi sosial, serta kesempatan untuk mengembangkan kapasitas diri. Stigma negatif yang melekat tidak hanya menghambat produktivitas kehidupan sehari-hari, tetapi juga mempersempit ruang bagi difabel untuk mencapai kemandirian ekonomi. Tingginya prevalensi penyandang disabilitas di Daerah Istimewa Yogyakarta hingga 2,05% (BPS, 2024) membawa DIY menjadi Provinsi dengan angka prevalensi disabilitas tertinggi di Indonesia yang semakin menegaskan urgensi penyediaan program pemberdayaan yang adaptif dan inklusif. Salah satu upaya tersebut diwujudkan melalui Program Inklupreneur yang diselenggarakan oleh Yayasan Pinilih Sedayu sebagai alternatif ruang pemberdayaan untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian ekonomi difabel.
Kerangka analisis penelitian ini merujuk pada teori pemberdayaan Zimmerman (1995) sebagai landasan utama untuk menganalisis pemenuhan Intrapersonal, Interactional, dan Behavioral Component peserta difabel dalam setiap tahapan pemberdayaan. Selain itu, penelitian ini menggunakan konsep tahapan pemberdayaan Sulistyani (2004) untuk mengkaji proses pemberdayaan yang dilaksanakan dalam Program Inklupreneur, serta konsep kemandirian Steinberg (2002) untuk menganalisis hasil pemberdayaan yang dielaborasikan dalam konteks kemandirian bagi difabel.
Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan tahapan pemberdayaan dalam Program Inklupreneur serta bentuk kemandirian yang dihasilkan. Penelitian melibatkan 12 informan yang dilakukan dengan purposive sampling, terdiri dari Ketua Yayasan, peserta difabel, dan pendamping program. Teknik pengumpulan data meliputi observasi, wawancara, dan dokumentasi, sedangkan analisis data dilakukan melalui tahapan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, triangulasi, serta penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan pemberdayaan dalam Program Inklupreneur dilaksanakan secara berurutan melalui berbagai penyesuaian kondisi dan kebutuhan peserta difabel, antara lain melalui penyesuaian penyediaan sarana dan prasarana dan penyesuaian strategi pendampingan. Lebih lanjut, tahapan pemberdayaan Inklupreneur tidak hanya mengantarkan peserta difabel pada kemandirian sikap dan perilaku, tetapi juga kemandiirian dalam mengelola aspek ekonomi. Namun demikian, kemandirian ekonomi peserta difabel belum tercapai secara utuh karena belum adanya wadah penjualan produk yang tetap sehingga penjualan masih dilakukan by order dan bergantung pada event tertentu. Dengan demikian keberlanjutan pendapatan harus dicapai agar difabel di Program Inklupreneur dapat mencapai kemandirian ekonomi secara utuh.
Persons with disabilities are often marginalized from access to employment, social participation, and opportunities to develop their capacities. The negative stigma attached to disability not only hinders daily productivity but also narrows opportunities for persons with disabilities to achieve economic independence. The high prevalence of persons with disabilities in the Special Region of Yogyakarta, reaching 2.05% (BPS, 2024), has positioned the region as the province with the highest disability prevalence in Indonesia, further emphasizing the urgency of providing adaptive and inclusive empowerment programs. One such initiative is the Inklupreneur Program organized by Yayasan Pinilih Sedayu, which serves as an alternative empowerment space to enhance the capacity and economic independence of persons with disabilities.
The analytical framework of this study is based on Zimmerman’s empowerment theory (1995) as the primary foundation to analyze the fulfillment of intrapersonal, interactional, and behavioral components of participants with disabilities at each stage of empowerment. In addition, this study applies Sulistyani’s empowerment stages concept (2004) to examine the empowerment process implemented in the Inklupreneur Program, as well as Steinberg’s concept of independence (2002) to analyze the outcomes of empowerment as elaborated within the context of independence for persons with disabilities.
This study employs a qualitative method with a descriptive approach to depict the stages of empowerment within the Inklupreneur Program and the forms of independence produced. The research involved 12 informants selected through purposive sampling, consisting of the foundation’s chairperson, participants with disabilities, and program facilitators. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation, while data analysis was conducted through data collection, data reduction, data presentation, triangulation, and conclusion drawing.
The findings indicate that the empowerment stages in the Inklupreneur Program are implemented sequentially through various adjustments to the conditions and needs of participants with disabilities, including adjustments in the provision of facilities and infrastructure as well as in mentoring strategies. Furthermore, the Inklupreneur empowerment stages not only lead participants toward attitudinal and behavioral independence but also toward independence in managing economic aspects. However, the economic independence of participants has not yet been fully achieved due to the absence of a permanent product marketing platform, resulting in sales being conducted on a by-order basis and depending on certain events. Therefore, income sustainability remains a crucial requirement for participants in the Inklupreneur Program to achieve full economic independence.
Kata Kunci : Pemberdayaan Difabel, Tahapan Pemberdayaan, Kemandirian Ekonomi.