Pengaruh Perubahan Iklim terhadap Kuantitas Produksi Pertanian di Asean-5
FAUZIA HAYUNING TRISNA, Amirullah Setya Hardi, S.E., Cand.Oecon., Ph.D.
2026 | Skripsi | ILMU EKONOMI
Perubahan iklim menjadi tantangan serius bagi
sektor pertanian, khususnya di kawasan Asia Tenggara yang sebagian besar
perekonomiannya masih bergantung pada sektor ini. Peningkatan suhu dan
perubahan pola curah hujan berpotensi memengaruhi kuantitas produksi pertanian.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor iklim dan faktor
produksi terhadap kuantitas produksi pertanian di ASEAN-5 (Indonesia, Malaysia,
Thailand, Filipina, dan Vietnam) selama periode 1995-2022. Metode yang
digunakan adalah panel Autoregressive Distributed Lag (ARDL) dengan pendekatan
Pooled Mean Group (PMG) untuk mengestimasi hubungan jangka pendek dan jangka
panjang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam jangka panjang, peningkatan
temperatur berpengaruh negatif dan signifikan terhadap kuantitas produksi
pertanian, sedangkan curah hujan tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan.
Faktor produksi berupa luas lahan pertanian dan produktivitas tenaga kerja
berpengaruh positif dan signifikan terhadap produksi pertanian, sementara modal
pertanian menunjukkan pengaruh negatif dan signifikan dalam jangka panjang
serta tidak signifikan dalam jangka pendek. Secara keseluruhan, hasil
penelitian ini menegaskan bahwa produksi pertanian di ASEAN-5 sangat
dipengaruhi oleh temperatur iklim dan masih sangat bergantung pada faktor
produksi konvensional yang bersifat padat karya.
Climate change has become a major challenge for
the agricultural sector in Southeast Asia, where many economies still rely
heavily on agriculture. Rising temperatures and increasing uncertainty in
rainfall patterns may affect agricultural production in the region. This study
examines how climate factors and production input influence agricultural output
in ASEAN-5 countries (Indonesia, Malaysia, Thailand, the Philippines, and
Vietnam) between 1995 and 2022. The analysis uses a panel Autoregressive Distributed
Lag (ARDL) model with the Pooled Mean Group (PMG) approach to analyze both
short-run and long-run relationships among variables. The findings show that
higher temperatures are associated with a decline in agricultural output in the
long run, indicating that warming poses a structural challenge to agricultural
production in ASEAN-5. In contrast, rainfall does not have a clear or
consistent effect on output. Production factors such as agricultural land and
labor productivity are found to increase agricultural output, meanwhile
agricultural capital shows a negative and significant effect in the long run
and is not significant in the short run, indicating that the agricultural
sector in ASEAN-5 still depends largely on traditional production inputs.
Overall, this study highlights that agricultural production in ASEAN-5 is
sensitive to rising temperatures and remains largely dependent on traditional,
labor-intensive production factors.
Kata Kunci : Perubahan Iklim, Produksi Pertanian, ASEAN-5