Laporkan Masalah

Dinamika Konflik Pengelolaan Blok Rehabilitasi Taman Wisata Alam Gunung Selok Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah

Reza Apriliani, Ir. Kristiani Fajar Wianti, S.Hut., M.Si., IPM.

2025 | Skripsi | KEHUTANAN

Konflik terkait penguasaan sumber daya alam dan lahan di Taman Wisata Alam (TWA) Gunung Selok telah berlangsung selama puluhan tahun dan bermula saat kawasan tersebut masih berada di bawah pengelolaan Perhutani. Masyarakat merambah kawasan yang dianggap sebagai tanah timbul di petak 84a dan 84b untuk dijadikan lahan pertanian. Kemudian, tahun 2014 TWA resmi ditetapkan dan pengelolaannya diberikan kepada BKSDA Jawa Tengah. Tahun 2015, pembagian blok pengelolaan TWA menetapkan lahan pertanian masyarakat sebagai bagian dari blok rehabilitasi. Aktivitas pertanian dalam kawasan dapat menjadi ancaman bagi pencapaian visi dan misi TWA. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk memahami dinamika konfliknya dengan menguraikan sejarah pengelolaan TWA, peran dan perilaku aktor konflik, serta isu dan akar permasalahannya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara mendalam, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Pemilihan informan mengacu pada kronologi konflik dan relevansi posisi atau peran mereka terhadap fokus masalah. Analisis data dilakukan dengan tiga aktivitas, yaitu kondensasi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Sedangkan analisis konfliknya menggunakan pemetaan konflik milik Bartos dan Wehr. 

Hasil penelitian menunjukkan dinamika konflik dimulai sejak tahun 1998 sampai saat ini telah melibatkan banyak pihak, yaitu masyarakat, pengelola kawasan, LSM, investor swasta dan aparatur pemerintah lintas tingkat dari desa sampai provinsi. Sengketa lahan menjadi isu utama, dipicu oleh ketergantungan ekonomi masyarakat, ketidaktuntasan pengelolaan konflik di masa lalu, serta ketegangan relasi antar aktor konflik. Konflik berdampak pada efektivitas pengelolaan TWA dan membutuhkan penyelesaian yang melibatkan koordinasi serta partisipasi aktif dari berbagai pihak lintas sektor dan kelembagaan.


Conflicts related to the control of natural resources and land in the Gunung Selok Nature Tourism Park (TWA) have been going on for decades and began when the area was still under the management of Perhutani. The community encroached on the area that was considered as aanslibbing in plots 84a and 84b to be used as agricultural land. Then, in 2014 TWA was officially established and its management was given to the Central Java BKSDA. In 2015, the division of the TWA management block determined the community's agricultural land as part of the rehabilitation block. Agricultural activities in the region can be a threat to the achievement of TWA's vision and mission. For this reason, this study aims to understand the dynamics of conflict by describing the history of TWA management, the role and behavior of conflict actors, as well as the issues and root problems.

This study uses a qualitative approach with a case study method. Data collection was carried out by in-depth interview techniques, participant observation, and documentation studies. The selection of informants refers to the chronology of the conflict and the relevance of their position or role to the focus of the problem. Data analysis is carried out with three activities, namely data condensation, data presentation, and conclusion drawn. Meanwhile, the conflict analysis uses conflict mapping belonging to Bartos and Wehr. 

The results of the study show that the dynamics of the conflict starting in 1998 until now have involved many parties, namely the community, regional managers, NGOs, private investors and government officials across levels from villages to provinces. Land disputes are a major issue, triggered by the economic dependence of the community, the incompleteness of conflict management in the past, and the tension in relations between conflict actors. Conflicts have an impact on the effectiveness of TWA management and require resolution that involves coordination and active participation from various parties across sectors and institutions.


Kata Kunci : Konflik Tenurial, Pemetaan Konflik, Tanah Timbul, Taman Wisata Alam Gunung Selok

  1. S1-2025-439092-abstract.pdf  
  2. S1-2025-439092-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-439092-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-439092-title.pdf