Perbedaan Pemaknaan Kesejahteraan pada Guru Honorer Berdasarkan Status Pernikahan: Pendekatan Elisitasi Foto
Syifa Syahadatina, Bahruddin, S.Sos., M.Sc., Ph.D.
2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Kesejahteraan guru honorer ditandai oleh kepuasan batin sebagai pendidik sekaligus kerentanan struktural akibat rendahnya penghasilan dan ketidakpastian kerja. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana status pernikahan membentuk pemaknaan kesejahteraan guru honorer melalui pendekatan elisitasi foto. Pendekatan ini digunakan untuk menggali pengalaman keseharian guru honorer melalui dokumentasi visual dan narasi reflektif informan. Informan terdiri dari dua belas guru honorer yang dipilih secara purposive berdasarkan status pernikahan dan konteks wilayah. Data dikumpulkan melalui foto aktivitas selama satu minggu, wawancara elisitasi foto, dan observasi, kemudian dianalisis secara tematik dengan merujuk pada kerangka WHOQoL-BREF yang mencakup dimensi fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa status pernikahan berfungsi sebagai struktur sosial yang membentuk distribusi peran, beban tanggung jawab, dan kapasitas pemulihan kesejahteraan. Guru honorer yang sudah menikah mengalami tekanan kesejahteraan yang lebih besar akibat ketimpangan peran sosial berbasis gender, di mana perempuan menghadapi beban profesional dan domestik secara bersamaan, sementara laki-laki menanggung beban kerja berlapis melalui pekerjaan utama dan sampingan. Sebaliknya, guru honorer yang belum menikah memiliki fleksibilitas waktu dan relasi sosial yang lebih luas, sehingga mampu mengelola pemulihan kesejahteraan secara lebih adaptif meskipun berada dalam kondisi kerja yang sama-sama rentan.
Pemaknaan kesejahteraan juga dipengaruhi oleh pembagian waktu antara weekdays dan weekend, sistem matrilineal Minangkabau, serta struktur wilayah jasa dan pertanian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kesejahteraan guru honorer merupakan pengalaman sosial yang dibentuk oleh interaksi antara status pernikahan, struktur budaya, dan konteks wilayah. Pendekatan elisitasi foto memberikan kontribusi dalam mengungkap makna kesejahteraan secara reflektif dan kontekstual.
The well-being of honorary teachers is characterized by intrinsic satisfaction derived from their role as educators, alongside structural vulnerability resulting from low income and job insecurity. This study aims to analyze how marital status influences the perception of well-being among honorary teachers using a photo elicitation approach. This approach is employed to explore their everyday experiences through visual documentation and reflective narratives provided by the participants. The informants consist of twelve honorary teachers selected purposively based on marital status and regional context. Data were collected through one-week activity photo documentation, photo elicitation interviews, and observation. They were analyzed thematically using the WHOQoL-BREF framework, which encompasses physical, psychological, social relationship, and environmental dimensions.
The findings indicate that marital status functions as a social structure that shapes the distribution of roles, responsibilities, and the capacity for recovery of well-being. Married honorary teachers experience greater welfare pressures due to gender-based inequalities in social roles, where women simultaneously bear professional and domestic responsibilities, while men carry layered work burdens through both their primary and secondary jobs. In contrast, unmarried honorary teachers have greater time flexibility and broader social relationships, enabling them to manage well-being recovery more adaptively despite facing similarly precarious working conditions.
The meaning of well-being is also influenced by the division of time between weekdays and weekends, the Minangkabau matrilineal system, and the structural characteristics of service-based and agricultural regions. This study concludes that the well-being of honorary teachers constitutes a social experience shaped by the interaction between marital status, cultural structures, and regional context. The photo elicitation approach contributes to revealing the meaning of well-being reflectively and contextually.
Kata Kunci : Kesejahteraan, Guru honorer, Status pernikahan, Elisitasi foto