Pemberdayaan Kelompok Keluarga Berencana (KB) Pria Satriyo Widodo dalam Peningkatan Penggunaan Kontrasepsi Pria di Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman
Faikoh Manihatul Adzkiya, Kafa Abdallah Kafaa, S.Sos., M.A.
2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Rendahnya partisipasi pria dalam penggunaan kontrasepsi masih menjadi tantangan utama dalam pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB) di Indonesia. Kondisi tersebut menyebabkan beban penggunaan alat kontrasepsi lebih banyak ditanggung oleh wanita sehingga berdampak pada kesehatan reproduksi serta kesejahteraan fisik dan mental. Berangkat dari permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan konsep pemberdayaan masyarakat Wrihatnolo dan Dwidjowijoto serta Teori Difusi Inovasi Everett M. Rogers untuk menganalisis pemberdayaan Kelompok KB pria Satriyo Widodo dalam meningkatkan penggunaan kontrasepsi pria di Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi dengan teknik purposive sampling yang melibatkan lima kelompok informan, yaitu anggota kelompok KB pria, penyuluh KB, pemerintah kalurahan, akseptor KB pria, dan keluarga akseptor.
Hasil penelitian menunjukkan pemberdayaan oleh Kelompok KB Pria Satriyo Widodo telah berhasil menciptakan transformasi dalam upaya peningkatan penggunaan kontrasepsi pria di Kalurahan Widodomartani. Tahap penyadaran dilakukan melalui kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) yang menekankan peran pria dalam program KB melalui inovasi Kartu MESRA, Teng-Teng Crit, dan Pojok Literasi. Tahap pengkapasitasan diwujudkan melalui pelatihan dari BKKBN, Dinas P3AP2KB, serta internal kelompok. Tahap pendayaan tercermin dari pemberian ruang partisipasi, peran aktif anggota sebagai motivator, serta dukungan kelembagaan lintas sektor. Inovasi tersebut mendorong adopsi KB pria, ditandai dengan pergeseran stigma tabu menuju penerimaan sosial dan peningkatan partisipasi pria dalam program KB. Partisipasi pria memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan keluarga, meskipun masih dihadapkan pada keterbatasan anggaran, stigma sosial, rendahnya pendidikan masyarakat, dan keterbatasan kuota layanan KB.
Low male participation in contraceptive use remains a major challenge in the implementation of family planning programs in Indonesia. This situation places the burden of contraceptive use more heavily on women, thereby impacting their reproductive health and physical and mental well-being. Based on this problem, this study uses the concept of community empowerment by Wrihatnolo and Dwidjowijoto and Everett M. Rogers' Theory of Innovation Diffusion to analyze the empowerment of the Satriyo Widodo male KB group in increasing the use of male contraception in Kalurahan Widodomartani, Kapanewon Ngemplak, Sleman Regency.
This study uses a qualitative approach with a case study method. Data collection was conducted through participant observation, in-depth interviews, and documentation using purposive sampling techniques involving five groups of informants, namely members of the Satriyo Widodo Male Family Planning Group, family planning counselors, village officials, male family planning acceptors, and the families of acceptors.
The results of the study show that the empowerment by the Satriyo Widodo Male Family Planning Group has succeeded in creating a transformation in efforts to increase the use of male contraception in Widodomartani Village. The awareness stage was carried out through Communication, Information, and Education (KIE) activities that emphasized the role of men in the family planning program through the innovation of the MESRA Card, Teng-Teng Crit, and the Literacy Corner. The capacity building stage was realized through training from the National Family Planning Agency (BKKBN), the P3AP2KB Office, and internal groups. The empowerment stage was reflected in the provision of space for participation, the active role of members as motivators, and cross-sector institutional support. These innovations encouraged the adoption of male contraception, marked by a shift from taboo stigma to social acceptance and increased male participation in family planning programs. Male participation has a positive impact on family welfare, despite limitations in budget, social stigma, low community education levels, and limited family planning service quotas.
Kata Kunci : Kata Kunci: Pemberdayaan Masyarakat, Keluarga Berencana Pria, Kontrasepsi Pria, Inovasi, Kesejahteraan Keluarga.