Laporkan Masalah

Mobilisasi dan Partisipasi: Dana Perjuangan pada Masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia di Jawa Tengah, 1945-1950

Julianto Ibrahim, Prof. Dr. Bambang Purwanto, M.A. ; Dr. Abdul Wahid, M.Phil.

2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora

Fokus Kajian disertasi ini adalah upaya negara Indonesia dalam memobilisasi pengumpulan dana pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia dengan melibatkan partisipasi dari masyarakat di Jawa Tengah. Dengan menggunakan sumber-sumber primer berupa arsip-arsip kementerian  periode revolusi, arsip Bank Indonesia, Bank Nasional Indonesia (BNI), Djogja Documenten, dan  koran-koran sezaman baik lokal maupun terbitan Belanda, penelitian ini berupaya menjawab pertanyaan utama yaitu struktur dan sistem mobilisasi serta partisipasi seperti apa yang dilakukan oleh negara maupun masyarakat dalam mengumpulkan dukungan finasial untuk membiayai  perjuangan di Jawa Tengah pada masa revolusi.

Hasil penelitian membuktikan bahwa Mobilisasi dan partisipasi dalam mengumpulkan dana perjuangan berperan penting dalam mempertahankan eksistensi negara Indonesia dan menggagalkan upaya Belanda dalam melakukan rekolonisasi dan rekolonialisasi atas Indonesia. Mobilisasi pengumpulan dana dilakukan oleh negara dengan bantuan partisipasi dari masyarakat.  Dalam konteks partisipasi, masyarakat dapat menyumbang uang maupun barang, tetapi dapat juga berperan aktif melakukan mobilisasi pengumpulan dana.  Hal ini disebabkan bahwa mobilisasi dan partisipasi itu setara, bagaikan dua sisi mata uang yang satu sisi tidak bisa meninggalkan sisi yang lain.

Pada masa awal revolusi, mobilisasi pengumpulan dana hanya dapat dilakukan oleh negara. Wujud mobilisasinya adalah  penyelenggaraan Fonds Kemerdekaan Indonesia dan Fonds Nasional Indonesia, Pinjaman Nasional, Undian Uang Negara, perdagangan dan penyelundupan opium, serta pengumpulan padi. Pada periode agresi militer Belanda I tanggal 21 Juli 1947 hingga agresi militer Belanda II tanggal 19 Desember 1948, masyarakat sipil bersenjata berinisiatif melakukan mobilisasi pengumpulan dana, seperti  pertunjukan dan pertandingan amal, pasar malam atau pasar derma, dan aksi-aksi banditisme di daerah pendudukan. Setelah agresi militer Belanda II, masyarakat desa ikut memobilisasi pengumpulan dana dengan menyelenggarakan dapur umum, mengumpulkan bahan makanan dari pasar-pasar, dan menjadikan rumah-rumah mereka sebagai markas dari para pejuang. 

The primary focus of this dissertation is the strategy employed by the nascent Indonesian state to mobilize and collect financial resources during the Indonesian independence revolution, specifically analyzing the participation dynamics of the populace in Central Java. Drawing upon an extensive collection of primary sources—including ministerial archives from the revolutionary period, central bank records from Bank Indonesia and Bank Nasional Indonesia (BNI), the Djogja Documenten, and contemporaneous local and Dutch-published newspapers—this research seeks to address the central question: What were the structures, systems, and mechanisms of mobilization and participation implemented by both the state and the society in Central Java to amass financial support for the national struggle during the revolutionary period?

The findings demonstrate that mobilization and participation in accumulating revolutionary funds were paramount to sustaining the Indonesian state's existence and ultimately thwarted Dutch efforts towards recolonization and re-colonialization of the archipelago. Financial mobilization was executed by the state apparatus, yet its success was predicated upon the active participation of the society. In this context of participation, the public was not only able to donate money or goods, but also actively engaged in the mobilization process itself. This underscores that mobilization and participation were two sides of the same sovereign coin—each side cannot exist without the other.

In the early days of the revolution, mobilization of funds could only be done by the state. This mobilization took the form of the establishment of the Fonds Kemerdekaan Indonesia and the Fonds Nasional Indonesia, Pinjaman Nasional, Undian Uang Negara, opium trade and smuggling, and rice or paddy collection. In the period from the first Dutch military aggression on 21 July 1947 to the second Dutch military aggression on 19 December 1948, armed civilians took the initiative to mobilize fundraising, such as charity performances and matches, night markets or charity markets, and acts of banditry in occupied areas. After the second Dutch military aggression, villagers mobilized to raise funds by organizing public kitchens, collecting foodstuffs from markets, and turning their houses into headquarters for the fighters. 

Kata Kunci : Mobilization; participation; funds; struggle; revolution; and Central Java.

  1. S3-2026-453411-abstract.pdf  
  2. S3-2026-453411-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-453411-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-453411-title.pdf