The Contribution of Cultural Intelligence to Warm Tolerance Among Indonesian Young Adults
Jessica Christy Firdaus, Sutarimah Ampuni, S.Psi., M.Si., MPsych., Ph.D., Psikolog
2026 | Skripsi | PSIKOLOGI
Dalam dunia yang semakin terhubung secara global, tidak dapat dipungkiri bahwa manusia akan terpapar dengan berbagai macam individu dan perspektif. Kecerdasan budaya (Cultural Intelligence/CQ) pada seseorang dapat memengaruhi bagaimana mereka beradaptasi dan memandang keberagaman. Selain itu, kecerdasan budaya juga dianggap sebagai salah satu aspek yang dapat membantu individu menjadi lebih toleran dan mudah beradaptasi dalam lingkungan multikultural. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh kecerdasan budaya terhadap toleransi hangat pada dewasa muda di Indonesia. Studi kuantitatif ini menggunakan metode survei daring untuk mengumpulkan data. Kecerdasan budaya diukur menggunakan Cultural Intelligence Scale (CQS), sedangkan toleransi hangat diukur menggunakan Interpersonal Tolerance Scale (IPTS). Berdasarkan respons dari 161 partisipan dewasa muda (Laki-laki = 65, Perempuan = 96), ditemukan adanya korelasi positif yang kuat antara CQ dan toleransi hangat (r = 0,653, p < .001). Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 42,6% varians dalam toleransi hangat dapat dijelaskan oleh kecerdasan budaya, dan koefisien kecerdasan budaya merupakan prediktor yang kuat dan signifikan terhadap toleransi hangat (B = 0,684, p < .001). Hasil ini menjadi indikator bahwa kecerdasan budaya adalah prediktor kuat terhadap toleransi hangat, yang menekankan pentingnya menumbuhkan CQ dalam lingkungan sosial yang beragam.
In this globalized world, it is inevitable that individuals are getting exposed to various people and perspectives. Cultural intelligence (CQ) in a person can influence how they adapt and perceive diversity. Furthermore, cultural intelligence is seen as one of the aspects that can help individuals to become more tolerant and adjust better in multicultural settings. This research was aimed to examine the influence of cultural intelligence on warm tolerance among young adults in Indonesia. This quantitative study employed an online survey method to collect the data. Cultural intelligence was estimated using Cultural Intelligence Scale (CQS), whereas warm tolerance was measured using Interpersonal Tolerance Scale (IPTS). Based on responses from 161 young adult participants (Male = 65, Female = 96), a strong positive correlation between CQ and warm tolerance was found (r = 0.653, p = < .001). Moreover, the result indicated that 42.6% of variance in warm tolerance can be explained by cultural intelligence, and the magnitude of coefficient in cultural intelligence was a strong and significant predictor of warm tolerance (B = 0.684, p < .001). These results become an indicator on how cultural intelligence can become a strong predictor of warm tolerance, which highlights the importance of fostering CQ in diverse social environments.
Kata Kunci : cultural intelligence, diversity, warm tolerance, young adults