Laporkan Masalah

Banjir di Kota Palembang 1932

M. Rafi Pahrezi, Prof. Dr. Bambang Purwanto

2026 | Skripsi | ILMU SEJARAH

Dalam historiografi Indonesia, pembahasan mengenai banjir umumnya kerap meminggirkan pengalaman atau kehidupan sehari-hari masyarakat. Padahal, satu bencana dapat menghasilkan pengalaman yang beragam sehubungan kemajemukan suatu masyarakat. Oleh sebab itu, penelitian membahas banjir di Kota Palembang pada 1932 sebagai fenomena alam sekaligus sosial yang termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Penelitian ini merupakan perpaduan antara studi kepustakaan dan kearsipan, terhadap sumber primer berupa surat kabar, foto, peta, dokumen pemerintah, data curah hujan dan pasang-surut; dan sumber sekunder berupa kajian terdahulu.

Hasilnya penelitian menunjukkan bahwa banjir 1932 menjadi yang terbesar dalam beberapa tahun terakhir waktu itu, disebabkan oleh faktor alam dan diperparah oleh faktor sosial. Faktor-faktor sosial, seperti ketimpangan sosial-ekonomi serta spasial dan perubahan lingkungan kota akibat manusia, meningkatkan kerentanan kelompok tertentu terhadap banjir. Ketimpangan yang berpadu kemajemukan masyarakat perkotaan turut memberagamkan pengalaman, perasaan, dan pemaknaan suatu kelompok terhadap banjir, yang termanifestasikan oleh kehidupan sehari-hari pada aspek ekonomi, lingkungan, hingga sosial-kultural. Aspek-aspek tersebut tidak hanya menunjukkan berbagai perubahan rutinitas keseharian, melainkan juga memperlihatkan sekaligus menegaskan realitas sosial masa kolonial di dalam masyarakat Kota Palembang pada 1930-an.

In Indonesian historiography, flooding is often discussed in ways that sideline the experiences and everyday lives of common people. Yet a single disaster can generate diverse experiences shaped by a society’s social heterogeneity. This study examines the 1932 flood in the city of Palembang as both a natural and a social phenomenon, as experienced in everyday life. It combines a literature review with archival research, using primary sources such as newspapers, photographs, maps, government documents, and data on rainfall and river tides, alongside relevant secondary studies.

The findings suggest that the 1932 flood was among the largest in the preceding years, driven by natural factors and intensified by social ones. Socio-economic and spatial inequalities, together with human-induced changes to the urban environment, heightened the vulnerability of certain groups to flooding. These inequalities, interacting with Palembang’s socially diverse population, shaped different experiences, emotions, and meanings of the flood. Such differences are evident in everyday life, affecting economic conditions, environmental relations, and socio-cultural practices. Rather than merely reflecting disruption, everyday life during the flood also revealed and reinforced existing social realities, including inequality and power relations, that structured colonial Palembang society in the 1930s.

Kata Kunci : banjir, kehidupan sehari-hari, masyarakat perkotaan, Palembang, ketimpangan, fenomena sosial dan alam/flood, everyday life, urban society, Palembang, inequality, socio-environmental phenomenon

  1. S1-2026-476846-abstract.pdf  
  2. S1-2026-476846-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-476846-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-476846-title.pdf