Pusat Rehabilitasu Mental Remaja Berbasis Terapi Seni Dengan Pendekatan Therapeutic Architecture di Kota Bandung
CHARRELLE GABRIELLE CAISSA LIBRIA TEGUH, Dr. Eng. Agus Hariyadi, ST, M.Sc.
2026 | Skripsi | ARSITEKTUR
Gangguan mental merupakan salah satu penyakit yang pengidapnya sedang meningkat. Gangguan mental dialami tidak hanya orang dewasa tetapi bisa dari segala kalangan umur. Penelitian menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya kasus remaja bunuh diri di Indonesia. Remaja berada pada umur krusial karena umur 13-18 tahun merupakan umur berkembangnya fisik dan psikis seseorang.
Kota Bandung merupakan salah satu kota dengan prevalensi gangguan mental yang meningkat tinggi. Mengingat bahwa tidak adanya pusat rehabilitasi mental remaja di Ibu Kota Jawa Barat ini membuat pentingnya dirancang fasilitas pusat rehabilitasi mental di kota ini. Perancangan ini dirancang dengan harapan bisa menurunkan angka pengidap gangguan mental pada remaja.
Remaja memiliki kondisi emosional yang berbeda dengan orang dewasa sehingga dibutuhkan suatu cara untuk bisa mengrehabilitasi remaja dengan gangguan mental. Salah satu caranya adalah dengan terapi seni. Menurut penelitian, terapi seni dapat membantu menyembuhkan gangguan mental karena pendekatannya yang tidak terkesan menyudutkan ataupun menakutkan. Theurapeutic architecture adalah sebuah pendekatan yang cocok untuk pusat rehabilitasi mental karena memiliki tujuan yang sama yaitu dengan merancang sebuah desain yang bisa membantu proses penyembuhan pada penderita gangguan mental. Pendekatan ini tidak hanya bisa membantu penyembuhan psikis tetapi fisik juga.
Mental disorders are one of the diseases that are on the rise. Mental disorders are not only experienced by adults but also by people of all ages. Research shows that one in three adolescents in Indonesia experience mental health problems. This can be proven by the many cases of teenage suicide in Indonesia. Adolescents are at a crucial age because the age of 13-18 years is the age of physical and psychological development of a person.
Bandung is one of the cities with a high prevalence of mental disorders. Given that there is no youth mental rehabilitation center in the capital city of West Java, it is important to design a mental rehabilitation center facility in this city.This design is designed with the hope of reducing the number of people with mental disorders in adolescents.
Adolescents have different emotional conditions from adults so that a way is needed to be able to rehabilitate adolescents with mental disorders. One of the ways is through art therapy. According to research, art therapy can help cure mental disorders because its approach does not seem corny or scary. Theurapeutic architecture is a suitable approach for mental rehabilitationcenters because it has the same goal of designing a design that can help the healing process in people with mental disorders. This approach can not only help psychic healing but physical as well.
Kata Kunci : Gangguan Mental, Remaja, Terapi Seni, Therapeutic Architecture